Sejarah peradaban bangsa Romawi
sebelum kedatangan Islam
Kota roma, pusat kerajaan Romawi itu
didirikan pada abad ke-8 SM, pada sebuah jalan yang melintasi sungai tibet.
Pada mulanya kota itu hanya sebuah losmen dipenyebrangan sungai itu, tetapi lama-lama menjadi kota petani-petani
yang mengerjakan daerah latium, dan diperintah oleh seorang raja bangsa
Etruska. Kira-kira 500 tahun SM, bangsa italia yang menjadi penduduk asli
daerah itu melakukan pemberontakan, mungkin dibantu juga oleh
bangsawan-bangsawan Etruska yang tidak puas, sehingga akhirnya bangsa etruska
terusir dari kotaitu, setelah berkuasa disana tujuh turunan.
Pada mulanya meraka tidak ambil
pusing terhadap ketiga bangsa yang selalu beradu kekuatan disekeliling mereka,
memperebutkan daerah sebelah barat lautan tengah itu, yaitu Etruska, Carthage
dan Yunani. Tetapi dalam satu pertempuran Yunani dengan Etruska yang sebenarnya
berakhir dengan kemenangan Yunani, keduanya telah sama-sama payah, tidak lagi
bermaksud mengusir yang lain, dan ketika itulah muncul Italia mengambil
keuntungan dari keadaan itu.
Latin, sebuah
suku bangsa Italia yang sedikit lebih giat dari suku-suku bangsa Italia yang
lain, membuat bahasanya menjadi bahasa persatuan seluruh Italia. Kepercayaanya
menjadi anutan suku-suku yang lain. Demikianlah Romawi muncul menjadi kerajaan
besar, dari republik bertukar menjadi kerajaan, daerah-daerah sekelilingnya
telah ditaklukkan dan akhirnya kekuasaanya terbentang dari pantai samudra
Atlantik sampai ke Persia dan dari Scotlandia sampai ke gurun sahara.
Bangsa Romawi bukan sebagai bangsa
Yunani yang suka berfisafat dan berbakat seni, dahulukala mereka adalah petani
yang kuat, sederhana dan tulus. Mereka bekerja keras mengembangkan pertanianya,
membentuk negaranya dan menaklukkan tetangganya. Sedikit sekali kegiatan mereka
menulis, berfilsafat atau mengerjakan cabang-cabang keseniaan. Peradban Romawi
kuno hanya dipinjam langsung dari Etruska. Ketika mereka berhubungan dengan
Yunani, mereka kagum kepada kebudayaan Yunani. Lebih-lebih lagi setelah
penaklukan-penaklukannya, berlomba-lombalah mereka secara bebas mengambil
karya-karya Yunani dan membawanya ke Roma. Masing-masing jenderal membawa tidak
kurang dari 500 patung-patung perunggu atupun marmar. Bukan hanya hasil
kerjanya, tetapi orangnya juga selalu mereka angkut, baik sebagai orang bebas
yang memberikan pelajaran ataupun sebagai budak yang disuruh bekerja, sehingga
di kota-kota Italia muncullah kuil-kuil, stadion, gedung-gedung opera dan
bangunan yang lain yang membentuk kesenian Yunani, baik dalam bentuk aslinya
maupun telah disadur dengan perdaban lain, seperti patung dan qubah dari
Babylonia dan sebagainya.
Agama mereka pada pokoknya meniru
agama Yunani, mereka memuja dewa-dewa, tetapi telah disadur dan disesuaikan
dengan keadaan mereka, memuja dewa-dewa dan pemimpin –pemimpin yang namanya
berubah, kalau orang Yunani menyebut Zeus, disebut orang Romawi Jupiter, Aries
menjadi Mars, Apriodite menjadi Venus, Poeseidon menjadi Neptunus, Phoebes
menjadi Apollo. Pahlawan Yunani Heraclius menjadi Hercules, Odysseus menjadi
Olysses dan sebagainya. Mereka percaya bahwa dewa, dewi, pahlawan, dan
sebagainya itu hidup disurga, dibumi dan didunia bawah dengan keinginan dan
kekurangan-kekurangan duniawi. Mereka dianggap melindungi dan memberi petanda
manusia, tetpi pada hakikatnya kehidupan dewa-dewa itu mencerminkan kehidupan
manusia, hanya dewa-dewa itu mengenal kehidupan disurga dan hidup abadi dengan
segala kemungkinannya.
