SEJARAH BANI AYYUBIYAH
Berbeda dengan
Bani Fatimiah yang berdiri sendiri, Bani Ayyubiyah mengakui KeKhalifahan Bani
Abbasiyah. Pada masa kepemimpinan Saluhuddin Yusuf al-Ayyubi, Khalifah
Abbasiyah di Bagdad di pegang oleh al-Mustadi (1170-1180 M). Selain Bani
Abbasiyah, penguasa wilayah Islam yang lain adalah Bani Seljuk yang pada saat
itu dipimpin oleh Sultan Arslan Syah (1161-1175 M).
A. Berdirinya Bani Ayyubiyah
Bani
Ayyubiyah merupakan keturunan Ayyub, seorang keturunan suku Kurdi dari
Azerbaijan. Pendiri dinasti ini adalah Salahuddin Yusuf al-Ayyubi putra dari
Najmuddin bin Ayyub. Pada masa Nuzuruddin Zanki, Gubernur Suriah dari Bani
Abbasiyah, Salahuddin diangkat sebagai kepala ganisun di Balbek.
Pada
masa mudanya Salahuddin Yusuf al-Ayyubi kurang terkenal dikalangan masyarakat.
Ia senang berdiskusi tentang ilmu kalam, ilmu Fiqih, Al-Qur’an, dan hadis.
Salahuddin Yusuf al-Ayyubi, kemudian diperkenalkan ayahnya kepada Nuruddin
Zanki.
Kehidupan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi penuh dengan
perjuangan dan peperangan. Hal itu dilakuakannya dalam menunaikan tugas negara
untuk memadamkan sebuah pemberontakan dan juga dalam menghadapi tentara salib.
Semua peperangan itu berhasil dimenagkanya. Meskipun demikian, Salahuddin Yusuf
al- Ayyubi bukanalah seorang pemimpin yang tamak, haus kekayaan, dan haus
darah. Ia bukanlah seorang yang ambisius. Perang hanya dilakukanya untuk
mempertahankan dan membela agama. Selain itu, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi memiliki
toleransi tinggi terhadap umat beragama lain. Ketika menguasai Iskandariyah, ia
mengunjungi orang-orang Kristen. Ketika perdamaian tercapai dengan tentara
salib, ia mengizinkan untuk berziarah ke Baitulmakdis.
Keberhasilanya sebagai tentara mulai terlihat ketika
mendampingi pamanya, Asaduddin Syirkuh, yang mendapat tugas dari Nuruddin Zanki
untuk membantu Bani Fatimiah di Mesir. Perdana mentri Syawar yang dikudeta oleh
Dirgam menjanjikan imbalan sepertiga pajak tanah Mesir. Salahuddin Yusuf
berhasil menduduki jabatan kembali pada tahun 1164 M.
Tiga tahun kemudian, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi kembali
menyertai pamanya ke Mesir. Hal initerjadi karena Syawar bersekutu dengan
Amauri, seorang panglima perang tentara Salib yang dulu pernahmembantu Dirgam.
Keadaan ini tentu saja membahayakan posisis Nuruddin Zanki dan umat Islam pada
umumnya. Peperangan pecahdengan sengit antara pasukan Salahuddin Salahuddin dan
pasukan Syawar yang dibantu Amauri. Salahuddin Yusuf al-Ayyubi berhasil menduduki
Iskandariyah, tetapi ia dikepung dari darat dan laut oleh tentara Salib yang
dipimpin Amuri. Peperangan itu berkhir dengan perjanjian damai pada bulan
Agustus 1167 M. Yang isinya adlah pertukaran tawanan perang. Salahuddin Yusuf
al-Ayyubi kembali ke Suriah, Amauri ke Yerussalem, dan Iskandariyah diserahkan
kembali kepada Syawar.
Pada tahun 1169M, tentara Salib yang dipmpin Amauri
melanggar perjanjian damai. Ia menyerang Mesir dan bermaksud menguasainya.
