Monday, June 25, 2018

Bangsa Arab Sebelum Islam



Keistimewaan dan perbedaan kondisi bangsa Arab, tampak dengan munculnya risalah Islam. Dimana masa menjelang datangnya Islam dikenal dengan masa Jahiliyah maka, disematkanlah sejarah Arab sebelum Islam kala itu dengan sebutan Tarikh Al-Jahili atau Tarikh Al-Jahiliyah, sebagaimana yang tampak terlihat dalam kalimat tersebut berupa kekolotan dan perpecahan. Mereka telah berpecah belah dengan kelompok sekitarnya dalam hal peradaban. Sebagian besar dari mereka hidup dalam kabilah-kabilah yang berpindah-pindah dalam kebodohan dan kelalaian. Mereka tidak mengetahui sarana dunia luar, tiadak pula berinteraksi dengan dunia lain, buta sebagai penyembah berhala, tidak ada bagi mereka sejarah yang perlu diperhatiakan.  
Dunia Arab berbeda dengan umat-umat dunia. Masyarakat Arab pada masa jahiliyah ketika itu mempunyai akhlak peradaban tersendiri, seperti dalam hal retorika dan kekeuatan bayan (salah satu aspek sastra). Suka dengan kebebasan dan harga diri, bermegamegahan dan membanggakan keberanian, rela berjuang dalam jalan keyakinanya, jelas dalam ucapan (tidak bertele-tele), sangat setia dalam menjaga kehormatan, kuat hapalan, senang akan persamaan, kuat dalam tekad, dan memegang janji dan amanah. Mereka mendapat bencana pada masa akhir lantaran masa mereka jauh dari kenabian dan para nabi, terbatasnya pergaulan, kesamaran jazirahnya, kerasnya dalam berpegang teguh pada agama bapak-bapak dan taklid terhadap umat terdahulu, kemunduran agama yang keras, dan penyembah berhala yang luar biasa. Meski demikian, terdapat berbagai macam teori dalam umat-umat masa kini yang melaksanakan prilaku masyarakat menjadikan mereka umat yang mengalami dekadensi moral yang amat buruk, rusak, penuh kerendahan, terperosok dalam kehidupan jahiliyah yang buruk, jauh dari kebaiakan agama.
Sedang disisi agama, telah menyebar bentuk penyambahan berhala di jazirah Arab penyembahan ini hampir terjadi diseluruh kabilah. Pada setiap rumah terdapat berhala. Diriwayatakan oleh seorang sahabat Abu Raja Al-Atharadi, dia mengatakan, “ kami adalah kaum peyembah batu. Manakalah kami mendapati batu yang lebih baik lantas kami membuang berhala itu dan mengambil yang lain. Dan apabial kami tidak mendapati batu, kami mengumpulkan timbunan batu dari tanah, lalu kami datang dengan membawa kambing dan kami perah susunya kemudian thawaf di sektarnya.
Selain patung, terdapat juga bagi kalangan Arab tuhan yang lain. Diantaranya malikat dan jin serta bintang-bintang. Mereka myakini bahwa malikat adalah anak perempuan Allah, hingga mereka dijadikan sebagai pemberi syafaat bagi mereka disisi Allah. Mereka juga menyembahnya. Malaikat dijadikan sarana atau wasilah kepada Allah. Mereka juga menjadikan Jin sebagai sekutu bagi Allah, beriman dengan kekuasaan dan pengaruh mereka serta menyembahnya.   
Di samping itu, orang-orang Yahudi menyebar di dunia Arab. Pemimpin-pemimpin mereka menjadi sembahan selain Allah. Menhukumi diantara manusia dan menghisab mereka sampai pada lintasan jiwa dan hembusan bisikan bibir. Mereka menjadiakn tujuan hidup adalah harta dan pangkat kedudukan, meski harus menyia-nyikan agama, merabaknya atheisme dan kekafiran. Sementara kalangan Nasrani telah kembali menjadi penyembah berhala yang sukar dipahami, mendapati pencampuran yang mengherankan antara Allah dan manusia. Dalam jiwa-jiwa bangsa Arab pada masa itu tidak terdapat pengaruh yang kuat dalam hal berpegang teguh pada agama.
Sedangkan dari sisi prilaku, meminum khamar adalah kebiasaan yang merajalela, menagakar sebagai suatu kebiasaan, sehingga hal itu menjadi sisi yang amat hebat dalam syair dan sejarah sastra mereka. Begitu pula dengan merajalelanya perjudian. Imam Qatadah mengatakan,” seseorang pada masa jahiliyah memperjudikan keluarga dan hartanya, sehingga dia duduk dengan sedih dan terpasung melihat hartanya berada dalam tangan orang lain. Dari situ mewariskan rasa permusuhan dan bara kebencian diantara mereka.
