Tuesday, June 5, 2018

Sejarah Dinasti Bani Fatimiah



SEJARAH BANI FATIMIAH
Pada priode kedua masa pemerintahan bani Abbasiyah, koordinasi pemerintah Bani Abbasiyah mulai melemah. Hal itu menjadi sebab awal runtuhnya pemerintahan Bani Abbasiyah. Kekuatan Bani Abbasiyah di Bagdad mulai tersaingi oleh kekuatan dari daerah lain, diantaranya adalah Bani Fatimiah di Afrika utara, bani Buwaih, Syiraz, dan Bani Saljuk dari Turkistan.
A.      Berdirinya Bani Fatimiah

Dinasti Bani Fatimiah merupakan kekhalifahan yang berkuasa di Afrika Utara dan Mesir selama kurang lebih 262 tahun, yaitu dari tahun 909-1171 M. Dinasti ini mengambil namanya dari Fatimah az-Zahra, putri Rasullulah saw. Mereka menasabkan asal usul mereka kepada Ali bin Abi Thalib dan Ftimah binti Muhammad saw. Melalui garis Ismail, putra Ja’far as-Sadiq. Bani Fatimiah Menganut aliran Syiah.

Akan tetapi, musuh-musuh Bani Fatimiah menolak bahwa asal-usul mereka berasal dari Ali bin Abi Thalib. Meraka menuduh Bani Fatimiah sebagai penipu. Para sejarawan juga belum bisa menentukan asal-usul mereka secara pasti.

B.      Masa kekuasaan Bani Fatimiah

Berdirinya Bani Fatimiah merupakan akibat melemahnya kekuasaan Bani Abbasiyah di Bagdad. Khalifah-khalifah Bani Abbasiyah tidak mampu lagi mengontrol daerah-daerah yang jauh dari pusat kekuasaan. Melemahnya kekuasaan Bani Abbasiyah memberi kesempatan kepada kelompok Syiah, Kwarij dan Mawali untuk melakukan gerakan.