Agama negara menghendaki pengorbanan
dan upcara-upacara tetapi lama-lama terasalah pada mereka, bahwa
kepercayaan-kepercayaan yang sangat banyak yang dihubungkan dengan pemujaan
agama itu, hanya dapat melupakan rakyat dari kesukaran hidup , bukan memecahkan
masalah yang dihadapi. Rangkaian percintaan Jupiter dengan bebagai wanita surga
dan dunia, ataupun pembalasan istrinya, june hera yang cemburu itu merupakan
bahan bagi penyair-penyair dan pelukis-pelukis tetapi tidak dapat memberi
jawaban atas rahasia hidup, rahasia maut, ketidakabadiaan, penderitaan manusia,
maksud dan tujuan untung nasib yang dialami manusia dibumi ini. Lama-lama mereka
melepaskan diri dari dewa-dewa Yunani Romawi itu. Mereka mendapat hiburan pada
kehidupan rohani yang lebih mendalam , yangtersebar secara meluas dalam
kerajaan Romawi pada abad-abad permulaan Masehi, yaitu agama-agama yang berasal
dari Asia kecil dan Mesir. Ada orang Romawi yang memuja dewa Mithras yang pada
mulanya “dewa cahaya” bagi bangsa Persia, tetapi menjadi dewa janji yang sangat
dimuliakan oleh prajurit-prajurit Romawi, sehingga mendirikan kuil-kuilsaampai
kepelosok negara. Ada pula yang memuja dewi kesuburan “cybele” yang berasal
dari Asia kecil. Kekasih dewi ini bernama Attis. Tiap tahun diperingati orang
kematiaanya dengan rasa chidmat dan kebaktian, dewi itu dirayakan orang dengan
meriah. Ada pula yang memuja dewi Lisis, agama yang datang dari Mesir itu, yang
menimbulkan pengharapan untuk memperoleh pengertian akan dapat menyelami dunia
atas dan membangkitkan harapan manusia akan dapat hidup abadi.
Agama-agama itu sama-sama mempunyai
daya tarik yang besar, tetapi penganut agama- agama itu diikat oleh
persaudaraan yang erat dan sama-sama merasakan kesadaran ikatan. Kepada
penganut baru dibukakan tabir rahasia dewa itu dengan penuh rasa khidmat dan
upacara, sehingga mereka merasa seakan-akan dilahirkan kembali. Dengan demikian
mereka merasa benar-benar serta dalam upacara, tidak lagi sebagai penonton yang
hanya diselenggarakan oleh pendeta.
Pengertian hidup abadi, hidup kembali
setelah meninggal yang menjadi ajaran-ajaran agama itu, memberikan harapan
kepada mereka yang miskin, sengsara dan terbelenggu itu. Mereka mengharap akan
mengalami perubahan, berkeyakinan akan merasakan hidup bahagia diakhirat.
Dalam keadaan yang demikianlah agama
Kristen turun kedunia yang penuh berisi tuntunan budi pekerti dan tuntunan
kerohaniaan yang mendalam ada persamaanya dengan agama-agama yang terdahulu
mereka anut dan kehausan mereka akan bimbingan rohani, dipenuhi oleh agama
Kristen, karena memeng demikianlah nabi Isa a.s melakukan bujukan sudah tentu
yang baru tidak boleh lain sama sekali (1800) dari yang lama, karena
kalau demikian tentulah tidak akan dapat dimengerti, apalagi diterima tetapi
dalam hal itu Nabi Isa a. S menjelaskan sifat ke-Tuhanan mengajarkan
kepercayaan, kecintaan, kemaafan dan kedamaian, sebagai “jalan berblok” dari
sifat dan kelakuan mereka dikala itu, yaitu individualistis, mementingkan diri
sendiri dan peperangan yang tak habis-habisnya. Kegiatan dan kecakapan mereka
berorganisasi, tidak perlu disinggung, karena itu sudah baik, yang diterangkan
hanya yang dirasa belum diketahui dan yang dianjurkan hanya yang dirasa tidak
dilakukan. Sebab itu nabi Isa menekankan ajaran pada hal-hal yang mengenai
kebersihan jiwa.
