ALEXANDRIA
Kota utama
kedua Mesir, yang dalam bahasa Arab disebut Iskandariyah, ini didirikan pada
331 sebelum Masehi oleh Alexsander Agung. Kota yang membentang sekitar 32
kilometer disepanjang tepi laut Mediterania ini selama sekitar seribu tahun menjadi
ibukota Mesir. Hal tersebut berlangsung hingga kota ini ditundukkan oleh
pasukan Muslim dibawah pimpinan Amr ibn Al-Ash pada 20 H /641 M.
Dalam sejarah
Islam tercatat bahwa Amr ibn Al-Ash yang semula memiliki ide menundukkan Mesir.
Jenderal yang satu ini sebelum memeluk Islam adalah seorang pedagang tangguh
dan kota Alexandria adalah pusat niaganya. Kemudian, setelah memeluk agama
Islam pada 18 H/639 M, ia lalu diangkat oleh Umar ibn Khattab sebagai gubernur Palestina
dan Yordania. Bahkan, saat Umar ibn Khattab melakukan sebuah perjalanan
terkhirnya menuju Suriah, Amr ibn Al-Ash pun rela menuggu kedatangan sang
Khalifah untuk membicarakan idenya itu.
Menurut Amr
ibn Al-Ash, Mesir harus ditundukkan untuk melindungi posisi pasukan Muslim yang
telah berhasil menundukkan Suriah dan Yordania, terutama dengan menudukkan kota
Alexandria. Oleh sebab saat itu, kota Alexandria merupakan salah satu pangkalan
terkuat angkatan laut kekaisaran Byzantium yang merajalela di Laut Tengah. Oleh
karena itu, pangkalan di Alexandria harus direbut dan ditundukkan. Jika hal itu
tidak dilakukan, posisi pasukan Muslim akan selalu dalam posisi menjadi
bulan-bulanan angkatan laut Kekaisaran Byzantium yang menguasai Laut
Mediterania.
Semula Umar
ibn Khattab enggan memenuhi permintaan sang Jenderal karena merasa belum
saatnya hal itu dilakukan. Namun, karena Amr ibn Al-Ash mengemukakan idenya itu
berkali-kali, akhirnya sang Khalifah yang terkenal hidup sederhana dan tegas
itu pun mengizinkannya. Namun, izin itu dengan syarat bahwa Amr hanya boleh
membawa 4.000 serdadu. Mendengar idenya diterima sang Khalifah, seketika itu
betapa gembiranya sang Jenderal. Dia pun segera membawa pasuakan tersebut dari
Al-Arisy, Sinai menuju Farma yang terletak di tepi Laut Tengah. Setelah
berhasil memorak-porandakan pasukan Kekaisaran Byzantium yang mencoba
mengadangnya, sang Jenderal pun lalu menggerakkan pasukanya menuju benteng
Babilonia untuk menundukkan Balbis dan menaklukkan Umm Dunai.
Setelah
beberapa lama Amr ibn Al-Ash beristirahat didekat Benteng Babilonia, ia lalu
meminta izin lagi kepada sang Khalifah untuk menundukkan kota Alexandria yang
saat itu merupakan sebuah kota metropolis Byzantium dan pusat utama kebudayaan
Yunani. Begitu izinya diterima, pasukan Muslim pun langsung bergerak kearah kota
itu dan mengepungnya. Setelah pengepungan berlangsung sekitara empat belas
bulan, akhirnya psukan terdepan yang berada dibawah komando Zubair bin Al-Awwam
dan Maslamah ibn Al-Mukhallad berhasil menjebol pertahanan kota ini. Jatuhlah
kota Alexandria kepelukan pasukan Muslim pada Jumat, 2 Muharram 20 H/22
Desember 640 M.
Selanjutnya,
untuk menghindari serangan balasan lewat laut dari pasukan Romawi yang masih
menguasai pelbagai kawasan di luar Mesir, Umar ibn Khattab pun memerintahkan
Amr ibn Al-Ash supaya tidak memilih Alexandria (pusat kekuasaan Byzantium di
Mesir kala itu) sebagai markas besarnya. Oleh karena itu, Amr ibn Al-Ash pun
lalu memilih mendirikan sebuah kota baru, yakni Fustat di luar Benteng
Babilonia dan menjadikanya sebagai ibu kota wilayah itu sebagai pengganti kota
Alexandria. Dia tidak memilih kota Alexandria sebagai ibukota karena khawatir
mendapat gempuran dari angkatan laut Kekaisaran Byzantium yang saat itu masih
menguasai Laut Tengah dan pangkalan di Konstantinovel yang kini berubah nama
menjadi Istanbul, Turki.
Setelah itu,
lewat pelabuhan kota tersebut pasukan pendudukan Prancis di bawah pimpinan
Napolen Boneparte pada 1213 H/1798 M memasuki dan kemudian menguasai Mesir.
Pasukan Inggris juga melakuakan hal yang sama ketika memasuki Mesir pada 1299
H/1882 M dan kemudian mendudukinya. Lalu, pada 1266 H/1850 M, kota ini dibangun
kembali oleh Muhammad Ali, seorang penguasa dan pembaru sehingga sejak itu
pesona kota ini pun berpendar kembali.
Sumber : Ahmad Rofi’ Usmani. 2013. Jejak-Jelak Islam, Bandung: Bunyan. Hal
57-58
No comments:
Post a Comment