Wednesday, May 9, 2018

Sejarah Singkat Filsafat Islam



SEJARAH RINGKAS FILSAFAT ISLAM

Meski pada umumnya filsafat islam dipercayai sebagai berawal dari Al-Kindi (801-873), tetapi ada catatan bahwa orang Islam pertama yang disebut sebagai filosof Iransyahri. Pemilihan AL-kindi sebagai filosof pertama dalam sejarah Islam tentu terkait dengan kenyataan bahwa Al- Kindilah orang pertama yang berusaha merumuskan secara sistematis apa itu filsafat Islam. Pemikiran Al- Kindi sebenarnya masih dekat dengan teologi Islam (‘ilm al-kalam)yang sudah lebih berkembang dalam dunia pemikiran Islam. Dia memang dikenal sebagai seoran Mu’tazili (pengikut mazhab rasionalistik dalam teologi Islam). Karena posisinya sebagai filosof awal Islam, dan juga minatnya pada teologi , Al-Kindi merasa perlu untuk menulis filsafat pertama (AL-Falsafah Al-Ula) sebagai semacam pembahasan tentang posisi (mungkin juga keabsahan ) filsafat dalam keseluruhan pemikiran Islam. Dalam buku i ni Al-Kindi menujukkan bahwa concern filsafat pertama (atau Metafisika ) sesungguhnya sama dengan teologi , yakni tentang Tuhan. Selain itu Al-Kindi juga menulis sebuah buku lain, Al- Kasyf ‘an Manahij Al-Adilla, yang merupakan semacam uraian tentang metedologinya dalam berfilsafat.

Meski sudah menyimpan banyak benih pembahasan yang belakangan dilakuakan oleh filosof-filosof Islam yang mengikutinya, filsafat Islam (masysya’i atau paripatetik) baru benar-benar berkembang pada diri Al-Farabi dan Ibn Sina (980-1037). Pada keduanya khususnya pada Ibn Sina  yang biasa disebut sebagai filosof peripatotik Muslim par excellence berbagai masalah filsafat Yunani mendapatkan kesempatan untuk dikembangkan lebih jauh dalam lingkungan pemikiran Islam. Bukan saja masalah-masalah lama mendapat kan perkembnagan-perkembangan baru namun masalah-masalah baru yang tidak pernah ( secara khusus) dibahas dalam filsafat pra Islam diperkenalkan oleh keduanya. Misalnya filsafat kenabian, atau pembagian wujud menjadi yang mungkin dan yang niscaya dalam Ibn Sina. Juga persoalan perbedaan antara eksistensi dan esensi atau quiditas. Dalam keduanya kosmologi, termasuk didalamnya emanasi , mendapatkan pengembangan serta pewarnaan dengan unsur –unsur teologis Islam, bahkan juga tasawuf. Demikian pula halnya dengan filsafat akal, yang didalamnya filsafat kenabian ditempatkan.

Setelah Al-Farabi dan Ibn Sina, kita kenal beberapa filosof muslim besar lainya term asuk para filosof muslim Andalusia, seperti Ibn Bajjah, Ibn Thufail, dan tentu saja Ibn Rusyd. Namun jika Ibn Bajjah dan Ibn Thufail sedikit banyak mengembangkan filsafat para filosof pendahulunya , maka Ibn Rusyd justru banyak mengkritik peripatetisme Islam yang berkembang sebelumnya sebagai didistorsi oleh Neo-Platonisme yang sedikit banyak, bersifat ilmunistik. Ibn Rusyd pun lalu menjadikan pemurnian Rusyd, yang juga seorang ahli fiqh-penulis 4 jilid buku fikih terkenal, Bidayah Al-Mujahid yang terkenal dengan “ pemisahan” antara kebenaran keagamaan dan kebenaran Filsafat , betapapun sesungguhnya kegiatan berfisafat sepenuhnya mendapatkan pembenaran dari kebenaran keagamaan. Hal ini terungkap dalam risalahnya ringkas tapi berpengaruh yang berjudul Fashl Al-Mqal fi Taqrir ma bainAl-Hikma wa Al-Syariah min Al-Ittishal (ungkapan penentu mengenai kaitan antara fisafat dan syariat). Ibn Rusyd juga dikenal dengan kritik baliknya melalui bukunya yang bejudul Tahafut Al-Tahafut (kerancuan dari kerancuan) atas Al-Gazali yang mengecam habis-habisan filsafat Ibn Sina lewat bukunya yang berjudul Tahafut Al-Falasifah(kerancuan para filosof). Menurut Ibn Rusyd, yang dikritik oleh Al-Gazali bukanlah filsaft itu sendiri, melainkan filsafat yang telah terdistorsi oleh Neo-Platonisme itu. Kritik Al-Gazali, sesungguhnya juga Ibn Rusyd, terhadap Ibn Sina belum juga berhenti disitu. Belakangan Fakruddin Al-Razi, seorang teolog dan penulis kitab Tafsir, juga melakukan hal yang sama; kali ini lebih dari sudut pandang teologis.

Dukungan yang sesungguhnya terhadap Ibn Sina baru datang lewat Nashir Al-Din Al-Thusi. Thusi berupaya membela pemikiran-pemikiran Ibn Sina dari kritik-kritik teologis Al-Razi. Dikombinasikan dengan minatnya terhadap tasawuf, pembahasan oleh Thusi sedikit banyak makin mendekatkan filsafat Islam ke tasawuf dan tradisi(teologis) Islam.

Namun mata rantai paling penting yang menghubungkan filsafat dengan tasawuf adalah Shadr Al-Din Al-Qunawi. Dia adalah sahabat dan murid Ibn Arabi sang arif besar tetapi sekaligus juga murid Al-Thusi. Pada diri Qunawilah untuk pertama kalinya tradisi filsafat dan tasawuf bertemu. Warisan Qunawi, ditambah dengan tradisi iluminisme Islam yang dikembangkan oleh Syihab Al-Din Suh            rawati (antara lain melalui Quthb Al-Din Al-Syirazi), kelak menjadi dasar yang kuat untuk berkembangnya aliran Al-Hikma Al-Muta’aliyah yang ditokohi oleh Mulla Shadra. Jadilah dalam Mulla Shadra bergabung tradisi peripatetik, Irfan dan iluminisme, sekaligus teologi dan tradisi Islam.

Demikianlah, sampai sekarang filsafat hikmah terus berkembang, khususnya di Persia dan anak Benua India. Perkembangan filsafat hikma ini tak dengan sendirinya menyisikan tradisi peripatetisme Islam. Bahkan di Persia, dimana filsafat Hikma berkembang pesat, kita masih dengan mudah mendapati aliran ini berkembang dengan baik, sampai sekarang.







Sumber: Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam,(Jakarta: Mizan, 2005), hlm 101-107

No comments:

Post a Comment

Islam di Benua Afrika

Islam di Afrika Sejak pada masa Rasulullah SAW, sebenarnya telah ada hubungan baik dengan salah satu raja yang terdapat di benua Af...