SEJARAH BANI FATIMIAH
Pada priode
kedua masa pemerintahan bani Abbasiyah, koordinasi pemerintah Bani Abbasiyah
mulai melemah. Hal itu menjadi sebab awal runtuhnya pemerintahan Bani
Abbasiyah. Kekuatan Bani Abbasiyah di Bagdad mulai tersaingi oleh kekuatan dari
daerah lain, diantaranya adalah Bani Fatimiah di Afrika utara, bani Buwaih,
Syiraz, dan Bani Saljuk dari Turkistan.
A. Berdirinya Bani Fatimiah
Dinasti
Bani Fatimiah merupakan kekhalifahan yang berkuasa di Afrika Utara dan Mesir
selama kurang lebih 262 tahun, yaitu dari tahun 909-1171 M. Dinasti ini
mengambil namanya dari Fatimah az-Zahra, putri Rasullulah saw. Mereka
menasabkan asal usul mereka kepada Ali bin Abi Thalib dan Ftimah binti Muhammad
saw. Melalui garis Ismail, putra Ja’far as-Sadiq. Bani Fatimiah Menganut aliran
Syiah.
Akan
tetapi, musuh-musuh Bani Fatimiah menolak bahwa asal-usul mereka berasal dari
Ali bin Abi Thalib. Meraka menuduh Bani Fatimiah sebagai penipu. Para sejarawan
juga belum bisa menentukan asal-usul mereka secara pasti.
B. Masa kekuasaan Bani Fatimiah
Berdirinya
Bani Fatimiah merupakan akibat melemahnya kekuasaan Bani Abbasiyah di Bagdad.
Khalifah-khalifah Bani Abbasiyah tidak mampu lagi mengontrol daerah-daerah yang
jauh dari pusat kekuasaan. Melemahnya kekuasaan Bani Abbasiyah memberi
kesempatan kepada kelompok Syiah, Kwarij dan Mawali untuk melakukan gerakan.
Di
Afrika Utara, kelompok Syiah Islamiah mulai membangun gerakanya. Pada tahun 909
M, Ubaidillah al-Mahdi memproklamasikan berdirinya kekhalifahan Bani Fatimiah
yang terlepas dari kekuasaan Bani Abbasiyah. Ia memperkuat posisinya di Tunis,
Tunisia. Dalam usahanya itu ia dibantu oleh Abdulah asy-Syi’i, seorang dai
Ismailiah yang berperan mendirikan daulah Fatimiah di Tunis. Setelah
kekhalifahan Bani Fatimiah berdiri, ia segera mendapat perlawanan dari kelompok
pendukung Bani Umayyah di Andalusia serta kelompok Khawarij dan Barbar.
Berikut
ini khalifah-khalifah Bani Fatimiah.
1.
Ubaidillah al- Mahdi (909-934 M)
2.
Al-Qa’im(934-946 M)
3.
Al- Mansur(946-953 M)
4.
Al-Mu’izz (953-975 M)
5.
Al-Aziz (975-966 M)
6.
Al-Hakim (996-1021 M)
7.
Az-Zahir(1021-1036 M)
8.
Al-Mustansir (1036-1094 M)
9.
Al-Musta’li (1094-1011 M)
10.
Al-Amir (1101-1130 M)
11.
Al-Hafiz (1130-1149 M)
12.
Az-Zafir (1149-1154 M)
13.
Al-Faiz (1154-1160 M)
14.
Al-Adid (1160-1171 M)
Setelah
mengukuhkan kekuasaanya di Tunis, Bani Fatimiah menguasai Mesir pada tahun 969
M. Pada waktu itu, Bani Fatimiah dipimpin oleh Khalifah Al-Mu’izz (Khalifah
keempat) dan panglimanya yang termasyur, yaitu Jauhar al-Khatib as-Siggili.
Kahalifah Al-Mu’izz kemudian mendirikan kota baru yang disebut al-Qahirah
(kairo) yang berarti kemenangan. Setelah itu Khalifah memindahakan ibukota ke
Kairo. Di Mesir inilah Bani Fatimiah mencapai puncak kejayaanya, terutama pada
masa pemerintahan al-Muizz, AL-Aziz dan Al-Hakim. Pada masa al-Aziz, istananya
bisa menampung 30.000 tamu, mesjidnya sangat megah, perhubungan lancar, dan
keamanan terjamin. Pembangunan dilakukan di sektor pertanian, perdagangan, dan
industri sesuai dengan perkembangan teknologi pada waktu itu.
Bani Fatimaiah
juaga mencapai perkembangan yang pesat dalam bidang kebudayaan. sebagai
contohnya didirikanya Universitas Al-Azhar. Universitas tersebut berfungsi
sebagai pusat pengkajian Islam serta pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam
perkembangan selanjutnya, Universitas Al-Azhar dimanfaatkan tidak hanya oleh
kelompok Syiah, tetapi juga kelompok Suni.
