Sunday, May 27, 2018

5 Negara Islam



Negara-negara Islam
1.       Brunei Darussalam
Brunei Darussalam adalah sebuah negara kecil yang sangat makmur. Negara ini terletak di bagian utara pulau Borneo (Kalimantan) dan berbatasan dengan Malaysia. Ibukotanya adalah Bandar Seri Begawan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa melayu. Agama resmi di Brunei adalah agama Islam, dengan Sultan Brunei sebagai kepala agama di negara itu.

Silsilah kerajaan Brunei terdapat pada Batu Tarsilah yang dimulai dari Awang Alak Betatar, raja yang mula-mula memeluk agama Islam (1368)sampai kepada Sultan Muhammad Tajudin (Sultan Brunei ke 19 yang memerintah antara 1795-1804).

Pada awal abad ke 15, pengaruh kerajaan Malaka dibawah pemerintahan para meswara mulai menyebar ketika pengaruhnya semakin besar, Malaka kemudian mengambil alih perdagangan Brunei. Perubahan ini menyebabkan agama Islam tersebar luas di wilayah Brunei oleh para pedagangnya pada akhir abad ke-15.

Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada 1511 telah menyebabkan Sultan Brunei mengambil alih kepemimpinan Islam dari Malaka. Kesultanan Brunei pun mencapai zaman kegemilangannya dari abad ke 15 hingga abad ke-17. Saat itu Sultan Brunei memperluas wilyah kekuasaanya ke seluruh pulau Borneo dan ke Filipina di sebelah utaranya.

2.       Kazakstan
Wilayah Republik Kazakstan berbatasan dengan Rusia, Republik Rakyat Tiongkok, Kirgistan, Uzbekistan, Turkimenistan, dan laut Kaspia. Ibu kotanya adalah Astana. Bahasa resminya adalah Kazak dan bahasa Rusia. Bangsa kazak adalah etnik terbesar yang menempati wilayah Kzakstan dan merupakan keturunan dari kabilah Turki dan Mongol.

Pada abad ke -19, bersama kawasan di Asia tengah, penduduk Kazakstan mengenal dan menganut agama Islam. Ketika revolusi komunis menang di Rusia dan Uni Soviet berdiri, sejak 1920 Kazakstan menjadi  salah satu dari lima belas negara yang tergabung dalam Uni Soviet. Seiring dengan bubarnya Uni Soviet, Kazakstan pun memerdekakan diri dan menjadi negara bebentuk republik.

3.       Maroko
Kerajaan Maroko adalah negara di barat laut Afrika yang memeiliki garis pantai dekat samudra Atlantik yang memanajang melewati Selat Gibraltar hingga ke laut tengah. Ibu kotanya adalah Rabat. Bahasa resminya adalah bahasa Arab. Luas wilayah Maroko sekitar 446.550 km2 dan jumlah penduduknya kira-kira 32,7 juta jiwa.

Salah satu keunikan tradisi di Maroko adalah shalat tarwih berjamaah dibagi menjadi dua gelombang. Pertama, setelah shalat Isya, Tarwih dikerjakan delapan rakaat. Kedua, menjelang waktu subuh, dikerjakan delapan rakaat lagi, ditambah tiga rakaat shalat witir. Dan setiap malamnya, menghabiskan satu juz Al- Quran.

4.       Bangladesh
Republik rakyat Bangladesh adalah negara di Asia Selatan yang berbatasan dengan India di sebelah timur laut, Myanmar di tenggara, dan Teluk Benggala di selatan. Ibu kota dan kota terbesar di Bangladesh adalah Dhaka. Bahasa resminya adalah Bengali.Bangladesh merupakan salah satu negara terdapat di dunia dengan jumlah penduduk sekitar 147 juta jiwa. Sebanyak 88% penduduk Bangladesh adalah Muslim.

Idul fitri dan Idul Adha adalah hari raya terbesar dalam kalender Islam. Hari-hari sebelum Idul Fitri disebut Chad Rat(malam bulan) dan sering ditandai dengan mercon. Hari libur Islam lainnya juga diakui.

