Saturday, August 11, 2018

Islam di Andalusia



1.       Masuknya Islam di Andalusia
Islam masuk di Andalusia (Spanyol dan Portugal ) bersamaan waktunya dengan penyerbuan tentara Islam di negeri itu. Ketika pemerintahan Spanyol di bawah kerjaan Islam, penduduk negeri itu diberi kebebasan sepenuhnya untuk menganut agama masing-masing.

Sepeniggal Raja Witiza pada tahun 710 M di Spantol terjadi perebutan kekuasaan antara Redorik, panglima perang yang berhasil merebut tahta kerajaan dengan putra Witiza. Mengingat mereka tidak mampu untuk menghadapinya terpaksa meminta bantuan kepada Musa bin Nuseir gubernur Bani Umayyah di Afrika Utara.

Hanya dalam waktu 7 tahun hampir seluruh Andalusia dapat direbut oleh tentara Islam dibawah pimpinan Tariq bin Ziad. Setelah memperoleh kemenangan yang gemilang dalam menghadapi Roderik di Xeres pada tahun 771 M, kemudian disusul oleh Musa bin Nuseir dengan membawa bala bantuan. Sejak itu Andalusia menjadi salah satu provinsi kerjaan Bani Umayyah di Damaskus.

2.       Perkemabangan Islam di Andalusia

Ketika dinasti Umayyah di Damaskus digulingkan oleh Bani Abbas, tidak lama kemudian diadaka pembersihan terhadap seluruh keluarga di kota itu. Tak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan diri, kecuali Abdur Rahman salah seorang cucu dar Khalifah kesepuluh yang kemudian melarikan diri ke Andalusia untuk meneruskan kekuasaan nenek moyangnya.

Sejak itulah Abdur Rahman I mendirikan kerajaan Bani Umayyah di Andalusia dan berkuasa kira-kira hampir 3 abada lamanya. Mula-mula Abdur Rahman I banyak menghadapi kesulitan dalam menegakkan kerajaan yang didirikanya, baik dari dalam maupun dari luar. Pemberontakan dari dalam digerakkan oleh bekas gubernur yang dikalahkannya, sedangkan serbuan dari luar berasal dari kerajaan Abbasiyah. Akan tetapi, berkat keberanian dan kecakapan yang dimiliki Abdur Rahman I segala bahaya dapat diatasi dengan sebik-baiknya.

Abdur Rahman I berhasil menegakkan sendi-sendi kerajaan dengan mencurahkan perhatianya di bidang pembangunan.

Kota-kota yang terdapat di seluruh wilayah kerajaan terutama Cordova dijadikan sebagai ibu kota kerajaan. Selanjutnya didirikan sebuah taman yang luas dan indah didekat istana nenek moyangnya di Damaskus. Demikian pula saluran-saluran air diperbaiki, jembatan-jembatan didirikan, pertanian, dan perdagangan dimajukan hingga kemakmuran merata di seluruh negri.

Dua tahun sebelum Abdur Rahman I meniggal, beliau memerintahkan untuk membangun seluruh masjid Agung di Cordova sebagai tandingan masjid Agung Umayyah di Damaskus. Oleh beberapa orang penggantinya masjid itu diperluas dan diperindah sehingga menjadi masjid yang termegah di dunia pada masa itu.

Cordova mencapai puncak kejayaanya pada masa pemerintahan Abdur Rahman III (916-961 M). Pada masa itu Cordova mempunyai penduduk lebih dari setengah juta jiwa. Di kota itu terdapat 50 rumah sakit, 700 masjid, 800 sekolahan, dan 300 tempat pemandian umum. Selain itu penuh gedung-gedung yang megah da mewah, diantaranya yang paling megah ialah istana khalifah Madinatus Zahro yang dibangun diatas bukit yang jauhnya 5 km dari pusat kota.

Istana Madinatus Zahro mempunyai 4000 ruangan dan sekitarnya terdapat kantor-kantor dan gedung-gedung pemerintahan, demikian pula tempat tinggal para duta, misalnya duta-duta dari Prancis, Jerman, Italia dan lain-lain.

Karena indah dan besarnya sehingga merupakan sebuah kota tersendiri. Itulah sebabnya istana tersebut kemudian dinamakan Madinatus Zahro, artinya kota yang gilang-gemilang.

Menurut riwayat kota Cordova dibangun selama 40 tahun lamanya dengan menghabiskan sepertiga dari seluruh pendapatan negara setiap tahunya. Adapun pekerja yang digunakannya tidak kurang dari 10.000 orang setiap hari yang didatangkan dari pelbagai negeri. Karena megah dan indahnya kota Cordova disebut sebagai Mutiara Dunia.

