1. Masuknya Islam di Andalusia
Islam masuk di Andalusia (Spanyol dan Portugal )
bersamaan waktunya dengan penyerbuan tentara Islam di negeri itu. Ketika
pemerintahan Spanyol di bawah kerjaan Islam, penduduk negeri itu diberi
kebebasan sepenuhnya untuk menganut agama masing-masing.
Sepeniggal Raja Witiza pada tahun 710 M di Spantol
terjadi perebutan kekuasaan antara Redorik, panglima perang yang berhasil
merebut tahta kerajaan dengan putra Witiza. Mengingat mereka tidak mampu untuk
menghadapinya terpaksa meminta bantuan kepada Musa bin Nuseir gubernur Bani
Umayyah di Afrika Utara.
Hanya dalam waktu 7 tahun hampir seluruh Andalusia
dapat direbut oleh tentara Islam dibawah pimpinan Tariq bin Ziad. Setelah
memperoleh kemenangan yang gemilang dalam menghadapi Roderik di Xeres pada
tahun 771 M, kemudian disusul oleh Musa bin Nuseir dengan membawa bala bantuan.
Sejak itu Andalusia menjadi salah satu provinsi kerjaan Bani Umayyah di
Damaskus.
2. Perkemabangan Islam di Andalusia
Ketika dinasti Umayyah di Damaskus digulingkan oleh Bani
Abbas, tidak lama kemudian diadaka pembersihan terhadap seluruh keluarga di
kota itu. Tak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan diri, kecuali Abdur
Rahman salah seorang cucu dar Khalifah kesepuluh yang kemudian melarikan diri
ke Andalusia untuk meneruskan kekuasaan nenek moyangnya.
Sejak itulah Abdur Rahman I mendirikan kerajaan Bani
Umayyah di Andalusia dan berkuasa kira-kira hampir 3 abada lamanya. Mula-mula
Abdur Rahman I banyak menghadapi kesulitan dalam menegakkan kerajaan yang
didirikanya, baik dari dalam maupun dari luar. Pemberontakan dari dalam
digerakkan oleh bekas gubernur yang dikalahkannya, sedangkan serbuan dari luar
berasal dari kerajaan Abbasiyah. Akan tetapi, berkat keberanian dan kecakapan
yang dimiliki Abdur Rahman I segala bahaya dapat diatasi dengan sebik-baiknya.
Abdur Rahman I berhasil menegakkan sendi-sendi kerajaan
dengan mencurahkan perhatianya di bidang pembangunan.
Kota-kota yang terdapat di seluruh wilayah kerajaan
terutama Cordova dijadikan sebagai ibu kota kerajaan. Selanjutnya didirikan
sebuah taman yang luas dan indah didekat istana nenek moyangnya di Damaskus.
Demikian pula saluran-saluran air diperbaiki, jembatan-jembatan didirikan,
pertanian, dan perdagangan dimajukan hingga kemakmuran merata di seluruh negri.
Dua tahun sebelum Abdur Rahman I meniggal, beliau
memerintahkan untuk membangun seluruh masjid Agung di Cordova sebagai tandingan
masjid Agung Umayyah di Damaskus. Oleh beberapa orang penggantinya masjid itu
diperluas dan diperindah sehingga menjadi masjid yang termegah di dunia pada
masa itu.
Cordova mencapai puncak kejayaanya pada masa pemerintahan
Abdur Rahman III (916-961 M). Pada masa itu Cordova mempunyai penduduk lebih
dari setengah juta jiwa. Di kota itu terdapat 50 rumah sakit, 700 masjid, 800
sekolahan, dan 300 tempat pemandian umum. Selain itu penuh gedung-gedung yang
megah da mewah, diantaranya yang paling megah ialah istana khalifah Madinatus
Zahro yang dibangun diatas bukit yang jauhnya 5 km dari pusat kota.
Istana Madinatus Zahro mempunyai 4000 ruangan dan
sekitarnya terdapat kantor-kantor dan gedung-gedung pemerintahan, demikian pula
tempat tinggal para duta, misalnya duta-duta dari Prancis, Jerman, Italia dan
lain-lain.
Karena indah dan besarnya sehingga merupakan sebuah kota
tersendiri. Itulah sebabnya istana tersebut kemudian dinamakan Madinatus Zahro,
artinya kota yang gilang-gemilang.
Menurut riwayat kota Cordova dibangun selama 40 tahun
lamanya dengan menghabiskan sepertiga dari seluruh pendapatan negara setiap
tahunya. Adapun pekerja yang digunakannya tidak kurang dari 10.000 orang setiap
hari yang didatangkan dari pelbagai negeri. Karena megah dan indahnya kota
Cordova disebut sebagai Mutiara Dunia.
