Sebelum
berkuasa, keluarga Buwaih adalah rakyat biasa. Akan tetapi, mereka mendapatkan
kemuliaan yang dihubungakan dengan keluarga Sasanid sehingga mencapai tampik
kekuasaan.
A. Berdirinya Bani Buwaih
kekuasaan
Bani Buwaih ditegakkan tiga bersaudara, yaitu Ali, Hasan, dan Ahmad, putra dari
Buwaih bin Syuja’. Mereka bersal dari suku Dailami yaitu suku bangsa pegunungan
dari daerah sebelah barat daya Laut Kaspia. Suku Dailami pada awalnya
prajurit-prajurit yang tangguh yang dapat diandalkan dalam setiap medan
pertempuran. Oleh karena itu, keberadaan mereka sangat diperhitungkan oleh para
penguasa wilayah di sekitar Laut Kaspia ketika itu.
Pada
mulanya, kekuatan militer yang mereka miliki dipergunakan untuk menyebarkan
paham Syiah Isna Asy’ariyah (syiah dua belas imam) yang mereka anut. Akan
tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, mereka melibatkan diri dalam
pemerintahan dengan mengabdi kepada dinasti Bani Syiariah dan Bani Samaniyah.
Kekuatan
mereka menjadi makin kuat dengan banyaknya masyarakat yang mengikuti ajaran
Syiah Isna Asy’ariyah yang mereka sebarkan. Pada masa Bani Samaniyah yang
runtuh tahun 1005 M. Mereka berhasil menetapkan kekuasaan. Ali bin Buawaih,
putra yang tertua, berkuasa di Isfahan; Hasan bin Buwaih, putra yang kedua,
berkuasa di Ray (Teheran); Ahmad bin Buwaih, putra yang termuda, berkuasa di
Khuzistan dan al-Ahwazyang berbatasan dengan Basrah dan Wasit.
Ketiga
saudara itu berhasil mempertahankan kekuasaan hingga meniggal tanpa terjadi perpecahan
dan pertentangan di antara mereka. Akan tetapi, sepeniggal mereka, anak cucunya
saling menyerang demi kekuasaan. Hal itulah yang akhirnya melemahkan kekuatan
Bani Buwaih.
B. Masa kekuasaan Bani Buwaih
Bani
Buwaih berkuasa selama 110 tahun dari tahun 945-1055 M. Mereka berhasil
mepertahankan kekuasaan hingga meniggalnya Hasan bin Buwaih tahun 977 M.
Adapun
sultan-sultan Bani Buwaih setelah meniggalnya Hasan adalah
1.
Mui’zz ad- Daulah (Ahmad bin Buwaih) 945-967 M
2.
Izzah ad- Daulah (Baktiar bin Ahmad) 967-977 M
3.
Adud ad-Daulah 977-983 M
4.
Samsam ad-Daulah 983-987 M
5.
Syaraf ad-Daulah 987-989 M
6.
Baha ad-Daulah 989-1012 M
7.
Ad- Daulah 1012-1019 M
8.
Musyarif ad-Daulah 1019-1025 M
9.
Jalal ad-Daulah 1025-1044 M
10.
Abu Khalijar 1044-1048 M
11.
Malik ar-Rahim 1048-1055 M
Selama masa kekuasaan Bani Buwaih banyak terjadi perang saudara.
Penyebabnya adalah tidak adanya sulatan atau peminpin yang dapat memimpin
Daulah Bani Buwaih. Selain itu, banyaknya ancaman dari luar, terutama dari Bani
Fatimiah dan Bani Seljuk.
Meskipun terjadi berbagai pergolakan, pada masa itu ilmu pengetahuan
banyak mengalami perkembangan. Adapun beberapa ilmuan yang muncul saat itu
adalah
1)
Ibnu an-Nadim (wafat 995 M), menulis buku al-Fihris
2)
Ibnu Maskawih (wafat 1030 M), seorang sejarawan
dan filsuf yang menulis buku Tajarib
al-Umam
3)
Abu al-Faraj al-Isfahani (wafat 967 M), seorang
sejarawan dan sastrawan yang menulis buku al-Agani
4)
Abu Wafa’ an-Nasawi, seorang ahli matematika
yang memperkenalkan sistem angka India ke dalam Islam.
C. Runtuhnya Bani Buwaih
Sebab
utama runtuhnya Bani Buwaih adalah kegagalan mereka dalam menjaga kekompakan
dan kesatuan dalam keluarganya. Sejak meniggalnya Hasan Bin Buwaih, keluaraga
Bani Buwaih terlibat dalam perang saudara. Hal ini membuat pengaruh kaum Seljuk
dalam pemerintahan makin kuat.
Pada
mulanya Bani Seljuk merupakan pendukung utama kekuatan Bani Buwaih. Oleh karena
itu, pada masa pemerintahan Bani Buwaih, Bani Seljuk banyak menduduki posisi
penting dalam ketentaraan. Akibatnya posisi bertambah kuat, sementara kekuatan
Bani Buwaih terus melemah. Pada masa pemerintahan Izz ad- Daulah tahun967 M
Bani Seljukmencoba merebut Bagdad, tetapi usaha itu gagal. Pada masa
selanjutnya ancaman bertambah dengan adanya serangan Mahmud al-Gaznawi
(penguasa dinasti Gasnawiah). Ia berhasil menduduki Ray dan Jibal pada tahun
1029 M. Selain itu, muncul pula ancaman dari bangsa Kurdiyang dipimpin oleh
Fadluyah. Mereka berhasil menduduki Fars pada tahun 1056 M.
Akibat
adanya ancaman-ancaman tersebut, Bani Buwaih terpaksa mengadakan persekutuan
dengan Tugrul Bek, seorang peminpin Bani Seljuk. Akibatnya, Tugrul Bek dapat
memasuki Khurasan dan sekaligus menyatakan dirinya sultan di Nisabur.
Selanjutnya, Tugrul Bek merebut Jurjan dan Tabaristan (1041 M) Hamdan dan Ray
(1042 M), Mosul (1043 M), Isfahan (1050 M), serta Azerbaijan (1054 M).
Puncaknya Tugrul Bek menduduki Bagdad pada tehun 1055 M. Sultan terakhir Bani
Buwaih, Malik ar-Rahim di tangkap dan dipenjarakan oleh Tugrul Bek. Dengan
demikian, berakhirlah masa pemerintahan Bani Buwaih.
Sumber:
Drs H Darsono, Drs T Ibrani. 2004. Tonggak
Sejarah Kebudayaan Islam:Madrasah Tsanawiyah III. Solo: PT Tiga Serangkai
Pustaka Mandiri. Hlm 47-49.
No comments:
Post a Comment