Dakwah Nabi Muhammad
SAW dan Para Sahabat di Mekah
1.
Inti Dakwah Rasulullah di Mekah
Agama Islam yang dibawa oleh
Nabi Muhammad SAW adalah penyempurna ajaran yang dibawa oleh rasul sebelumnya.
Inti ajaranya sama, yakni ajaran ketauhidan atau mengesakan Allah.
Yang membedakan hanyalah
pada syariat-syariat tertentu, misalnya salat lima waktu. Sedangkan pada
hukum-hukum yang lain memiliki banyak kesamaan, seperti anjuran berbuat baik
dan meniggalkan perbuatan buruk. Pokok ajaran yang disampaikan ketika Nabi
Muhammad SAW di Mekah berkaiatan dengan keimanan, akhlak, kabar gembira tentang
surga, peringatan adanya siksa neraka, persamaan hak dan martabat manusia.
2.
Strategi Dakwah Rasulullah di Mekah
a.
Disampaikan secara sembunyi-sembunyi
Pada mulanya dakwah Nabi
Muhammad SAW di Mekah dimulai dari sanak keluarga dan kerabat dekat. Itu pun
dilakukan secara sembunyi-sembunyi, di rumah salah seorang sahabat yang bernama
Al-Arqam bin Abil Arqam Al-Makhzumi. Upaya tersebut membuahkan hasil yang cukup
menggembirakan. Kurang lebih tiga tahun ada 39 orang yang menyatakan imandan
Islam, semuanya dari kerabat dekat dan sahabat-sahabat yang lain. Diantara
kerabat dekat yang masuk Islam waktu itu antara lain Khadijah, Ali bin Abi
Thalib, Abu Bakar, Zaid bin Haritsah.
Khadijah, istri nabi, orang
yang cukup terpandang dan kaya raya. Abu Bakar seorang dermawan yang kaya raya.
Ali bin Abi Thalib, seorang pemuda yang cerdas dan dihormati.
Dengan masuk Islamnya
orang-orang tersebut membawa pengaruh besar pada dakwah nabi sampai masa
berikutnya. Karena orang-orang tersebut cukup dihormati dikalangan orang-orang
Quraisy dan mendukung dakwah Islam dengan tenaga, harta, jiwa, dan raga mereka.
Diantara sahabat yang menyusul masuk Islam antara lain Usman bin Affan, Zubair
bin Awwam, Saad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf, Fatimah binti Khattab
serta suaminya (Said bin Zaid), Arqam bin Abil Arqam, Thalhah bin Ubaidillah.
Mereka termasuk “Assabiqunal Awwalun”, yakni
orang-orang yang pertama kali masuk Islam.
b.
Disampaikan dengan hati-hati, sabar, dan menggunakan
bahasa yang halus dan lemah lembut serta mudah dipahami
c.
Disampaikan secara terang-terangan
Cara ini dilakukan
setelah Rasulullah mendapat wahyu dari Allah SWT untuk menyampaikan dakwah
secara terang-terangan, yaitu Q.S. Al-Hijr, ayat 94-95. Dakwah secara
terang-terangan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW mendapat reaksi cukup keras
dari para pemuka dan tokoh Quraisy, antara lain Abu Lahab (Abdul Uzza), Abu
Jahal, Umar ibnu Khattab (sebelum masuk Islam), Uqbah bin Abi Muatih, Aswad bin
Abdi Jaghuts, Hakam bin Abil Ash, Abu Sufyan bin Harb (sebelum masuk Islam),
Ummu Jamil (Istri Abu Lahab).
Reaksi keras yang
dilakukan oleh para tokoh Quraisy tersebut antara lain berupa: ejekan, hinaan, hasutan, ancaman, dan
penganiayaan secara fisik. Hal yang sama juga dilakukan kepada orang-orang
Quraisy sendiri, agar tidak mengikuti seruan Nabi Muhammad. Reaksi yang keras
itu disebabkan anggaan mereka bahwa ajaran yang dibawah Nabi Muhammad SAW
bertentangan dengan kepercayaan dan kebiasaan mereka sehari-hari. Namun,
Rasulullah tetap tabah dan sabar, dakwah pun tetap dijalankan. Bahkan semakin terang-terangan
dan meluas ke wilayah lain.
Menghadapi sikap
Rasulullah tersebut orang-orang Quraisy bertambah marah, bahkan pernah
merencanakan akan melakuakan pembunuhan terhadap Nabi Muhammad. Rencana
tersebut dilakukan menjelang Nabi Muhammad akan hijrah ke Madinah. Atas
pertolongan Allah SWT, waktu itu Nabi selamat dari rencana pembunuhan tersebut.
Kemudian bisa hijrah ke Madinah.
Meskipun Nabi Muhammad
SAW dengan susah payah dalam berdakwah karena mendapat tantangan dari kaum
Quraisy, tetapi makin hari dakwahnya makin didengar orang sehingga makin banyak
pengikutnya.
Sumber: Tim Abdi Guru. 2007. Ayo Belajar Agama Islam untuk SMP kelas VII.
Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal 183-184
No comments:
Post a Comment