Sepeniggal Abdur Rahman III diangkatlah putranya yang bernama Hakam bin Abdur Rahman (861-972 M) yang terkenal sebagai sarjana dan pecipta ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, tidaklah aneh apabila seluruh perhatian pada masa pemerintahanya dicurahkan sepenuhnya untuk memajukan ilmu pengetahuan.

Pada masa Hakam Universitas Cordova terkenal diseluruh dunia sehingga banyak mahasiswa Islam dan Kristen dari Eropa berdatangan dari timur untuk belajar.

Selain itu, di Cordova terdapat banyak perpustakaan diantaranya yang terbesar adalah milik khalifah sendiri yang memiliki koleksi kitab tidak kurang dari 40.000 jilid. Sementara itu, banyak pula tokoh-tokoh buku sehingga penduduk Cordova hampir tidak ada yang buta huruf.

Sepeniggal Al-Hakam, Kerajaan Umayyah berangsur-angsur mengalami kemunduran. Pada akhir abad ke-11 khalifah yang terakhir dari Dinasti Umayyah turun takhta akibat perang saudara yang hebat. Sejak itu timbullah kerajaan-kerajaan kecil yang saling bermusuhan. Sementara itu, kerajaan Kristen di Andalusia Utara yang semula berasal dari pelarian bangsawan-bangsawan Gothia Barat di pegunungan Cantarbaria yang diaggap remeh oleh tentara-tentara Islam sebelumnya, kini berusaha merebut kembali negara-negara yang diduduki oleh raja-raja Islam.

Usia kerajaan Islam di Andalusia dapat diperpanjang dengan munculnya dua kerajaan yang berpusat di Afrika Utara, yaitu kerajaan Murobithin dan Muwahidin yang berkuasa di Andalusia selama kira-kira 3 abad. Kedua kerajaan tersebut akhirnya terdesak oleh kerajaan Kristen sehingga Cordova dapat direbut. Tinggal Granada saja yang masih berada di tangan kerajaan Islam yang kemudian dapat bertahan kira-kira dua abad lamanya.

3.       Akhir Perkembangan Islam di Andalusia

Kerajaan Islam yang terakhir berkuasa di Andalusia ialah kerajaan Bani Ahmar da mencapai puncak kejayaanya pada tahun 1036-1492 M. Peniggalan dari kerajaan Bani Ahmar yang masih ada sampai sekarang adalah istana Al- Hamra yang indah dan megah. Istana itu dikelilingi oleh benteng yang berwarna merah.

Di saat kerajaan Bani Ahmar mengalami kemerosotan, kerajaan Kristen di Andalusia bersatu merebut Granada dari tangan kaum muslim.

Raja Bani Ahmar mencoba mengadakan perlawanan, namun akhirnya terpaksa menyerah setelah Cordova dikepung beberapa waktu lamanya. Pada tahun 1492 Granada menyerah setelah diadakan perjanjian antara kedua belah pihak yang isinya menyatakan bahwa keselamatan raja dan selutuh keluarganya serta hartanya dijamin. Demikian pula kaum muslimin akan diberi kebebasan untuk meniggalkan Andalusia dengan membawa harta kekayaanya, sedangkan bagi mereka yang masih tinggal di Andalusia dijamin kebebasanya untuk tetap menganut agamanya.

Syarat-syarat perjanjian yang terdiri atas 72 pasal itu ternyata hanya berlaku beberapa tahun saja. Pada perkembangan lebih lanjut, mereka yang masih tertinggal di Andalusia dan beragama Islam didorong untuk menganut Kristen, jika menolak harus meniggalkan Andalusia. Bagi mereka yang telah menganut Kristen diselidiki apakah mereka benar-benar telah menganut agama Krisen atau hanya Munafik. Untuk itu, disetiap kota didirikan sebuah pengadilan suci (ingunisi) yang praktiknya merupakan pengadilan yang penuh berlumuran dengan darah. Sementara itu, segala peniggalan yang berbau Islam dilenyapkan. Dengan demikian, kaum muslimin terusir dari Andalusia.




Sumber: Drs H Soepardjo, S.Ag. 2003. Pendidikan Agama Islam 2 untuk SLTP kelas 2. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Hal 120-122.


No comments:

Post a Comment

Islam di Benua Afrika

Islam di Afrika Sejak pada masa Rasulullah SAW, sebenarnya telah ada hubungan baik dengan salah satu raja yang terdapat di benua Af...