Monday, June 11, 2018

Dinasti Bani Ayyubiyah



SEJARAH BANI AYYUBIYAH

Berbeda dengan Bani Fatimiah yang berdiri sendiri, Bani Ayyubiyah mengakui KeKhalifahan Bani Abbasiyah. Pada masa kepemimpinan Saluhuddin Yusuf al-Ayyubi, Khalifah Abbasiyah di Bagdad di pegang oleh al-Mustadi (1170-1180 M). Selain Bani Abbasiyah, penguasa wilayah Islam yang lain adalah Bani Seljuk yang pada saat itu dipimpin oleh Sultan Arslan Syah (1161-1175 M). 

A.      Berdirinya Bani Ayyubiyah

Bani Ayyubiyah merupakan keturunan Ayyub, seorang keturunan suku Kurdi dari Azerbaijan. Pendiri dinasti ini adalah Salahuddin Yusuf al-Ayyubi putra dari Najmuddin bin Ayyub. Pada masa Nuzuruddin Zanki, Gubernur Suriah dari Bani Abbasiyah, Salahuddin diangkat sebagai kepala ganisun di Balbek.

Pada masa mudanya Salahuddin Yusuf al-Ayyubi kurang terkenal dikalangan masyarakat. Ia senang berdiskusi tentang ilmu kalam, ilmu Fiqih, Al-Qur’an, dan hadis. Salahuddin Yusuf al-Ayyubi, kemudian diperkenalkan ayahnya kepada Nuruddin Zanki.

Kehidupan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi penuh dengan perjuangan dan peperangan. Hal itu dilakuakannya dalam menunaikan tugas negara untuk memadamkan sebuah pemberontakan dan juga dalam menghadapi tentara salib. Semua peperangan itu berhasil dimenagkanya. Meskipun demikian, Salahuddin Yusuf al- Ayyubi bukanalah seorang pemimpin yang tamak, haus kekayaan, dan haus darah. Ia bukanlah seorang yang ambisius. Perang hanya dilakukanya untuk mempertahankan dan membela agama. Selain itu, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi memiliki toleransi tinggi terhadap umat beragama lain. Ketika menguasai Iskandariyah, ia mengunjungi orang-orang Kristen. Ketika perdamaian tercapai dengan tentara salib, ia mengizinkan untuk berziarah ke Baitulmakdis.

Keberhasilanya sebagai tentara mulai terlihat ketika mendampingi pamanya, Asaduddin Syirkuh, yang mendapat tugas dari Nuruddin Zanki untuk membantu Bani Fatimiah di Mesir. Perdana mentri Syawar yang dikudeta oleh Dirgam menjanjikan imbalan sepertiga pajak tanah Mesir. Salahuddin Yusuf berhasil menduduki jabatan kembali pada tahun 1164 M.

Tiga tahun kemudian, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi kembali menyertai pamanya ke Mesir. Hal initerjadi karena Syawar bersekutu dengan Amauri, seorang panglima perang tentara Salib yang dulu pernahmembantu Dirgam. Keadaan ini tentu saja membahayakan posisis Nuruddin Zanki dan umat Islam pada umumnya. Peperangan pecahdengan sengit antara pasukan Salahuddin Salahuddin dan pasukan Syawar yang dibantu Amauri. Salahuddin Yusuf al-Ayyubi berhasil menduduki Iskandariyah, tetapi ia dikepung dari darat dan laut oleh tentara Salib yang dipimpin Amuri. Peperangan itu berkhir dengan perjanjian damai pada bulan Agustus 1167 M. Yang isinya adlah pertukaran tawanan perang. Salahuddin Yusuf al-Ayyubi kembali ke Suriah, Amauri ke Yerussalem, dan Iskandariyah diserahkan kembali kepada Syawar.