Halitu tentu saja sangat membahayakan keadaan umat Islam. Mereka banyak
membunuh rakayat Mesir serta berusaha menurunkan Khalifah al-Adid dari
jabatanya. Melihat keadaan itu, Asaduddin Syirkuh dan Salahuddin Yusuf
al-Ayyubi kembali memasuki Mesir. Mauri berhasil dikalahkan dan Mesir dapat
dibebaskan dari ancaman tentara Salib. Akan tetapi, keberhasilan Asaduddin
Syirkuh dan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi ternyata menimbulkan kedengkian Syawar.
Syawar berusaha membunuh keduanya, tetapi rencana itu diketahui oleh Asaduddin
Syirkuh dan Syawar berhasil ditangkap. Atas perintah Khalifah al-Adid, Syawar
dihukum mati.
Sebagai imbalan atas jasa-jasanya, Khalifah al-Adid
mengangkat Asaduddin Syirkuh sebagai perdana mentri Mesir pada tahun 1169 M.
Ini merupakan pertama kalinya keluarga al-Ayyubi menjadi perdana mentri.
Asaduddin Syirkuh hanya berkuasa selama dua bulan karena meniggal. Khalifah
al-Adid kemudian mengangkat Salahuddin Yusuf al-Ayyubi untuk menggantikanya.
Pada waktu itu, ia berusia 32 tahun, sebagai perdana mentri, ia mendapat gelar al-Malik an-Nasir.
B.
Masa
Kekuasaan Bani Ayyubiyah
Setelah Khalifah al-Adid wafat tahun 1171 M, Salahuddin
Yusuf al-Ayyubi berkuasa penuh untuk menjalankan peran keagamaan danpolitik. Ia
dianggap sebagai pembaru di Mesir karena dapat mengembalikan mazhab Suni.
Beberapa usaha yang dilakukan Salahuddin Yusuf al- Ayyubi dalam membangun
pemerintahan adalah
1.
Mendirikan madarasah-madrasah yang menganut
mazhab Syafi’i dan mazhab Maliki.
2.
Mengganti kadi-kadi Syiah dengan kadi-kadi Suni
3.
Mengganti pegawai pemerintahan yang melakukan
korupsi
4.
Memecat pegawai yang bersekongkol dengan
penjahat dan perampok.
Melihat keberhasilan itu, Khalifah al- Mustadi dari
Bani Abbasiyah memberikan gelar kepadanya al-Mu’izzli
Amirul Mukminin. Khalifah al-Mustadi juga memberikan Mesir, an-Naubah,
Yaman, Tripoli, Suriah, dan Magrib sebagai wilayah kekuasaan Salahuddin Yusuf
al-Ayyubi pada tahun 1175 M. Sejak saat itu, ia dianggap sebagai Sultanul Islam wal Muslimin.
Dalam masa pemerintahanya, Salahuddin Yusuf
al-Ayyubi menghadapi pemberontakan dari kalangannya sendiri. Hal itu terjadi
karena keirian dan kedengkian terhadap keberhasilan yang dicapai oleh
Salahuddin Yusuf al-Ayyubi. Orang pertama yang merasa iri terhadap Salahuddin
Yusuf al-Ayyubi adalah Nuruddin Zanki. Ia merasa bahwa kebesaranya telah
tersaingi oleh Salahuddin Yusuf al-Ayyubi. Selain itu, Salahuddin Yusuf
al-Ayyubi tidak menepati janjinya untuk membantu Nuruddin Zanki dalam
menghadapi tentara Salib yang menguasai Karak dan Syaubak.
Kepala rumah tangga Khalifah al-Adid yang bernama
Hajib juga membenci Salahuddin Yusuf al-Ayyubi. Ia merasa hak-haknya banyak
dikurangi. Kemudian ia bersekongkol
dengan tentara an-Naubah dari Sudan untuk menggulingkan Salahuddin Yusuf
al-Ayyubi. Pemberontakan lain muncul dari kaum Asassin yang dipimpin oleh Syekh
Sinan. Selain itu, kelompok Zanki yang merupakan pembela al-Malik as-Salih
Ismail juga mengadakan persekongkolan dengan al-Gazi (penguasa Mosul dan paman
al-Malik as-Salih Ismail) untuk menjatuhkan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi. Semua
pemberontakan itu dapat diselesaikan oleh Salahuddin Yusuf al-Ayyubi baik
dengan jalan damai maupun peperangan.
