Tuesday, March 13, 2018

Sejarah peradaban bangsa Romawi kuno



Sejarah peradaban bangsa Romawi sebelum kedatangan Islam

Kota roma, pusat kerajaan Romawi itu didirikan pada abad ke-8 SM, pada sebuah jalan yang melintasi sungai tibet. Pada mulanya kota itu hanya sebuah losmen dipenyebrangan  sungai itu, tetapi lama-lama menjadi kota petani-petani yang mengerjakan daerah latium, dan diperintah oleh seorang raja bangsa Etruska. Kira-kira 500 tahun SM, bangsa italia yang menjadi penduduk asli daerah itu melakukan pemberontakan, mungkin dibantu juga oleh bangsawan-bangsawan Etruska yang tidak puas, sehingga akhirnya bangsa etruska terusir dari kotaitu, setelah berkuasa disana tujuh turunan.
Pada mulanya meraka tidak ambil pusing terhadap ketiga bangsa yang selalu beradu kekuatan disekeliling mereka, memperebutkan daerah sebelah barat lautan tengah itu, yaitu Etruska, Carthage dan Yunani. Tetapi dalam satu pertempuran Yunani dengan Etruska yang sebenarnya berakhir dengan kemenangan Yunani, keduanya telah sama-sama payah, tidak lagi bermaksud mengusir yang lain, dan ketika itulah muncul Italia mengambil keuntungan dari keadaan itu.
Latin, sebuah suku bangsa Italia yang sedikit lebih giat dari suku-suku bangsa Italia yang lain, membuat bahasanya menjadi bahasa persatuan seluruh Italia. Kepercayaanya menjadi anutan suku-suku yang lain. Demikianlah Romawi muncul menjadi kerajaan besar, dari republik bertukar menjadi kerajaan, daerah-daerah sekelilingnya telah ditaklukkan dan akhirnya kekuasaanya terbentang dari pantai samudra Atlantik sampai ke Persia dan dari Scotlandia sampai ke gurun sahara.
Bangsa Romawi bukan sebagai bangsa Yunani yang suka berfisafat dan berbakat seni, dahulukala mereka adalah petani yang kuat, sederhana dan tulus. Mereka bekerja keras mengembangkan pertanianya, membentuk negaranya dan menaklukkan tetangganya. Sedikit sekali kegiatan mereka menulis, berfilsafat atau mengerjakan cabang-cabang keseniaan. Peradban Romawi kuno hanya dipinjam langsung dari Etruska. Ketika mereka berhubungan dengan Yunani, mereka kagum kepada kebudayaan Yunani. Lebih-lebih lagi setelah penaklukan-penaklukannya, berlomba-lombalah mereka secara bebas mengambil karya-karya Yunani dan membawanya ke Roma. Masing-masing jenderal membawa tidak kurang dari 500 patung-patung perunggu atupun marmar. Bukan hanya hasil kerjanya, tetapi orangnya juga selalu mereka angkut, baik sebagai orang bebas yang memberikan pelajaran ataupun sebagai budak yang disuruh bekerja, sehingga di kota-kota Italia muncullah kuil-kuil, stadion, gedung-gedung opera dan bangunan yang lain yang membentuk kesenian Yunani, baik dalam bentuk aslinya maupun telah disadur dengan perdaban lain, seperti patung dan qubah dari Babylonia dan sebagainya.
Agama mereka pada pokoknya meniru agama Yunani, mereka memuja dewa-dewa, tetapi telah disadur dan disesuaikan dengan keadaan mereka, memuja dewa-dewa dan pemimpin –pemimpin yang namanya berubah, kalau orang Yunani menyebut Zeus, disebut orang Romawi Jupiter, Aries menjadi Mars, Apriodite menjadi Venus, Poeseidon menjadi Neptunus, Phoebes menjadi Apollo. Pahlawan Yunani Heraclius menjadi Hercules, Odysseus menjadi Olysses dan sebagainya. Mereka percaya bahwa dewa, dewi, pahlawan, dan sebagainya itu hidup disurga, dibumi dan didunia bawah dengan keinginan dan kekurangan-kekurangan duniawi. Mereka dianggap melindungi dan memberi petanda manusia, tetpi pada hakikatnya kehidupan dewa-dewa itu mencerminkan kehidupan manusia, hanya dewa-dewa itu mengenal kehidupan disurga dan hidup abadi dengan segala kemungkinannya.