Tradisi masakan Bangladesh berhubungan erat dengan masakan India dan Timur Tengah yang banyak memiliki sifat unik. Selain itu, masakan mereka juga memiliki kaitan dengan masakan Indonesia yaitu masakan dari Aceh.

5.       Kirghizia
Kirghizia adalah negara yang terletak di Asia Tengah. Negara itu berbatasan dengan Republik Rakyat Cina, Kazakstan, Tajikistan, dan Uzbekistan. Ibu kotanya berada di Bishek (dulunya Frunze). Bahasa resminya adalah Kirghiz dan bahasa Rusia.

Kirghizia adalah negara kecil yang miskin. Luas wilayahnya 198.500 km2 dan bergunung-gunung. Jumlah penduduknya sekitar lima juta jiwa, yang sebagian besar Muslim. Kirghizia merupakan negara penghasil gandum, kentang, gula bit, kapas, wol, tembakau, buah-buahan, daging sapi, dan daging domba.

Orang Kirghiz memilikiaksara sendiri, yang disebut yangsel. Aksara tersebut telah ada sejak abad ke-8. Tetapi, aksara ini kemudian hilang. Setelah mereka memeluk agama Islam, oarang kirghiz pun memekai aksara baru yang berdasar pada sistem alfabet Arab-Persia.













Sumber : Jauzah Maulana, Kumpulan Dongeng Islam Tiga Benua, Dari Mizan (Bandung : 2009)  

Wednesday, May 9, 2018

Sejarah Singkat Filsafat Islam



SEJARAH RINGKAS FILSAFAT ISLAM

Meski pada umumnya filsafat islam dipercayai sebagai berawal dari Al-Kindi (801-873), tetapi ada catatan bahwa orang Islam pertama yang disebut sebagai filosof Iransyahri. Pemilihan AL-kindi sebagai filosof pertama dalam sejarah Islam tentu terkait dengan kenyataan bahwa Al- Kindilah orang pertama yang berusaha merumuskan secara sistematis apa itu filsafat Islam. Pemikiran Al- Kindi sebenarnya masih dekat dengan teologi Islam (‘ilm al-kalam)yang sudah lebih berkembang dalam dunia pemikiran Islam. Dia memang dikenal sebagai seoran Mu’tazili (pengikut mazhab rasionalistik dalam teologi Islam). Karena posisinya sebagai filosof awal Islam, dan juga minatnya pada teologi , Al-Kindi merasa perlu untuk menulis filsafat pertama (AL-Falsafah Al-Ula) sebagai semacam pembahasan tentang posisi (mungkin juga keabsahan ) filsafat dalam keseluruhan pemikiran Islam. Dalam buku i ni Al-Kindi menujukkan bahwa concern filsafat pertama (atau Metafisika ) sesungguhnya sama dengan teologi , yakni tentang Tuhan. Selain itu Al-Kindi juga menulis sebuah buku lain, Al- Kasyf ‘an Manahij Al-Adilla, yang merupakan semacam uraian tentang metedologinya dalam berfilsafat.

Meski sudah menyimpan banyak benih pembahasan yang belakangan dilakuakan oleh filosof-filosof Islam yang mengikutinya, filsafat Islam (masysya’i atau paripatetik) baru benar-benar berkembang pada diri Al-Farabi dan Ibn Sina (980-1037). Pada keduanya khususnya pada Ibn Sina  yang biasa disebut sebagai filosof peripatotik Muslim par excellence berbagai masalah filsafat Yunani mendapatkan kesempatan untuk dikembangkan lebih jauh dalam lingkungan pemikiran Islam. Bukan saja masalah-masalah lama mendapat kan perkembnagan-perkembangan baru namun masalah-masalah baru yang tidak pernah ( secara khusus) dibahas dalam filsafat pra Islam diperkenalkan oleh keduanya. Misalnya filsafat kenabian, atau pembagian wujud menjadi yang mungkin dan yang niscaya dalam Ibn Sina. Juga persoalan perbedaan antara eksistensi dan esensi atau quiditas. Dalam keduanya kosmologi, termasuk didalamnya emanasi , mendapatkan pengembangan serta pewarnaan dengan unsur –unsur teologis Islam, bahkan juga tasawuf. Demikian pula halnya dengan filsafat akal, yang didalamnya filsafat kenabian ditempatkan.

