Monday, September 24, 2018

Dakwah Nabi Muhammad SAW dan Para Sahabat di Mekah



Dakwah Nabi Muhammad SAW dan Para Sahabat di Mekah

1.      Inti Dakwah Rasulullah di Mekah

Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah penyempurna ajaran yang dibawa oleh rasul sebelumnya. Inti ajaranya sama, yakni ajaran ketauhidan atau mengesakan Allah.

Yang membedakan hanyalah pada syariat-syariat tertentu, misalnya salat lima waktu. Sedangkan pada hukum-hukum yang lain memiliki banyak kesamaan, seperti anjuran berbuat baik dan meniggalkan perbuatan buruk. Pokok ajaran yang disampaikan ketika Nabi Muhammad SAW di Mekah berkaiatan dengan keimanan, akhlak, kabar gembira tentang surga, peringatan adanya siksa neraka, persamaan hak dan martabat manusia.

2.      Strategi Dakwah Rasulullah di Mekah

a.      Disampaikan secara sembunyi-sembunyi

Pada mulanya dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah dimulai dari sanak keluarga dan kerabat dekat. Itu pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi, di rumah salah seorang sahabat yang bernama Al-Arqam bin Abil Arqam Al-Makhzumi. Upaya tersebut membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Kurang lebih tiga tahun ada 39 orang yang menyatakan imandan Islam, semuanya dari kerabat dekat dan sahabat-sahabat yang lain. Diantara kerabat dekat yang masuk Islam waktu itu antara lain Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar, Zaid bin Haritsah.

Khadijah, istri nabi, orang yang cukup terpandang dan kaya raya. Abu Bakar seorang dermawan yang kaya raya. Ali bin Abi Thalib, seorang pemuda yang cerdas dan dihormati.

Dengan masuk Islamnya orang-orang tersebut membawa pengaruh besar pada dakwah nabi sampai masa berikutnya. Karena orang-orang tersebut cukup dihormati dikalangan orang-orang Quraisy dan mendukung dakwah Islam dengan tenaga, harta, jiwa, dan raga mereka. Diantara sahabat yang menyusul masuk Islam antara lain Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf, Fatimah binti Khattab serta suaminya (Said bin Zaid), Arqam bin Abil Arqam, Thalhah bin Ubaidillah. Mereka termasuk “Assabiqunal Awwalun”, yakni orang-orang yang pertama kali masuk Islam.

b.      Disampaikan dengan hati-hati, sabar, dan menggunakan bahasa yang halus dan lemah lembut serta mudah dipahami

c.       Disampaikan secara terang-terangan

Cara ini dilakukan setelah Rasulullah mendapat wahyu dari Allah SWT untuk menyampaikan dakwah secara terang-terangan, yaitu Q.S. Al-Hijr, ayat 94-95. Dakwah secara terang-terangan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW mendapat reaksi cukup keras dari para pemuka dan tokoh Quraisy, antara lain Abu Lahab (Abdul Uzza), Abu Jahal, Umar ibnu Khattab (sebelum masuk Islam), Uqbah bin Abi Muatih, Aswad bin Abdi Jaghuts, Hakam bin Abil Ash, Abu Sufyan bin Harb (sebelum masuk Islam), Ummu Jamil (Istri Abu Lahab).

Reaksi keras yang dilakukan oleh para tokoh Quraisy tersebut antara lain berupa: ejekan, hinaan, hasutan, ancaman, dan penganiayaan secara fisik. Hal yang sama juga dilakukan kepada orang-orang Quraisy sendiri, agar tidak mengikuti seruan Nabi Muhammad. Reaksi yang keras itu disebabkan anggaan mereka bahwa ajaran yang dibawah Nabi Muhammad SAW bertentangan dengan kepercayaan dan kebiasaan mereka sehari-hari. Namun, Rasulullah tetap tabah dan sabar, dakwah pun tetap dijalankan. Bahkan semakin terang-terangan dan meluas ke wilayah lain.

Menghadapi sikap Rasulullah tersebut orang-orang Quraisy bertambah marah, bahkan pernah merencanakan akan melakuakan pembunuhan terhadap Nabi Muhammad. Rencana tersebut dilakukan menjelang Nabi Muhammad akan hijrah ke Madinah. Atas pertolongan Allah SWT, waktu itu Nabi selamat dari rencana pembunuhan tersebut. Kemudian bisa hijrah ke Madinah.

Meskipun Nabi Muhammad SAW dengan susah payah dalam berdakwah karena mendapat tantangan dari kaum Quraisy, tetapi makin hari dakwahnya makin didengar orang sehingga makin banyak pengikutnya.



 Sumber: Tim Abdi Guru. 2007. Ayo Belajar Agama Islam untuk SMP kelas VII. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal 183-184







Friday, September 21, 2018

Sejarah Nabi Muhammad SAW



1.       Situasi Mekah Menjelang Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Menjelang kelahiran Nabi Muhammad situasi masyarakat Mekah dan sekitarnya pada saat itu sedang mengalami zaman kegelapan. Masyarakat Mekah kehilangan kendali, tidak ada panutan yang dapat menuntun ke arah kebaikan, adanya hanyalah kehidupan jahiliyah.