Sebagaimana jauga mereka bermuamalah dengan riba yang menyebar antara Arab dan Yahudi, sehingga menjadi begitu mengakar pada mereka, sampai dikatakan,”sesungguhnya jual beli itu seperti riba.” Fitra juga menjadi terjungkil dalam hubungan antara lelaki dan perempuan. Zina merupakan kebiasaan yang lumrah terjadi. Seorang lelaki memiliki beberapa gundik, menjadikan wanita sebagai gundik tanpa akad.
Tentang bentuk gambaran perkawinan pada masa itu dilukiskan oleh Aisyah dalam perkataanya, ”Perkawinan dalam masa Arab jahiliyah terbagi dalam empat macam; diantaranya adalah pernikahan yang dilakukan manusia pada hari ini, dimana seorang laki-laki meminang seorang lelaki sebagai walinya atau putrinya lalu memberikan mahar dan menikahinya. Sedang nikah yang lain adalah seorang lelaki berkata kepada istrinya jika telah suci dari datang bulan, ‘utuslah kepada si fulan dan letakkan tanganku darinya, dan asingkan dari suaminya dan jangan menyentuhnya sampai jelas dia hamil dari lelaki tersebut. Manakala jelas hamilnya boleh dijamah oleh suaminya jika dia kehendaki, dan apabila dia bebuat demikian atas kehendak dalam memilih anak, maka nikah ini disebut dengan nikah Istibdha”.  
Sedangkan bentuk nikah lainya adalah berkumpulnya sanak kerabat yang tak lebih dari sepuluh orang. Lalu mereka berhubungan dengan seorang perempuan yang semuanya menjamahnya. Manakal wanita itu hamil dan melahirkan, dan berlalu beberapa hari, kemudian wanita itu mengirimkan bayinya.kala itu tak ada serangpun diantara mereka yang bisa tenang hingga mereka berkumpul dekat wanita itu. Lalu wanita itu berkata,”kalian telah mengetahui urusan kalian. Saya melahirkan dan ini anakmu hai fulan.” Dinamailah bayi itu dengan orang yang dicintai wanita itu dengan namanya, maka diberhak atas anaknya. Tak boleh seorangpun dari lelaki tersebut yang melarangnya.
Bentuk nikah keempat adalah orang-orang berkumpul dan berhubungan dengan seorang perempuan yang tidak menolak setiap orang yang ingin mendatanginya. Dia seorang pelacur yang menyandarkan diri diatas kedua pintu rumah sebagai tanda supaya diketahui. Apabila ada yang menghendaki, dia masuk. Jika salah seorang diantara mereka melahirkan bayi, mereka berkumpul dan menyeru mereka Al-Qafat kemudian menisbatkan anaknya dengan apa yang dipandangnya, kemudian melekatakan denganya dan diakui sebagai anaknya yang tidak bisa ditolak dari hal tersebut.
Berkaitan dengan kedudukan wanita disaman jahiliyah, Umar bin Khattab mengatakan,” demi Allah, masa jahiliyah kami tidak akan mengembalikan urusan kepada perempuan, sampai Allah menurunkan (firmanya, edt) dalam masalah mereka sebagaiman apa yang diturunkan. Bagi wanita tidak terdapat hak waris. Mereka mengatakan tentang masalah itu: tidak mewarisi dari kita kecuali siapa yang memanggul pedang dan melindungi kabilah. Manakala seorang lelaki meniggal yang menjadi ahli warisnya adlah anaknya. Jika ia tidak mempunyai anak, maka yang mewarisi adalah siapa yang didapati dari para penolongnya, bisa jadi bapak, saudara atau pamanya. Dimana putri, istri juga menjadi warisan, berikut apa yang ada padanya (dimilikinya). Milik mereka hak mereka juga. Mereka tak mempunyai hak apapun atas peniggalan suaminya. Juga dalam masalah talak, tidak terdapat bilangan tertentu alias tanpa batas, tidak pula ada jumlah istri dengan bilangan tertentu. Jika dia mati, sedang ia mempunyai anak dari yang lain, maka anak yang terbesar itu lebih berhak terhadap istri bapaknya dari yang lain. Ditetapakan diri wanita itu sebagai warisan sebagaiman harta bapaknya yang lain.
Karena itu, mereka sangat tidak suka dengan anak perempuan, bahkan sampai meguburnya hidup-hidup. Kelahiran anak perempuan merupakan aib yang memalukan menurut adat jahiliyah. Jika didapati yang lahir anak perempuan, mereka sambut dengan tidak menyenagkan dengan mengubur hidup-hidup. Umumnya kelahiran anak perempuan menjadikan hidup mereka muram. Demikianlah kondisi di jazirah Arab sebelum di utusnya Rasulullah.



Sumber: Prof. Dr. Raghib As-Sirjani. 2011. Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar        

No comments:

Post a Comment

Islam di Benua Afrika

Islam di Afrika Sejak pada masa Rasulullah SAW, sebenarnya telah ada hubungan baik dengan salah satu raja yang terdapat di benua Af...