Pada mulanya ajaran itu mendapat
tantangan, penganut –penganutnya disiksa, dipenjarakan, dibunuh, diadukan
dengan singa dan lain-lain, tetapi tidak akan ada kegiatan, kalau
tantangan-tantangan tidak ada. Tidak akan ada orang seperti St. Piter, St Paul
dll, kalau jalan mengembangkan Agamaitu lurus saja, tidak berduri. Penganutnya
mula-mula hanya hamba sahaya, hamba-hamba yang telah merdeka, pekerja-pekerja
tangan dan prajurit-prajurit, tetapi lama-lama berangsur-angsur dianut oleh
orang –orang penting. Pada tahun 311 M. Raja konstatinus mengumumkan tidak
boleh lagi dihalang-halangi penyiaran Kristen. Raja itu sendiri kemudian
menganut Agama Kristen dengan taat, karena dalam suatu pertempuran dia melihat
diangkasa sebuah salib yang bertuliskan
“In hoc signe vinces” (dengan tanda ini engkau akan menang).
Setelah itu agam Kristen berkembang
dengan pesat, tetapi karena tidak ada tuntunan yang tegas tentang tindakan
kemasyarakatan, segera agama itu kehilanga keaslianya. Agama itu sendiri
dinamai Kristen yang berasl dari bahasa Yunani “Cristos” yang berarti
“diusapi”. Pemakaian kata dengan bahasa Yunani itu adalah disebabkan setelah
pengikut Masehi yang besahaja itu memasuki daerah Yunani dan Romawi yang telah
mempunyai peradaban yang tinggi, sehingga peradaban itu mempesona dan lalu
mempengaruhi mereka. Merka tidak terpengaruh kepada unsur-unsur agamanya yang
polyteisme itu, tetapi kepada unsur-unsur filsafat Yunani dewasa itu, baik
unsur aliran Stoisme atau unsur platonist. Keempat evengelia dalam perjajian
baru yang tertulis dalam bahasa Yunani itu, pasti ditulis dari lingkungan
Nasrani-Yunani, lebih-lebih dalam evengelium Johanes, banyak terlihat
faham-faham mystiek dari aliran Neo-Platonisme.
Oraganisasi inilah yang kemudian
mempengaruhi Agama Nasrani menjadi khas bersifat Romawi atau Barat pada
umumnya. Agam Nasrani yang sederhana itu mendirikan gereja dengan pusatnya di
Roma, pemimpin-pemimpin agama mulai dari Presbyter, episcopos, patriarch
akhirnya mengangkat dan tunduk kepada paus. Sementara itu Imam-imam Gereja
(cencili) menetapkan ajaran Agama Nasrani sampai kepada garis kecil. Dengan
demikian agama Nasrani dapat menggeser kekutan kerajaan kedalam tangganya dan
sifat keaslian, kesederhanaan, perdamaian dan lain sebagainya yang menjadi
ajaran Nabi Isa a.s. semula telah terdesak kesamping.
Dalam keadaan demikianlah Islam
lahir, mendesak kekutan Romawi dari timur sampai barat. Romawi barat sudah
mulai pudar pada tahun 476, didesak oleh suku bangsa German. Tetapi Romawi
timur yang mempuyai kekuasaan sendiri setelah dipecah oleh raja Theodos pada
tahun 394 untuk merajakan kedua anaknya, yang terkenal kemudian dengan nama
kerajaan Byzantium, masih berdiri dengan megahnya sampai agama Islam kuat dan
kemudian dapat menaklaukkanya berturut-turut, Suria, Palestina, Mesir gudang
gandum Byzantium itu dan tempat armadanya yang tangguh di Iskandariah jatuh
ketangan kaum muslimin dibawah Umar bin Khattab, hanya dalam waktu 10 tahun
setelah Rasullullah wafat. Belum seperempat abad “Bualan Sabit yang Subur” itu
telah tunduk. Byzantium lalu terkepung, daerah provinsinya telah tunduk dan
barulah pukulan terakhir dilakukan oleh Sultan Muhammad II dari Turki pada
tahun 1453 M.