Perilaku masyarakat senantiasa bertentangan dengan nilai-nilai kebaiakan. Tidak ada yang menyembah Allah. Masa itu lebih dikenal dengan masa jahiliayah, yakni masa kebodohan atau kegalapan terhadap kebenaran. Tatanan sosial dan akhlak tidak berjalan semestinya, yang ada hanyalah kehidupan rimba, yang kuat senantiasa menindas yang lemah, kaum wanita menjadi sasaran tindak kejahatan, dan masih banyak lagi pelanggaran-pelanggaran yang terjadi pada masa itu.

Dalam situasi masyarakat semcam itulah Nabi Muhammad dilahirkan dan pada saatnya akan menjadi pemimpin umat yang mampu membawa peradaban manusia kearah kehidupan yang lebih baik dan bermartabat.

Nabi Muhammad Saw adalah keturunan bangsawan Quraisy, ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qusai bin Killab Murrah dari golongan Arab bani Ismail. Ibunya bernama Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf bin Kilab bin Murrah. Dilihat dari silsilah keturunan, antara ayah dan ibu Nabi Muhammad SAW keduanya berasal dari keturunan bangsawan dari kabilah Arab.

Nabi Muhammad SAW dilahirkan dalam keadaan yatim, ayahnya yang bernama Abdullah meniggal dikala Nabi Muhammad SAW dalam dalam kandungan ± 7 bulan. Nabi Muhammmad SAW lahir pada tanggal 12 Rabiulawal tahun gajah atau tanggal 20 April 571 M.

Disebut tahun gajah karena pada saat kelahiran Nabi Muhammad bersamaan dengan peristiwa pemberontakan yang dipimpin oleh Abrahah dengan segenap pasukanya dengan tujuan untuk menghancurkan Kabbah. Pada saat itu Abrahah mengendarai gajah. Sehingga tahun tersebut lebih dikenal dengan tahun gajah. Namun Allah menghadangnya dengan mengirim pasukan burung Ababil untuk menghancurkan pasukan pasukan Abrahah sehingga penyerngan Kabbah mengalami kegagalan, kondisi Kabbah tidak mengalami kerusakan.

2.       Masa Pengasuhan Halimah Sa’diyah

Sudah menjadi kebiasaan bangsawan Arab yang berada di kota Mekah pada saat itu, setelah anaknya lahir disusukan dan dititipkan pengasuhanya kepada orang lain yang tinggal tidak jauh dari kota Mekah, yakni di dusun yang jauh dari kebisingan kota dan memiliki kebiasaan bertutur bahasa yang fasih dan baik, begitu juga Nabi Muhammad SAW pada saat itu juga diserahkan pengasuhanya kepada orang lain yang bernama Halimah Sa’diyah dari bani Saad kabilah Hawazin, tempat tinggalnya tidak jauh dari kota Mekah. Di perkampungan bani Saad inilah Nabi Muhammad di asuh dan dibesarkan sampai berusia 5 tahun.

Selama dalam pengasuhan Halimah Sa’diyah Nabi Muhammad SAW mengalami pertumbuhan yang sangat bagus. Pada usia lima bulan Nabi Muhammad sudah bisa berjalan, pada usia sembilan bulan sudah pandai berbicara dan pada saat berusia dua tahun Nabi Muhammad SAW sudah bisa mengikuti anak-anak Halimah Sa’diyah untuk mengembala kambing.

Setelah lima tahun diasuh oleh Halimah Sa’diyah, Muhammad SAW diserahkan kembali kepada ibunya yang tinggal di Mekah. Setahun kemudian, kira-kira umur enam tahun, nabi Muhammad SAW dibawah ibunya ke Madinah bersama-sama dengan Ummu Aiman (hamba sahaya) dengan maksud untuk menunjukkan makam ayahnya yang telah meniggal sebelum nabi Muhammad SAW dilahirkan. Tinggal di Madinah kira-kira satu bulan, kemudian kembali lagi ke Mekah.

3.       Masa Pengasuhan Abdul Muthalib dan Abu Thalib

Ditengah perjalanan pulang dari Madinah ibu Nabi Muhammad SAW jatuh sakit, dan akhirnya meniggal sebelum sampai Mekah. Jasad beliau dimakamkan di desa Abawa’ yang terletak antara Madinah dan Mekah kurang lebih 23 mil di sebelah selatan Madinah.

Sepeniggal ayah dan ibunya, Nabi Muhammad hidup sebagai yatim piatu, ayahnya meniggal ketika Nabi Muhammad SAW masih dalam kandungan, berikut ditinggal ibunya ketika berusia 6 tahun. Bisa dibayangkan betapa sedih dan nestapanya beliau waktu itu, diusia 6 tahun sudah tidak berayah dan tidak beribu. Sejak itulah kehidupan nabi Muhammad SAW dibawah asuhan saudara-saudaranya, yaitu Abdul Muthalib dan Abu Thalib, beliau adalah kakek dan pamannya.