Selain mengahadapi pemberontakan dari kalangan
sendiri, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi menghadapi ancaman yang besar dari tentara
Salib. Mereka adalah orang-orang Kristen Franka, nenek moyang Prancis saat ini.
Kekuasaan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi yang makin besar membuat mereka merasa
terancam. Untuk itu, mereka meminta bantuan Prancis, Jerman, Inggris,
Bizantium, dan Paus untuk menguasai kembali daerah-daerah mereka yang dikuasai
Salahuddin Yusuf al-Ayyubi, termasuk Baitulmakdis.
Perang melawan tentara Salib yang pertama adalah
melawan Amalic I, Raja Yerussalem. Selanjutnya melawan Baldwin IV (putra Amalic
I) dan melawan Raynald Dechatillan (penguasa benteng Karak di sebelah timur
laut mati). Kemudian melawan Raja Baldwin V sehingga kota-kota seperti
Tiberias, Nasirah, Samaria, Sudan, Berut, Batrun, Akta, Ramalah, Gaza, Hebron,
Baitulmaqdis, Bail al-Lahn, dan gunung Zaitun berhasil dikuasai Salahuddin
Yusuf al-Ayyubi pada tahun 1187 M. Setelah berhasil menguasai kota-kota
tersebut, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi membangun sekolah-sekolah, rumah sakit,
serta membangun kembali Mesjidilaksa. Salib yang terpasang diatas kubah batu
segera diturunkan.
Setelah Baitulmaqdis dikuasai Salahuddin Yusuf
al-Ayyubi, paus Gregory mengumandangkan perang salib. Hal itu segera disambut
oleh orang-orang Eropa. Selanjutnya, perang ini diteruskan oleh Clemen III yang
menggantikan Gregory. Selain Clemen III, beberapa penguasa yang membantu dalam
perang melawan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi adalah
a.
Philip II, Raja Prancis
b.
Ricahard I (The Lion Heart), Raja Inggris
c.
Willian, raja Sisilia
d.
Frederick Barbarussa, Kaisar Jerman.
Peperangan pun terjadi bertahun-tahun lamanya.
Akhirnya peperangan itu diakhiri dengan perjanjian damai. Adik raja Richard I
dinikahkan dengan adik Salahuddin Yusuf al-Ayyubi yang bernama al-Adil.
Selanjutnya, al-Adil menjadi penguasa di Baitulmaqdis. Orang Nasrani bebas
keluar masuk untuk beribadah dengan syarat tidak membawa senjata.
Setelah perang melawan tentara salib selesai,
Salahuddin Yusuf al-Ayyubi memindahkan pusat pemerintahannya ke Damaskus. Ia
meniggal disan tahun 1193 M dalam usia 57 tahun. Setelah Salahuddin Yusuf
al-Ayyubi meniggal kekuasaan dipegang oleh putra dan saudara-saudaranya, antara
lain
a.
al-Aziz Imaduddin Usman (1193-1198 M)
b.
al-Malik al-Adil (1198-1218 M)
c.
al-Kamil (1218-1238 M)
d.
as-Salih (1238-1249 M).
Runtuhnya Bani Ayyubiyah dimulai pada masa
pemerintahan Sultan as-Salih. Pada waktu itu, tentara dari kaum budak di Mesir
(kaum Mamluk) memegang kendali pemerintahan. Setelah as-Salih meniggal pada
tahun 1249 M, kaum Mamluk mengangkat istri as-Salih, Syajarat ad-Durr sebagai
Sultanah. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Bani Ayyubiyah di Mesir.
Meskipun demikian, Bani Ayyubiyah masih berkuasa di Suriah. Pada tahun 1260 M,
tentara Mongol hendak menyerbu Mesir. Komando tentara Islam dipegang oleh
Qutuz, panglima perang Mamluk. Dalam pertempuran di Ain Jalut, Qutuz berhasil
mengalahkan tentara Mogol dengan gemilang. Selanjutnya, Qutuz mengambil alih
kekuasaan Bani Ayyubiyah. Sejak itu berakhirlah kekuasaan Dinasti Bani
Ayyubiyah.
Sumber: Drs H Darsono, Drs T Ibrahim. 2004. Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam:Madrasah
Tsanawiyah III. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Hlm 73-77.
No comments:
Post a Comment