Pada tahun 1169M, tentara Salib yang dipmpin Amauri melanggar perjanjian damai. Ia menyerang Mesir dan bermaksud menguasainya. Halitu tentu saja sangat membahayakan keadaan umat Islam. Mereka banyak membunuh rakayat Mesir serta berusaha menurunkan Khalifah al-Adid dari jabatanya. Melihat keadaan itu, Asaduddin Syirkuh dan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi kembali memasuki Mesir. Mauri berhasil dikalahkan dan Mesir dapat dibebaskan dari ancaman tentara Salib. Akan tetapi, keberhasilan Asaduddin Syirkuh dan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi ternyata menimbulkan kedengkian Syawar. Syawar berusaha membunuh keduanya, tetapi rencana itu diketahui oleh Asaduddin Syirkuh dan Syawar berhasil ditangkap. Atas perintah Khalifah al-Adid, Syawar dihukum mati.

Sebagai imbalan atas jasa-jasanya, Khalifah al-Adid mengangkat Asaduddin Syirkuh sebagai perdana mentri Mesir pada tahun 1169 M. Ini merupakan pertama kalinya keluarga al-Ayyubi menjadi perdana mentri. Asaduddin Syirkuh hanya berkuasa selama dua bulan karena meniggal. Khalifah al-Adid kemudian mengangkat Salahuddin Yusuf al-Ayyubi untuk menggantikanya. Pada waktu itu, ia berusia 32 tahun, sebagai perdana mentri, ia mendapat gelar al-Malik an-Nasir.

B.      Masa Kekuasaan Bani Ayyubiyah

Setelah Khalifah al-Adid wafat tahun 1171 M, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi berkuasa penuh untuk menjalankan peran keagamaan danpolitik. Ia dianggap sebagai pembaru di Mesir karena dapat mengembalikan mazhab Suni. Beberapa usaha yang dilakukan Salahuddin Yusuf al- Ayyubi dalam membangun pemerintahan adalah

1.       Mendirikan madarasah-madrasah yang menganut mazhab Syafi’i dan mazhab Maliki.
2.       Mengganti kadi-kadi Syiah dengan kadi-kadi Suni
3.       Mengganti pegawai pemerintahan yang melakukan korupsi
4.       Memecat pegawai yang bersekongkol dengan penjahat dan perampok.

Melihat keberhasilan itu, Khalifah al- Mustadi dari Bani Abbasiyah memberikan gelar kepadanya al-Mu’izzli Amirul Mukminin. Khalifah al-Mustadi juga memberikan Mesir, an-Naubah, Yaman, Tripoli, Suriah, dan Magrib sebagai wilayah kekuasaan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi pada tahun 1175 M. Sejak saat itu, ia dianggap sebagai Sultanul Islam wal Muslimin.

Dalam masa pemerintahanya, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi menghadapi pemberontakan dari kalangannya sendiri. Hal itu terjadi karena keirian dan kedengkian terhadap keberhasilan yang dicapai oleh Salahuddin Yusuf al-Ayyubi. Orang pertama yang merasa iri terhadap Salahuddin Yusuf al-Ayyubi adalah Nuruddin Zanki. Ia merasa bahwa kebesaranya telah tersaingi oleh Salahuddin Yusuf al-Ayyubi. Selain itu, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi tidak menepati janjinya untuk membantu Nuruddin Zanki dalam menghadapi tentara Salib yang menguasai Karak dan Syaubak.

Kepala rumah tangga Khalifah al-Adid yang bernama Hajib juga membenci Salahuddin Yusuf al-Ayyubi. Ia merasa hak-haknya banyak dikurangi. Kemudian ia bersekongkol  dengan tentara an-Naubah dari Sudan untuk menggulingkan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi. Pemberontakan lain muncul dari kaum Asassin yang dipimpin oleh Syekh Sinan. Selain itu, kelompok Zanki yang merupakan pembela al-Malik as-Salih Ismail juga mengadakan persekongkolan dengan al-Gazi (penguasa Mosul dan paman al-Malik as-Salih Ismail) untuk menjatuhkan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi. Semua pemberontakan itu dapat diselesaikan oleh Salahuddin Yusuf al-Ayyubi baik dengan jalan damai maupun peperangan.