Agama negara menghendaki pengorbanan dan upcara-upacara tetapi lama-lama terasalah pada mereka, bahwa kepercayaan-kepercayaan yang sangat banyak yang dihubungkan dengan pemujaan agama itu, hanya dapat melupakan rakyat dari kesukaran hidup , bukan memecahkan masalah yang dihadapi. Rangkaian percintaan Jupiter dengan bebagai wanita surga dan dunia, ataupun pembalasan istrinya, june hera yang cemburu itu merupakan bahan bagi penyair-penyair dan pelukis-pelukis tetapi tidak dapat memberi jawaban atas rahasia hidup, rahasia maut, ketidakabadiaan, penderitaan manusia, maksud dan tujuan untung nasib yang dialami manusia dibumi ini. Lama-lama mereka melepaskan diri dari dewa-dewa Yunani Romawi itu. Mereka mendapat hiburan pada kehidupan rohani yang lebih mendalam , yangtersebar secara meluas dalam kerajaan Romawi pada abad-abad permulaan Masehi, yaitu agama-agama yang berasal dari Asia kecil dan Mesir. Ada orang Romawi yang memuja dewa Mithras yang pada mulanya “dewa cahaya” bagi bangsa Persia, tetapi menjadi dewa janji yang sangat dimuliakan oleh prajurit-prajurit Romawi, sehingga mendirikan kuil-kuilsaampai kepelosok negara. Ada pula yang memuja dewi kesuburan “cybele” yang berasal dari Asia kecil. Kekasih dewi ini bernama Attis. Tiap tahun diperingati orang kematiaanya dengan rasa chidmat dan kebaktian, dewi itu dirayakan orang dengan meriah. Ada pula yang memuja dewi Lisis, agama yang datang dari Mesir itu, yang menimbulkan pengharapan untuk memperoleh pengertian akan dapat menyelami dunia atas dan membangkitkan harapan manusia akan dapat hidup abadi.
Agama-agama itu sama-sama mempunyai daya tarik yang besar, tetapi penganut agama- agama itu diikat oleh persaudaraan yang erat dan sama-sama merasakan kesadaran ikatan. Kepada penganut baru dibukakan tabir rahasia dewa itu dengan penuh rasa khidmat dan upacara, sehingga mereka merasa seakan-akan dilahirkan kembali. Dengan demikian mereka merasa benar-benar serta dalam upacara, tidak lagi sebagai penonton yang hanya diselenggarakan oleh pendeta.
Pengertian hidup abadi, hidup kembali setelah meninggal yang menjadi ajaran-ajaran agama itu, memberikan harapan kepada mereka yang miskin, sengsara dan terbelenggu itu. Mereka mengharap akan mengalami perubahan, berkeyakinan akan merasakan hidup bahagia diakhirat.
Dalam keadaan yang demikianlah agama Kristen turun kedunia yang penuh berisi tuntunan budi pekerti dan tuntunan kerohaniaan yang mendalam ada persamaanya dengan agama-agama yang terdahulu mereka anut dan kehausan mereka akan bimbingan rohani, dipenuhi oleh agama Kristen, karena memeng demikianlah nabi Isa a.s melakukan bujukan sudah tentu yang baru tidak boleh lain sama sekali (1800) dari yang lama, karena kalau demikian tentulah tidak akan dapat dimengerti, apalagi diterima tetapi dalam hal itu Nabi Isa a. S menjelaskan sifat ke-Tuhanan mengajarkan kepercayaan, kecintaan, kemaafan dan kedamaian, sebagai “jalan berblok” dari sifat dan kelakuan mereka dikala itu, yaitu individualistis, mementingkan diri sendiri dan peperangan yang tak habis-habisnya. Kegiatan dan kecakapan mereka berorganisasi, tidak perlu disinggung, karena itu sudah baik, yang diterangkan hanya yang dirasa belum diketahui dan yang dianjurkan hanya yang dirasa tidak dilakukan. Sebab itu nabi Isa menekankan ajaran pada hal-hal yang mengenai kebersihan jiwa.
