Saturday, June 16, 2018

Kota Alexandria



ALEXANDRIA

Kota utama kedua Mesir, yang dalam bahasa Arab disebut Iskandariyah, ini didirikan pada 331 sebelum Masehi oleh Alexsander Agung. Kota yang membentang sekitar 32 kilometer disepanjang tepi laut Mediterania ini selama sekitar seribu tahun menjadi ibukota Mesir. Hal tersebut berlangsung hingga kota ini ditundukkan oleh pasukan Muslim dibawah pimpinan Amr ibn Al-Ash pada 20 H /641 M.

Dalam sejarah Islam tercatat bahwa Amr ibn Al-Ash yang semula memiliki ide menundukkan Mesir. Jenderal yang satu ini sebelum memeluk Islam adalah seorang pedagang tangguh dan kota Alexandria adalah pusat niaganya. Kemudian, setelah memeluk agama Islam pada 18 H/639 M, ia lalu diangkat oleh Umar ibn Khattab sebagai gubernur Palestina dan Yordania. Bahkan, saat Umar ibn Khattab melakukan sebuah perjalanan terkhirnya menuju Suriah, Amr ibn Al-Ash pun rela menuggu kedatangan sang Khalifah untuk membicarakan idenya itu.

Menurut Amr ibn Al-Ash, Mesir harus ditundukkan untuk melindungi posisi pasukan Muslim yang telah berhasil menundukkan Suriah dan Yordania, terutama dengan menudukkan kota Alexandria. Oleh sebab saat itu, kota Alexandria merupakan salah satu pangkalan terkuat angkatan laut kekaisaran Byzantium yang merajalela di Laut Tengah. Oleh karena itu, pangkalan di Alexandria harus direbut dan ditundukkan. Jika hal itu tidak dilakukan, posisi pasukan Muslim akan selalu dalam posisi menjadi bulan-bulanan angkatan laut Kekaisaran Byzantium yang menguasai Laut Mediterania.

Semula Umar ibn Khattab enggan memenuhi permintaan sang Jenderal karena merasa belum saatnya hal itu dilakukan. Namun, karena Amr ibn Al-Ash mengemukakan idenya itu berkali-kali, akhirnya sang Khalifah yang terkenal hidup sederhana dan tegas itu pun mengizinkannya. Namun, izin itu dengan syarat bahwa Amr hanya boleh membawa 4.000 serdadu. Mendengar idenya diterima sang Khalifah, seketika itu betapa gembiranya sang Jenderal. Dia pun segera membawa pasuakan tersebut dari Al-Arisy, Sinai menuju Farma yang terletak di tepi Laut Tengah. Setelah berhasil memorak-porandakan pasukan Kekaisaran Byzantium yang mencoba mengadangnya, sang Jenderal pun lalu menggerakkan pasukanya menuju benteng Babilonia untuk menundukkan Balbis dan menaklukkan Umm Dunai.

Setelah beberapa lama Amr ibn Al-Ash beristirahat didekat Benteng Babilonia, ia lalu meminta izin lagi kepada sang Khalifah untuk menundukkan kota Alexandria yang saat itu merupakan sebuah kota metropolis Byzantium dan pusat utama kebudayaan Yunani. Begitu izinya diterima, pasukan Muslim pun langsung bergerak kearah kota itu dan mengepungnya. Setelah pengepungan berlangsung sekitara empat belas bulan, akhirnya psukan terdepan yang berada dibawah komando Zubair bin Al-Awwam dan Maslamah ibn Al-Mukhallad berhasil menjebol pertahanan kota ini. Jatuhlah kota Alexandria kepelukan pasukan Muslim pada Jumat, 2 Muharram 20 H/22 Desember 640 M. 

Selanjutnya, untuk menghindari serangan balasan lewat laut dari pasukan Romawi yang masih menguasai pelbagai kawasan di luar Mesir, Umar ibn Khattab pun memerintahkan Amr ibn Al-Ash supaya tidak memilih Alexandria (pusat kekuasaan Byzantium di Mesir kala itu) sebagai markas besarnya. Oleh karena itu, Amr ibn Al-Ash pun lalu memilih mendirikan sebuah kota baru, yakni Fustat di luar Benteng Babilonia dan menjadikanya sebagai ibu kota wilayah itu sebagai pengganti kota Alexandria. Dia tidak memilih kota Alexandria sebagai ibukota karena khawatir mendapat gempuran dari angkatan laut Kekaisaran Byzantium yang saat itu masih menguasai Laut Tengah dan pangkalan di Konstantinovel yang kini berubah nama menjadi Istanbul, Turki.

Setelah itu, lewat pelabuhan kota tersebut pasukan pendudukan Prancis di bawah pimpinan Napolen Boneparte pada 1213 H/1798 M memasuki dan kemudian menguasai Mesir. Pasukan Inggris juga melakuakan hal yang sama ketika memasuki Mesir pada 1299 H/1882 M dan kemudian mendudukinya. Lalu, pada 1266 H/1850 M, kota ini dibangun kembali oleh Muhammad Ali, seorang penguasa dan pembaru sehingga sejak itu pesona kota ini pun berpendar kembali.





Sumber :   Ahmad Rofi’ Usmani. 2013. Jejak-Jelak Islam, Bandung: Bunyan. Hal 57-58   

No comments:

Post a Comment

Islam di Benua Afrika

Islam di Afrika Sejak pada masa Rasulullah SAW, sebenarnya telah ada hubungan baik dengan salah satu raja yang terdapat di benua Af...