Pada masa
Khalifah al-Hakim (kahalifah keenam) didirikan Darul Hikmah, yaitu pusat
pengajaran ilmu kedokteran dan ilmu
astronomi. Pada masa itu muncul Ibnu Yunus (958-1005 M), seorang astronom besar
dan Ibnu Haitam (965-1039 M), seorang ilmuan fisika dan optik. Selain itu
al-Hakim juga mendirikan perpustakaan yang diberi nama Dar al-‘Ilm yang menyedikakan juataan buku dalam berbagai cabang
ilmu pengetahuan. Pada tahun 1013 M al-Hakim membentuk majlis ilmu di
istananya. Di tempat itu, para ilmuan berkumpul untuk mendiskusikan berbagai
cabang ilmu pengetahuan. Kegiatan ini memunculkan sejumlah ilmuan-ilmuan besar
Mesir pada masa selanjutnya.
Beberapa
faktor yang mendorong kamajuan Bani Fatimiah adalah militer yang kuat,
administrasi pemerintahan yang baik, ilmu pengetahuan yang berkembang, dan
perekonomian yang stabil. Akan tetapi Bani Fatimiah kurang berhasil dalam
bidang politik, baik dalam maupun luar negri. Halitu terjadi terutama ketika
menghadapi kelompok Nasrani dan Islam Suni yang telah lebih dahulu mapan di
Mesir. Hal itu diperburuk lagi dengan lemahnya figur Khalifah setelah
meniggalnya Khalifah al-Aziz. Lemahnya figur khalifah itu karena banyak
Khalifah yang diangkat pada usia yang masih muda. Khalifah hanya menjadi boneka
para wasir dan pejabat yang berkepentingan. Selain itu, juga terdapat konflik
kepentingan diantara pejabat istana yang berasl dari suku Barbar, Turki, Bani
Hamdan dan Sudan. Faktor lain yang menyebabkan ketidakberhasilan Bani Fatimiah
dalm bidang politik adalah kehidupan para Khalifah dan bangsawan yang tenggelam
dalam kemewahan serta pemaksaan ideologi Syiah kepada rakyat Mesir yang
mayoritas Suni.
C. Runtuhnya Bani Fatimiah
Runtuhnya
kekuasaan Bani Fatimiah berawal dari konflik kepentingan untuk memperebutkan
jabatan wazir di istana Bani Fatimiah. Selain itu, terdengar rencana
penyerangan pasukan salib terhadap Bani Fatimiah.
Pada masa itu,
pemerintahan di pegang oleh Khalifah az-Zafir. Ia merasa tidak mampu menahan
serangan pasukan salib. Oleh karena itu, pada tahun 1150 M, ia meminta bantuan
Nuruddin Zanki, penguasa Bani Abbasiyah
di Suriah.Nuruddin Zanki kemudian mengirimkan Asaduddin Syirkuh dan Saluhuddin
Yusuf al-Ayyubi. Mereka berhasil membendung seranagan tentara salib ke Mesir
yang dipimpin oleh Amauri. Setelah itu, Asaduddin Syirkuh dan Salahuddin
al-Ayyubi kembali ke Suriah.
Pada masa
pemerintahan Khalifah al-Adid, Amauri kembali menyerang Mesir. Khalifah al-Adid
kembali meminta bantuan kepada Nuruddin Zanki melalui perdana mentrinya yang
bernama Syawar. Asaduddin Syirkuh dan Salahuddin al-Ayyubi yang dikirmkan oleh
Nuruddin Zanki berhasil mengalahkan pasukan salib yang dipimpin Amauri dan
Mesir bisa terlepas dari ancaman tentara salib. Asaduddin Syirkuh dan
Salahuddin al-Ayyubi mendapat sambutan hangat dari Khalifah dan semua
masyarakat Mesir. Keadaan itu menimbulkan rasa iri pada Syawar. Kemudian, ia
berusaha menyingkirkan dua orang tersebut. Akan tetapi niat buruk itu diketahui
oleh Asaduddin Syirkuh dan Salahuddin Yusuf al-Ayubbi. Mereka berhasil menagkap
Syawar, sebelum ia sempat melaksanakan rencananya. Syawar akhirnya dihukum mati
oleh Khalifah.
Khalifah
al-Adid kemudian mengangkat Asdaduddin Syirkuh sebagai perdana mentri pada
tahun 1169 M. Akan tetapi, ia menjabat perdana mentri selama dua bulan karena
meniggal. Kedudukanya digantikan oleh Salahuddin al-Ayyubi. Ia mendapat gelar al-Malik an-Nasir. Mulai saat itu,
pemegang kekuasaan di Mesir adalah Salahuddin Yusuf al-Ayyubi. Setelah Khalifah
al-Adid meniggal dunia pada tahun 1171, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi menyatakan
kesetiaannya pada khalifah Bani Abbasiyah, al-Mustadi. Peristiwa itu menandai
berakhirnya kekuasaan Dinasti Bani Fatimiah. Penguasa Mesir selanjutnya adalah
Dinasti Ayyubiyah.
Sumber: Drs H Darsono, Drs T Ibrani. 2004. Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam:Madrasah
Tsanawiyah III. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Owh, Dinasti Bani Fatimiyah itu diambil dari nama Putri nabi Fatimah ...
ReplyDelete