Abdul Muthalib adalah pemuka Quraisy yang sangat disegani. Dalam pengasuhanya Nabi Muhammad SAW mendapatkan kasih sayang secara cukup karena kakeknya sangat memperhatikan dan menyayanginya. Namun situasi semacam ini tidak berlangsung lama, karena dua tahun kemudian Abdul Muthalib meniggal dunia pada usia 82 tahun. Sepeniggal Abdul Muthalib, Nabi Muhammad diasuh pamanya yang bernama Abu Thalib, waktu itu nabi Muhammad SAW berusia 8 tahun.

4.       Pernikahan dengan Siti Khadijah

Sejak usia anak-anak hingga dewasa Nabi Muhammad memiliki kepribadian yang sangat terpuji. Beliau terkenal cerdas, jujur, berbudi luhur dan mempunyai prilaku yang sangat santun, terpuji dan tekun dalam bekerja. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beliau senantiasa berusaha sendiri dengan bekerja. Beliau adalah pekerja keras, ulet dan tekun.

Memasuki usia 25 tahun beliau bekerja di tempatnya Siti Khadijah untuk membantu berdagang. Siti Khadijah adalah pedagang yang sangat kaya. Sejak awal Siti Khadijah sangat mengagumi Nabi Muhammad, karena kejujuran dan kepribadianya, karena itulah Siti Khadijah berniat untuk menjadikanya suami.

Siti Khadijah saat itu berstatus janda berusia 40 tahun. Ringkas cerita Siti Khadijah melamar Nabi Muhammad SAW dan lamaran diterima, jadilah beliau berdua sebagai suami istri dan dikaruniai 6 orang anak, yaitu: Al Qasim, Abdullah, Zaenab, Ruqayyah, Ummu Kalsum, dan Fatimah. Al Qasim dan Abdullah meniggal semasa masih kecil.

Kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad SAW diliputi kebahagiaan. Kehidupan keluarga Nabi Muhammad menerapkan prinsip hidup sederhana, suka menolong dan membantu orang lain, sehingga masyarakat sekitarnya sangat menghormati dan meneladani keluarga Nabi Muhammad SAW.

5.       Nabi Muhammad SAW Menjadi Rasul

Memasuki usia 40 tahun, Nabi Muhammad SAW sering berkhalwat (berdiam diri dengan merenungkan segala sesuatu dan memohon petunjuk Allah), hal tersebut dilakukan seiring dengan berbagai masalah yang dihadapi, terutama berkaitan dengan situasi masyarakat Mekah pada saat itu.

Dalam berkhalwat Nabi Muhammad SAW lebih sering memilih tempat yang jauh dari keramaian, dengan harapan lebih tenang dan dapat berpikir secara jernih dan lebih khusyuk dalam berzikir kepada Allah. Salah satu tempat yang digunakan untuk berkhalwat adalah di gua Hira ditempat inilah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama kali dari Allah peristiwa tersebut terjadi tanggal 17 Ramadhan bertepatan dengan tanggal 6 Agustus tahun 610 M.

Dalam catatan sejarah diterangkan bahwa ketika Nabi Muhammad sedang berkhalwat di Gua Hira ‘, beliau di datangi Malaikat Jibril dengan membawa wahyu dari Allah dan menyuruh Nabi Muhammad SAW untuk membacanya. Malaikat berkata,”bacalah”. Kemudian beliau menjawab, “aku tidak dapat membaca”, hal tersebut diualang-ulang sampai tiga kali. Nabi Muahammad tetap menjawab,”aku tidak dapat membaca”. Dan akhirnya Nabi bertanya, “apa yang kubaca?” selanjutnya Malaikat Jibril membacakan wahyu Allah tersebut yaitu (QS. Al-Alaq: 1-5).

Setelah Malaikat Jibril membacakan ayat tersebut, lalu Nabi Muhammad SAW menirukanya, sesaat kemudian Malikat Jibril meniggalkan Nabi Muhammad SAW. Denagn diterima wahyu Allah tersebut resmilah Muhammad ditetapkan oleh Allah sebagai rasul yang bertugas menyampaikan risalah kepada umatnya.

Pada saat menerima wahyu yang pertma tersebut usia Nabi Muhammad SAW 40 tahun 6 bulan 8 hari ( menurut perhitungan tahun Masehi), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari (menurut perhitungan tahun Hijriah). Setelah menerima wahyu dari Allah, Nabi Muhammad SAW buru-buru pulang meniggalkan Gua Hira’ dalam keadaan gemetar, sehingga meminta istrinya untuk menyelimuti badannya.



Sumber: Tim Abdi Guru. 2007. Ayo Belajar Agama Islam untuk SMP kelas VII. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal 110-114.  

Islam di Benua Afrika

Islam di Afrika Sejak pada masa Rasulullah SAW, sebenarnya telah ada hubungan baik dengan salah satu raja yang terdapat di benua Af...