Saturday, June 23, 2018

KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM DI JAWA



Pada abad ke XVI di Jawa berdiri beberapa kerajaan Islam, yang terkenal antara lain, kerajaan Demak, Cirebon, dan Banten.

1.       Kerajaan Demak

Dengan meniggalnya raja Hayam Wuruk, maka kerajaan Majapahit makin merosot. Satu demi satu melepaskan dari kekuasaan Majapahit, termasuk kerajaan Demak.

Menjelang berakhirnya abad XV Raden Patah, santri setia Sunan Bonang memaklumkan berdirinya kerajaan Islam Demak, lepas dari ikatan kekuasaan Majapahit. Demak semula kerajaan agraris berpenghasilan utam beras. Kemudian menjadi negara maritin. Demak menjadi bandar perdagangan rempah-rempah dari Maluku dan Makassar yang akan dikirim ke Malaka. Demak menjadi lebih besar dan lebih penting diantara bandar-bandar pantai utara Jawa. Demak dengan mudah dapat mempersatukan kota-kota pesisir seperti Lasem, Tuban, Gresik, dan Sendayu. Kemudian Raden Patah diakui sebagai peminpin dengan gelar Sultan.

Kedudukan Demak makin penting setelah Malaka (tahun 15 11) dikuasai oleh Portugis. Banyak pedagang-pedagang muslim memindahkan kegiatan ke Demak. Sultan Demak diakui juga sebagai pemimpin umat Islam dalam menghadapi ancaman Portugis.

Sebagai negara Islam dan negara Maritim, Demak siap bersaing dengan Portugis yang nyata-nyata membahayakan umat Islam. Demak menyusun angkatan laut yang tanggauh dan berhasrat menghancurkan Portugis disarngnya sendiri. Pada tahun 1512 armada Demak dibawah pimpinan Pati Unus bersama-sama dengan Aceh menyerang Malaka. Tetapi gagal karena di pukul mundur oleh Portugis.

Peniggalan sejarah yang masih tegak sampai sekarang, adalah Masjid Agung Demak yang dibuatnya bersama dengan para wali.

Raden Ptah meniggal pada tahun 1518 dan digantikan kedudukanya oleh putranya Muhammad Yunus yang terkenal dengan nama Pati Unus atau Pangeran Sebrang Lor dengan gelar Sultan Demak II. Beliau memerintah tahun 1518-1521.

Sepeniggal Pati Unus kerajaan Demak dipegang oleh Pangeran Trenggono. Pada masa inilah Syeikh Nurullah tiba di Demak dari Pasai. Kemudian dikawinkan dengan adik perempuan Sultan Trenggono dan diangkat menjadi panglima perang, sehingga kedudukan Demak makin kokoh.

Pada masa Sultan Trenggono, Demak giat melakukan ekspansi ketimur dan ke barat. Hal ini dilakukan karena ancaman Portugis yang bersifat ekonomi dan agama. Portugis sama halnya pedagang muslim, berdagang dan membawa misi agama. Dalam pengerahan armadanya ke arah barat Fatahillah berhasil pula menduduki Banten dan menguasai Cirebon.

2.       Kerajaan Cirebon

Fatahillah yang juga dikenal dengan nama Faletehan, berhasil merebut bandar Cirebon dari kekuasaan kerajaan Hindu Pajajaran. Karena jasanya dan kedudukanya sebagai, keluarga dekat Sultan Trenggono, maka Cirebon diserahkan kepadanya yang kemudian diserahkan kepada putranya yang bernama Pangeran Pasarean dibawah naungan Demak. 

Pada tahun 1552 pangeran Paserean wafat. Fatahillah memutuskan menetap di Cirebon guna mengendalikan pemerintahan Cirebon sambil menekuni dan menyebarkan Islam. Pada tahun 1570, beliau wafat dan dimakamkan di bukit hutan jati. Karena itu, beliau dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati.

3.       Kerajaan Banten

Fatahillah disamping berhasil merebut Cirebon juga berhasil menduduki Banten dari kekuasaan kerajaan Hindu Pajajaran. Oleh Sultan Trenggono, Banten dan Cirebon diserhkan kepadanya.

Dalam waktu singkat rakyat Banten masuk Islam. Fatahillah menjadikan Banten sebagai bandar utama di selat sunda. Pedagang-pedagang muslim lebih senang berniaga di Banten dari pada di Bandar yang lain. Banten sama halnya Cirebon masih di bawah kekuasaan Demak.

Karena putranya yang diserahi memerintah Cirebon, yaitu pangeran Pasarean meniggal pada tahun1522, maka beliau meniggalkan Banten pindah ke Cirebon guna memerintah Cirebon. Sedangkan Banten diserahkan kepada putranya, Hasanuddin.

Suasana kerajaan Demak mengalami perang saudara, Hasanuddin mengambil kesempatan melepaskan diri dari ikatan Demak. Dengan demikian berdirilah kerajaan Islam Banten dan mengangkat dirinya menjadi Sultan.

Kerajaan Banten meluas sampai Lampung. Sultan Hasanuddin wafat tahun 1570, dan digantikan oleh putranya pangeran Yusuf.

Pada zaman pangeran Yusuf, kerajaan Pajajaran dapat ditaklukkan. Kekuasaan kerajaan Hindu di Jawa Barat hancur. Penyebaran agama Islam meluas sampai kedaerah pedalaman. Sisa-sisa orang Pajajaran yang tidak masuk Islam menyingkir ke Banten Selatan, yang kini dikenal sebagai orang Badui.

Pada tahun 1580 pangeran Yusuf yang dikenal juga sebagai Maulana Yusuf wafat dan digantikan putra mahkota Maulana Muhammad yang masih sangat Belia.










Sumber: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam. 1995. Pendidikan Agama Islam untuk siswa SMU/SMK kelas I. Jakarta: CV Nur.

No comments:

Post a Comment

Islam di Benua Afrika

Islam di Afrika Sejak pada masa Rasulullah SAW, sebenarnya telah ada hubungan baik dengan salah satu raja yang terdapat di benua Af...