Pada mulanya ajaran itu mendapat tantangan, penganut –penganutnya disiksa, dipenjarakan, dibunuh, diadukan dengan singa dan lain-lain, tetapi tidak akan ada kegiatan, kalau tantangan-tantangan tidak ada. Tidak akan ada orang seperti St. Piter, St Paul dll, kalau jalan mengembangkan Agamaitu lurus saja, tidak berduri. Penganutnya mula-mula hanya hamba sahaya, hamba-hamba yang telah merdeka, pekerja-pekerja tangan dan prajurit-prajurit, tetapi lama-lama berangsur-angsur dianut oleh orang –orang penting. Pada tahun 311 M. Raja konstatinus mengumumkan tidak boleh lagi dihalang-halangi penyiaran Kristen. Raja itu sendiri kemudian menganut Agama Kristen dengan taat, karena dalam suatu pertempuran dia melihat diangkasa  sebuah salib yang bertuliskan “In hoc signe vinces” (dengan tanda ini engkau akan menang).
Setelah itu agam Kristen berkembang dengan pesat, tetapi karena tidak ada tuntunan yang tegas tentang tindakan kemasyarakatan, segera agama itu kehilanga keaslianya. Agama itu sendiri dinamai Kristen yang berasl dari bahasa Yunani “Cristos” yang berarti “diusapi”. Pemakaian kata dengan bahasa Yunani itu adalah disebabkan setelah pengikut Masehi yang besahaja itu memasuki daerah Yunani dan Romawi yang telah mempunyai peradaban yang tinggi, sehingga peradaban itu mempesona dan lalu mempengaruhi mereka. Merka tidak terpengaruh kepada unsur-unsur agamanya yang polyteisme itu, tetapi kepada unsur-unsur filsafat Yunani dewasa itu, baik unsur aliran Stoisme atau unsur platonist. Keempat evengelia dalam perjajian baru yang tertulis dalam bahasa Yunani itu, pasti ditulis dari lingkungan Nasrani-Yunani, lebih-lebih dalam evengelium Johanes, banyak terlihat faham-faham mystiek dari aliran Neo-Platonisme.
Oraganisasi inilah yang kemudian mempengaruhi Agama Nasrani menjadi khas bersifat Romawi atau Barat pada umumnya. Agam Nasrani yang sederhana itu mendirikan gereja dengan pusatnya di Roma, pemimpin-pemimpin agama mulai dari Presbyter, episcopos, patriarch akhirnya mengangkat dan tunduk kepada paus. Sementara itu Imam-imam Gereja (cencili) menetapkan ajaran Agama Nasrani sampai kepada garis kecil. Dengan demikian agama Nasrani dapat menggeser kekutan kerajaan kedalam tangganya dan sifat keaslian, kesederhanaan, perdamaian dan lain sebagainya yang menjadi ajaran Nabi Isa a.s. semula telah terdesak kesamping.
Dalam keadaan demikianlah Islam lahir, mendesak kekutan Romawi dari timur sampai barat. Romawi barat sudah mulai pudar pada tahun 476, didesak oleh suku bangsa German. Tetapi Romawi timur yang mempuyai kekuasaan sendiri setelah dipecah oleh raja Theodos pada tahun 394 untuk merajakan kedua anaknya, yang terkenal kemudian dengan nama kerajaan Byzantium, masih berdiri dengan megahnya sampai agama Islam kuat dan kemudian dapat menaklaukkanya berturut-turut, Suria, Palestina, Mesir gudang gandum Byzantium itu dan tempat armadanya yang tangguh di Iskandariah jatuh ketangan kaum muslimin dibawah Umar bin Khattab, hanya dalam waktu 10 tahun setelah Rasullullah wafat. Belum seperempat abad “Bualan Sabit yang Subur” itu telah tunduk. Byzantium lalu terkepung, daerah provinsinya telah tunduk dan barulah pukulan terakhir dilakukan oleh Sultan Muhammad II dari Turki pada tahun 1453 M.    

Islam di Benua Afrika

Islam di Afrika Sejak pada masa Rasulullah SAW, sebenarnya telah ada hubungan baik dengan salah satu raja yang terdapat di benua Af...