Friday, June 8, 2018

Sejarah Bani Buwaih



Sebelum berkuasa, keluarga Buwaih adalah rakyat biasa. Akan tetapi, mereka mendapatkan kemuliaan yang dihubungakan dengan keluarga Sasanid sehingga mencapai tampik kekuasaan.

A.      Berdirinya Bani Buwaih

kekuasaan Bani Buwaih ditegakkan tiga bersaudara, yaitu Ali, Hasan, dan Ahmad, putra dari Buwaih bin Syuja’. Mereka bersal dari suku Dailami yaitu suku bangsa pegunungan dari daerah sebelah barat daya Laut Kaspia. Suku Dailami pada awalnya prajurit-prajurit yang tangguh yang dapat diandalkan dalam setiap medan pertempuran. Oleh karena itu, keberadaan mereka sangat diperhitungkan oleh para penguasa wilayah di sekitar Laut Kaspia ketika itu.
Pada mulanya, kekuatan militer yang mereka miliki dipergunakan untuk menyebarkan paham Syiah Isna Asy’ariyah (syiah dua belas imam) yang mereka anut. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, mereka melibatkan diri dalam pemerintahan dengan mengabdi kepada dinasti Bani Syiariah dan Bani Samaniyah.
Kekuatan mereka menjadi makin kuat dengan banyaknya masyarakat yang mengikuti ajaran Syiah Isna Asy’ariyah yang mereka sebarkan. Pada masa Bani Samaniyah yang runtuh tahun 1005 M. Mereka berhasil menetapkan kekuasaan. Ali bin Buawaih, putra yang tertua, berkuasa di Isfahan; Hasan bin Buwaih, putra yang kedua, berkuasa di Ray (Teheran); Ahmad bin Buwaih, putra yang termuda, berkuasa di Khuzistan dan al-Ahwazyang berbatasan dengan Basrah dan Wasit.
Ketiga saudara itu berhasil mempertahankan kekuasaan hingga meniggal tanpa terjadi perpecahan dan pertentangan di antara mereka. Akan tetapi, sepeniggal mereka, anak cucunya saling menyerang demi kekuasaan. Hal itulah yang akhirnya melemahkan kekuatan Bani Buwaih.

B.      Masa kekuasaan Bani Buwaih

Bani Buwaih berkuasa selama 110 tahun dari tahun 945-1055 M. Mereka berhasil mepertahankan kekuasaan hingga meniggalnya Hasan bin Buwaih tahun 977 M.

Adapun sultan-sultan Bani Buwaih setelah meniggalnya Hasan adalah

1.       Mui’zz ad- Daulah (Ahmad bin Buwaih) 945-967 M
2.       Izzah ad- Daulah (Baktiar bin Ahmad) 967-977 M
3.       Adud ad-Daulah 977-983 M
4.       Samsam ad-Daulah 983-987 M
5.       Syaraf ad-Daulah 987-989 M
6.       Baha ad-Daulah 989-1012 M
7.       Ad- Daulah 1012-1019 M
8.       Musyarif ad-Daulah 1019-1025 M
9.       Jalal ad-Daulah 1025-1044 M
10.   Abu Khalijar 1044-1048 M
11.   Malik ar-Rahim 1048-1055 M

Selama masa kekuasaan Bani Buwaih banyak terjadi perang saudara. Penyebabnya adalah tidak adanya sulatan atau peminpin yang dapat memimpin Daulah Bani Buwaih. Selain itu, banyaknya ancaman dari luar, terutama dari Bani Fatimiah dan Bani Seljuk.
Meskipun terjadi berbagai pergolakan, pada masa itu ilmu pengetahuan banyak mengalami perkembangan. Adapun beberapa ilmuan yang muncul saat itu adalah
1)      Ibnu an-Nadim (wafat 995 M), menulis buku al-Fihris
2)      Ibnu Maskawih (wafat 1030 M), seorang sejarawan dan filsuf yang menulis buku Tajarib al-Umam
3)      Abu al-Faraj al-Isfahani (wafat 967 M), seorang sejarawan dan sastrawan yang menulis buku al-Agani
4)      Abu Wafa’ an-Nasawi, seorang ahli matematika yang memperkenalkan sistem angka India ke dalam Islam.

C.      Runtuhnya Bani Buwaih

Sebab utama runtuhnya Bani Buwaih adalah kegagalan mereka dalam menjaga kekompakan dan kesatuan dalam keluarganya. Sejak meniggalnya Hasan Bin Buwaih, keluaraga Bani Buwaih terlibat dalam perang saudara. Hal ini membuat pengaruh kaum Seljuk dalam pemerintahan makin kuat.
Pada mulanya Bani Seljuk merupakan pendukung utama kekuatan Bani Buwaih. Oleh karena itu, pada masa pemerintahan Bani Buwaih, Bani Seljuk banyak menduduki posisi penting dalam ketentaraan. Akibatnya posisi bertambah kuat, sementara kekuatan Bani Buwaih terus melemah. Pada masa pemerintahan Izz ad- Daulah tahun967 M Bani Seljukmencoba merebut Bagdad, tetapi usaha itu gagal. Pada masa selanjutnya ancaman bertambah dengan adanya serangan Mahmud al-Gaznawi (penguasa dinasti Gasnawiah). Ia berhasil menduduki Ray dan Jibal pada tahun 1029 M. Selain itu, muncul pula ancaman dari bangsa Kurdiyang dipimpin oleh Fadluyah. Mereka berhasil menduduki Fars pada tahun 1056 M.
Akibat adanya ancaman-ancaman tersebut, Bani Buwaih terpaksa mengadakan persekutuan dengan Tugrul Bek, seorang peminpin Bani Seljuk. Akibatnya, Tugrul Bek dapat memasuki Khurasan dan sekaligus menyatakan dirinya sultan di Nisabur. Selanjutnya, Tugrul Bek merebut Jurjan dan Tabaristan (1041 M) Hamdan dan Ray (1042 M), Mosul (1043 M), Isfahan (1050 M), serta Azerbaijan (1054 M). Puncaknya Tugrul Bek menduduki Bagdad pada tehun 1055 M. Sultan terakhir Bani Buwaih, Malik ar-Rahim di tangkap dan dipenjarakan oleh Tugrul Bek. Dengan demikian, berakhirlah masa pemerintahan Bani Buwaih.



    Sumber: Drs H Darsono, Drs T Ibrani. 2004. Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam:Madrasah Tsanawiyah III. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Hlm 47-49.

No comments:

Post a Comment

Islam di Benua Afrika

Islam di Afrika Sejak pada masa Rasulullah SAW, sebenarnya telah ada hubungan baik dengan salah satu raja yang terdapat di benua Af...