Di Afrika Utara, kelompok Syiah Islamiah mulai membangun gerakanya. Pada tahun 909 M, Ubaidillah al-Mahdi memproklamasikan berdirinya kekhalifahan Bani Fatimiah yang terlepas dari kekuasaan Bani Abbasiyah. Ia memperkuat posisinya di Tunis, Tunisia. Dalam usahanya itu ia dibantu oleh Abdulah asy-Syi’i, seorang dai Ismailiah yang berperan mendirikan daulah Fatimiah di Tunis. Setelah kekhalifahan Bani Fatimiah berdiri, ia segera mendapat perlawanan dari kelompok pendukung Bani Umayyah di Andalusia serta kelompok Khawarij dan Barbar.
                                Berikut ini khalifah-khalifah Bani Fatimiah.
1.       Ubaidillah al- Mahdi (909-934 M)
2.       Al-Qa’im(934-946 M)
3.       Al- Mansur(946-953 M)
4.       Al-Mu’izz (953-975 M)
5.       Al-Aziz (975-966 M)
6.       Al-Hakim (996-1021 M)
7.       Az-Zahir(1021-1036 M)
8.       Al-Mustansir (1036-1094 M)
9.       Al-Musta’li (1094-1011 M)
10.   Al-Amir (1101-1130 M)
11.   Al-Hafiz (1130-1149 M)
12.   Az-Zafir (1149-1154 M)
13.   Al-Faiz (1154-1160 M)
14.   Al-Adid (1160-1171 M)
Setelah mengukuhkan kekuasaanya di Tunis, Bani Fatimiah menguasai Mesir pada tahun 969 M. Pada waktu itu, Bani Fatimiah dipimpin oleh Khalifah Al-Mu’izz (Khalifah keempat) dan panglimanya yang termasyur, yaitu Jauhar al-Khatib as-Siggili. Kahalifah Al-Mu’izz kemudian mendirikan kota baru yang disebut al-Qahirah (kairo) yang berarti kemenangan. Setelah itu Khalifah memindahakan ibukota ke Kairo. Di Mesir inilah Bani Fatimiah mencapai puncak kejayaanya, terutama pada masa pemerintahan al-Muizz, AL-Aziz dan Al-Hakim. Pada masa al-Aziz, istananya bisa menampung 30.000 tamu, mesjidnya sangat megah, perhubungan lancar, dan keamanan terjamin. Pembangunan dilakukan di sektor pertanian, perdagangan, dan industri sesuai dengan perkembangan teknologi pada waktu itu.
Bani Fatimaiah juaga mencapai perkembangan yang pesat dalam bidang kebudayaan. sebagai contohnya didirikanya Universitas Al-Azhar. Universitas tersebut berfungsi sebagai pusat pengkajian Islam serta pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam perkembangan selanjutnya, Universitas Al-Azhar dimanfaatkan tidak hanya oleh kelompok Syiah, tetapi juga kelompok Suni.
Pada masa Khalifah al-Hakim (kahalifah keenam) didirikan Darul Hikmah, yaitu pusat pengajaran  ilmu kedokteran dan ilmu astronomi. Pada masa itu muncul Ibnu Yunus (958-1005 M), seorang astronom besar dan Ibnu Haitam (965-1039 M), seorang ilmuan fisika dan optik. Selain itu al-Hakim juga mendirikan perpustakaan yang diberi nama Dar al-‘Ilm yang menyedikakan juataan buku dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Pada tahun 1013 M al-Hakim membentuk majlis ilmu di istananya. Di tempat itu, para ilmuan berkumpul untuk mendiskusikan berbagai cabang ilmu pengetahuan. Kegiatan ini memunculkan sejumlah ilmuan-ilmuan besar Mesir pada masa selanjutnya.
Beberapa faktor yang mendorong kamajuan Bani Fatimiah adalah militer yang kuat, administrasi pemerintahan yang baik, ilmu pengetahuan yang berkembang, dan perekonomian yang stabil. Akan tetapi Bani Fatimiah kurang berhasil dalam bidang politik, baik dalam maupun luar negri. Halitu terjadi terutama ketika menghadapi kelompok Nasrani dan Islam Suni yang telah lebih dahulu mapan di Mesir. Hal itu diperburuk lagi dengan lemahnya figur Khalifah setelah meniggalnya Khalifah al-Aziz. Lemahnya figur khalifah itu karena banyak Khalifah yang diangkat pada usia yang masih muda. Khalifah hanya menjadi boneka para wasir dan pejabat yang berkepentingan. Selain itu, juga terdapat konflik kepentingan diantara pejabat istana yang berasl dari suku Barbar, Turki, Bani Hamdan dan Sudan. Faktor lain yang menyebabkan ketidakberhasilan Bani Fatimiah dalm bidang politik adalah kehidupan para Khalifah dan bangsawan yang tenggelam dalam kemewahan serta pemaksaan ideologi Syiah kepada rakyat Mesir yang mayoritas Suni.    
C.      Runtuhnya Bani Fatimiah
Runtuhnya kekuasaan Bani Fatimiah berawal dari konflik kepentingan untuk memperebutkan jabatan wazir di istana Bani Fatimiah. Selain itu, terdengar rencana penyerangan pasukan salib terhadap Bani Fatimiah.
Pada masa itu, pemerintahan di pegang oleh Khalifah az-Zafir. Ia merasa tidak mampu menahan serangan pasukan salib. Oleh karena itu, pada tahun 1150 M, ia meminta bantuan Nuruddin Zanki,  penguasa Bani Abbasiyah di Suriah.Nuruddin Zanki kemudian mengirimkan Asaduddin Syirkuh dan Saluhuddin Yusuf al-Ayyubi. Mereka berhasil membendung seranagan tentara salib ke Mesir yang dipimpin oleh Amauri. Setelah itu, Asaduddin Syirkuh dan Salahuddin al-Ayyubi kembali ke Suriah.
Pada masa pemerintahan Khalifah al-Adid, Amauri kembali menyerang Mesir. Khalifah al-Adid kembali meminta bantuan kepada Nuruddin Zanki melalui perdana mentrinya yang bernama Syawar. Asaduddin Syirkuh dan Salahuddin al-Ayyubi yang dikirmkan oleh Nuruddin Zanki berhasil mengalahkan pasukan salib yang dipimpin Amauri dan Mesir bisa terlepas dari ancaman tentara salib. Asaduddin Syirkuh dan Salahuddin al-Ayyubi mendapat sambutan hangat dari Khalifah dan semua masyarakat Mesir. Keadaan itu menimbulkan rasa iri pada Syawar. Kemudian, ia berusaha menyingkirkan dua orang tersebut. Akan tetapi niat buruk itu diketahui oleh Asaduddin Syirkuh dan Salahuddin Yusuf al-Ayubbi. Mereka berhasil menagkap Syawar, sebelum ia sempat melaksanakan rencananya. Syawar akhirnya dihukum mati oleh Khalifah.
Khalifah al-Adid kemudian mengangkat Asdaduddin Syirkuh sebagai perdana mentri pada tahun 1169 M. Akan tetapi, ia menjabat perdana mentri selama dua bulan karena meniggal. Kedudukanya digantikan oleh Salahuddin al-Ayyubi. Ia mendapat gelar al-Malik an-Nasir. Mulai saat itu, pemegang kekuasaan di Mesir adalah Salahuddin Yusuf al-Ayyubi. Setelah Khalifah al-Adid meniggal dunia pada tahun 1171, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi menyatakan kesetiaannya pada khalifah Bani Abbasiyah, al-Mustadi. Peristiwa itu menandai berakhirnya kekuasaan Dinasti Bani Fatimiah. Penguasa Mesir selanjutnya adalah Dinasti Ayyubiyah.









     


Sumber: Drs H Darsono, Drs T Ibrani. 2004. Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam:Madrasah Tsanawiyah III. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

1 comment:

  1. Owh, Dinasti Bani Fatimiyah itu diambil dari nama Putri nabi Fatimah ...

    ReplyDelete

Islam di Benua Afrika

Islam di Afrika Sejak pada masa Rasulullah SAW, sebenarnya telah ada hubungan baik dengan salah satu raja yang terdapat di benua Af...