Sepeniggal Abdur Rahman III diangkatlah putranya yang
bernama Hakam bin Abdur Rahman (861-972 M) yang terkenal sebagai sarjana dan
pecipta ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, tidaklah aneh apabila seluruh
perhatian pada masa pemerintahanya dicurahkan sepenuhnya untuk memajukan ilmu
pengetahuan.
Pada masa Hakam Universitas Cordova terkenal diseluruh
dunia sehingga banyak mahasiswa Islam dan Kristen dari Eropa berdatangan dari
timur untuk belajar.
Selain itu, di Cordova terdapat banyak perpustakaan
diantaranya yang terbesar adalah milik khalifah sendiri yang memiliki koleksi
kitab tidak kurang dari 40.000 jilid. Sementara itu, banyak pula tokoh-tokoh
buku sehingga penduduk Cordova hampir tidak ada yang buta huruf.
Sepeniggal Al-Hakam, Kerajaan Umayyah berangsur-angsur
mengalami kemunduran. Pada akhir abad ke-11 khalifah yang terakhir dari Dinasti
Umayyah turun takhta akibat perang saudara yang hebat. Sejak itu timbullah
kerajaan-kerajaan kecil yang saling bermusuhan. Sementara itu, kerajaan Kristen
di Andalusia Utara yang semula berasal dari pelarian bangsawan-bangsawan Gothia
Barat di pegunungan Cantarbaria yang diaggap remeh oleh tentara-tentara Islam
sebelumnya, kini berusaha merebut kembali negara-negara yang diduduki oleh
raja-raja Islam.
Usia kerajaan Islam di Andalusia dapat diperpanjang dengan
munculnya dua kerajaan yang berpusat di Afrika Utara, yaitu kerajaan Murobithin
dan Muwahidin yang berkuasa di Andalusia selama kira-kira 3 abad. Kedua
kerajaan tersebut akhirnya terdesak oleh kerajaan Kristen sehingga Cordova
dapat direbut. Tinggal Granada saja yang masih berada di tangan kerajaan Islam
yang kemudian dapat bertahan kira-kira dua abad lamanya.
3. Akhir Perkembangan Islam di Andalusia
Kerajaan Islam yang terakhir berkuasa di Andalusia ialah
kerajaan Bani Ahmar da mencapai puncak kejayaanya pada tahun 1036-1492 M.
Peniggalan dari kerajaan Bani Ahmar yang masih ada sampai sekarang adalah
istana Al- Hamra yang indah dan megah. Istana itu dikelilingi oleh benteng yang
berwarna merah.
Di saat kerajaan Bani Ahmar mengalami kemerosotan, kerajaan
Kristen di Andalusia bersatu merebut Granada dari tangan kaum muslim.
Raja Bani Ahmar mencoba mengadakan perlawanan, namun
akhirnya terpaksa menyerah setelah Cordova dikepung beberapa waktu lamanya.
Pada tahun 1492 Granada menyerah setelah diadakan perjanjian antara kedua belah
pihak yang isinya menyatakan bahwa keselamatan raja dan selutuh keluarganya
serta hartanya dijamin. Demikian pula kaum muslimin akan diberi kebebasan untuk
meniggalkan Andalusia dengan membawa harta kekayaanya, sedangkan bagi mereka
yang masih tinggal di Andalusia dijamin kebebasanya untuk tetap menganut agamanya.
Syarat-syarat perjanjian yang terdiri atas 72 pasal itu
ternyata hanya berlaku beberapa tahun saja. Pada perkembangan lebih lanjut,
mereka yang masih tertinggal di Andalusia dan beragama Islam didorong untuk
menganut Kristen, jika menolak harus meniggalkan Andalusia. Bagi mereka yang
telah menganut Kristen diselidiki apakah mereka benar-benar telah menganut
agama Krisen atau hanya Munafik. Untuk itu, disetiap kota didirikan sebuah
pengadilan suci (ingunisi) yang praktiknya merupakan pengadilan yang penuh
berlumuran dengan darah. Sementara itu, segala peniggalan yang berbau Islam
dilenyapkan. Dengan demikian, kaum muslimin terusir dari Andalusia.
Sumber:
Drs H Soepardjo, S.Ag. 2003. Pendidikan
Agama Islam 2 untuk SLTP kelas 2. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Hal 120-122.
No comments:
Post a Comment