Setelah Al-Farabi dan Ibn Sina, kita kenal beberapa filosof muslim besar lainya term asuk para filosof muslim Andalusia, seperti Ibn Bajjah, Ibn Thufail, dan tentu saja Ibn Rusyd. Namun jika Ibn Bajjah dan Ibn Thufail sedikit banyak mengembangkan filsafat para filosof pendahulunya , maka Ibn Rusyd justru banyak mengkritik peripatetisme Islam yang berkembang sebelumnya sebagai didistorsi oleh Neo-Platonisme yang sedikit banyak, bersifat ilmunistik. Ibn Rusyd pun lalu menjadikan pemurnian Rusyd, yang juga seorang ahli fiqh-penulis 4 jilid buku fikih terkenal, Bidayah Al-Mujahid yang terkenal dengan “ pemisahan” antara kebenaran keagamaan dan kebenaran Filsafat , betapapun sesungguhnya kegiatan berfisafat sepenuhnya mendapatkan pembenaran dari kebenaran keagamaan. Hal ini terungkap dalam risalahnya ringkas tapi berpengaruh yang berjudul Fashl Al-Mqal fi Taqrir ma bainAl-Hikma wa Al-Syariah min Al-Ittishal (ungkapan penentu mengenai kaitan antara fisafat dan syariat). Ibn Rusyd juga dikenal dengan kritik baliknya melalui bukunya yang bejudul Tahafut Al-Tahafut (kerancuan dari kerancuan) atas Al-Gazali yang mengecam habis-habisan filsafat Ibn Sina lewat bukunya yang berjudul Tahafut Al-Falasifah(kerancuan para filosof). Menurut Ibn Rusyd, yang dikritik oleh Al-Gazali bukanlah filsaft itu sendiri, melainkan filsafat yang telah terdistorsi oleh Neo-Platonisme itu. Kritik Al-Gazali, sesungguhnya juga Ibn Rusyd, terhadap Ibn Sina belum juga berhenti disitu. Belakangan Fakruddin Al-Razi, seorang teolog dan penulis kitab Tafsir, juga melakukan hal yang sama; kali ini lebih dari sudut pandang teologis.

Dukungan yang sesungguhnya terhadap Ibn Sina baru datang lewat Nashir Al-Din Al-Thusi. Thusi berupaya membela pemikiran-pemikiran Ibn Sina dari kritik-kritik teologis Al-Razi. Dikombinasikan dengan minatnya terhadap tasawuf, pembahasan oleh Thusi sedikit banyak makin mendekatkan filsafat Islam ke tasawuf dan tradisi(teologis) Islam.

Namun mata rantai paling penting yang menghubungkan filsafat dengan tasawuf adalah Shadr Al-Din Al-Qunawi. Dia adalah sahabat dan murid Ibn Arabi sang arif besar tetapi sekaligus juga murid Al-Thusi. Pada diri Qunawilah untuk pertama kalinya tradisi filsafat dan tasawuf bertemu. Warisan Qunawi, ditambah dengan tradisi iluminisme Islam yang dikembangkan oleh Syihab Al-Din Suh            rawati (antara lain melalui Quthb Al-Din Al-Syirazi), kelak menjadi dasar yang kuat untuk berkembangnya aliran Al-Hikma Al-Muta’aliyah yang ditokohi oleh Mulla Shadra. Jadilah dalam Mulla Shadra bergabung tradisi peripatetik, Irfan dan iluminisme, sekaligus teologi dan tradisi Islam.

Demikianlah, sampai sekarang filsafat hikmah terus berkembang, khususnya di Persia dan anak Benua India. Perkembangan filsafat hikma ini tak dengan sendirinya menyisikan tradisi peripatetisme Islam. Bahkan di Persia, dimana filsafat Hikma berkembang pesat, kita masih dengan mudah mendapati aliran ini berkembang dengan baik, sampai sekarang.







Sumber: Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam,(Jakarta: Mizan, 2005), hlm 101-107

Islam di Benua Afrika

Islam di Afrika Sejak pada masa Rasulullah SAW, sebenarnya telah ada hubungan baik dengan salah satu raja yang terdapat di benua Af...