Selain mengahadapi pemberontakan dari kalangan sendiri, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi menghadapi ancaman yang besar dari tentara Salib. Mereka adalah orang-orang Kristen Franka, nenek moyang Prancis saat ini. Kekuasaan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi yang makin besar membuat mereka merasa terancam. Untuk itu, mereka meminta bantuan Prancis, Jerman, Inggris, Bizantium, dan Paus untuk menguasai kembali daerah-daerah mereka yang dikuasai Salahuddin Yusuf al-Ayyubi, termasuk Baitulmakdis.

Perang melawan tentara Salib yang pertama adalah melawan Amalic I, Raja Yerussalem. Selanjutnya melawan Baldwin IV (putra Amalic I) dan melawan Raynald Dechatillan (penguasa benteng Karak di sebelah timur laut mati). Kemudian melawan Raja Baldwin V sehingga kota-kota seperti Tiberias, Nasirah, Samaria, Sudan, Berut, Batrun, Akta, Ramalah, Gaza, Hebron, Baitulmaqdis, Bail al-Lahn, dan gunung Zaitun berhasil dikuasai Salahuddin Yusuf al-Ayyubi pada tahun 1187 M. Setelah berhasil menguasai kota-kota tersebut, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi membangun sekolah-sekolah, rumah sakit, serta membangun kembali Mesjidilaksa. Salib yang terpasang diatas kubah batu segera diturunkan.

Setelah Baitulmaqdis dikuasai Salahuddin Yusuf al-Ayyubi, paus Gregory mengumandangkan perang salib. Hal itu segera disambut oleh orang-orang Eropa. Selanjutnya, perang ini diteruskan oleh Clemen III yang menggantikan Gregory. Selain Clemen III, beberapa penguasa yang membantu dalam perang melawan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi adalah

a.       Philip II, Raja Prancis
b.      Ricahard I (The Lion Heart), Raja Inggris
c.       Willian, raja Sisilia
d.      Frederick Barbarussa, Kaisar Jerman.

Peperangan pun terjadi bertahun-tahun lamanya. Akhirnya peperangan itu diakhiri dengan perjanjian damai. Adik raja Richard I dinikahkan dengan adik Salahuddin Yusuf al-Ayyubi yang bernama al-Adil. Selanjutnya, al-Adil menjadi penguasa di Baitulmaqdis. Orang Nasrani bebas keluar masuk untuk beribadah dengan syarat tidak membawa senjata.

Setelah perang melawan tentara salib selesai, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi memindahkan pusat pemerintahannya ke Damaskus. Ia meniggal disan tahun 1193 M dalam usia 57 tahun. Setelah Salahuddin Yusuf al-Ayyubi meniggal kekuasaan dipegang oleh putra dan saudara-saudaranya, antara lain

a.       al-Aziz Imaduddin Usman (1193-1198 M)
b.      al-Malik al-Adil (1198-1218 M)
c.       al-Kamil (1218-1238 M)
d.      as-Salih (1238-1249 M).

Runtuhnya Bani Ayyubiyah dimulai pada masa pemerintahan Sultan as-Salih. Pada waktu itu, tentara dari kaum budak di Mesir (kaum Mamluk) memegang kendali pemerintahan. Setelah as-Salih meniggal pada tahun 1249 M, kaum Mamluk mengangkat istri as-Salih, Syajarat ad-Durr sebagai Sultanah. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Bani Ayyubiyah di Mesir. Meskipun demikian, Bani Ayyubiyah masih berkuasa di Suriah. Pada tahun 1260 M, tentara Mongol hendak menyerbu Mesir. Komando tentara Islam dipegang oleh Qutuz, panglima perang Mamluk. Dalam pertempuran di Ain Jalut, Qutuz berhasil mengalahkan tentara Mogol dengan gemilang. Selanjutnya, Qutuz mengambil alih kekuasaan Bani Ayyubiyah. Sejak itu berakhirlah kekuasaan Dinasti Bani Ayyubiyah.   

    Sumber: Drs H Darsono, Drs T Ibrahim. 2004. Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam:Madrasah Tsanawiyah III. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Hlm 73-77.

No comments:

Post a Comment

Islam di Benua Afrika

Islam di Afrika Sejak pada masa Rasulullah SAW, sebenarnya telah ada hubungan baik dengan salah satu raja yang terdapat di benua Af...