Monday, August 13, 2018

Masa Abbasiyah


 
Daulah bani Umayyah selalu mendapat gangguan dan rongrongan dari tiga kekuasaa atau golongan, yaitu, golongan Khawrij, Syiah dan Bani Abbas. Gerakan Bani Abbas yang dipimpin oleh Ibrahim Al Imam melakukan gerkan secara diam-diam atau rahasia yang berpusat di Khurasan. Dengan pimpinan panglima perang yang bernama Abu Muslim Al Khusrasany, Bani Abbas dapt menguasai daerah Khurasan dan Khufah. Setelah Khufah dapat dikuasai sepenuhnya, diangkatlah Abdul Abbas menjadi Khalifah pertama dari Daulah Abbasiyah pada tahun 132 H/749 M. 

Khalifah-Khalifah Bani Abbas

a.       Abul Abbas As Saffah (132-136 H/749-754 M)

Sesuai dengan kedudukanya sebagai pendiri Daulah Abbasiyah, Abul Abbas As Saffah memusatkan siasat pemerintahanya untuk mengukuhkan kekuasaannya dengan jalan melakukan tindakan tangan besi terhadap lawan politiknya, yaitu Bani Umayyah. Keluaraga Bani Umayyah beserta pendukungnya ditumpas.

Abul Abbas As Saffah menetapkan kota Anbar menjadi ibu kota pemerintahan dan diberi nama Hasymiyah. Ia meniggal pada tahun 136 H/754 M.

b.      Abu Jafar Al Mansur (136-158 H/ 754-755 M)

Usaha Abul Abbas As Saffah dalam menegakkan kestabilan dan keamanan dalam negeri dilanjutkan oleh Abu Jafar Al Mansur dengan cara menumpas pendukung Bani Umayyah serta para pembantunya, seperti Abdullah bin Ali di Siria.

Setelah keamanan dalam negeri terjamin dengan baik, Abu Jafar Al Mansur mulai memajukan ilmu pengetahuan dengan jalan menerjemahkan buku-buku dari bahasa Yunani, Persia, Siria, dan India ke dalam bahasa Arab, terutama di bidang kedokteran, astronomi dan ilmu pasti.

Abu Jafar mendirikan kota Bagdad sebagai ibu kota pemerintahan Islam termashur di timur dan sebagai pusat ilmu pengetahuan. Disamping itu, beliau mendirikan jawatan kehakiman, kepolisian, pajak dan pos untuk meperlancar jalanya roda pemerintahan diseluruh daerah.

Kekuasaan Bani Umayyah dibangun kembali oleh Abdurrahman Ad Dakhil di Spanyol paa tahun 138 H/ 575 M. Pemerintahan baru itu dengan ibukota Cordova.

Kedua kerajaan tersebut berlomba-lomba dalam memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban sehingga mempercepat tercapainya zaman keemasan bagi umat Islam di kedua kerajaan itu.

c.       Al Mahdi (158-169 H/775-785 M)

Pada zaman Khalifah Al Mahdi keadaan telah aman dan stabil. Dengan demikian, telah dapat dilakukan pembangunan-pembangunan yang penting, seperti meperluas Masjidil Haram, memberi bantuan tetap kepada fakir miskin, memperbaiki jalan antara Madinah, Mekah, dan Yaman.

Telah dilakukan pula penyerbuan ke Bizantium di bawah pimpinan putranya Harun Al Rasyid yang berakhir ditandatanganinya suatu perjanjian peletakan senjata dengan pembayaran upeti kepada kaum muslimin sebanyak 90.000 dinar tiap tahun.

Penaklukan ketimur dilakukan sampai ke India. Kerajaan Islam kian bertambah kuat, jaya, dan besar sehingga disegani oleh lawan dan kawan. 
               
d.      Musa Al Hadi (169-170 H/785-786 M)

Masa pemerintahan Al Hadi hanya berjalan tidak lama. Dia banyak menghadapi pemberontakan kaum Syiah, Khawarij, dan golongan Zindiq (atheis), tetapi semuanya dipatahkan oleh Al Hadi.

e.      Harun Al Rasyid (170-193 H/786-809 M)

Harun Al Rasyid terkenal dalam sejarah sebagai seorang Khalifah yang penuh wibawa, dicintai rakyatnya, disegani lawan dan kawan. Beliau sangat mencintai ilmu dan kebudayaan, bijaksana dan penuh inisiatif untuk memajukan kerajaan yang sangat luas itu sehingga tercapailah suatu kemajuan dan kejayaan yang sangat gemilang. Zaman keemasan itu menjadi buah bibir orang, baik dibarat maupun di timur sejak masa itu sampai sekarang.

Kota Bagdad yang disebut kota seribu satu malam mencerminkan kemakamuran dan kemajuan pemerintahan Harun Al Rasyid, dimana-mana terdapat masjid-masjid yang besar, megah serta penuh ukiran yang indah. Diseluruh pelosok kota terdapat gedung-gedung yang megah, jalan-jala yang tertur rapi, gedung kesenian, teropong bintang dan lain sebagainya.

Kemakmuran rakyat tercapai dengan merata. Rakyat hidup dengan aman, makmur dan sejahtera. Pada masa itu pula itu pernah terjadi sangat sulit mendapatkan orang yang berhak menerima zakat karena tidak terdapat orang fakir dan miskin.

Ilmu pengetahuan dan peradaban tumbuh dengan baik. Disekeliling khalifah berkumpul para ahli ilmu sastra, budaya, agama. Kemajuan materiil yang tumbuh dengan pesat diimbangi dengan kemajuan di bidang spritual.

Pada waktu rombongan Khalifah Harun Al Rasyid naik haji, beliau banyak memberikan sumbangan untuk perbaikan dan pembangunan Kabbah, masjid kepentingan sosial lainya. Zubaidah istrinya tidak ketinggalan pula memberikan sumbangan untuk menggali mata air yang akan dialirkan ke kota Mekah. Mata air tersebut terkenal dengan nama mata air Zubaidah.

f.        Al Amin (193-198 H/809-813 M)

Al Amin adalah putra mahkota yang diwasiatkan oleh Harun Al Rasyid sebagai penggantinya. Dalam wasiat disebutkan bahwa setelah Al Amin meniggal, ia digantikan oleh adiknya (lain ibu) Al Makmun. Karena kedurjanaan seorang wasir (mentri) yang bernama) Fadlal bin Rabi, kedua saudara itu dapat dihasutnya dan saling berperang. Terjadilah perang saudara yang berakhir dengan kemenangan Al Makmun.

g.       Al Makmun (198-218 H/813-833 M)

Khalifah Al Makmun bersikap lebih dekat dengan golongan Alawiyah sehingga berhasil mengurangi rongrongan dari golongan Syiah. Disamping itu, dia terus melanjutkan perhatian khusus terhadap ilmu pengetahuan, baik terjemahan buku-buku asing kedalam bahasa Arab, penyusunan buku-buku baru hasil olahan serjana-sarjana muslim dalam berbgai bidang, seperti, bidang filsafat, kedokteran, ilmu pasti, astronomi, kesusatraan dan lain-lain.

Begitu pula dibidang ilmu pengetahuan agama, dia juga memperhatikan dengan sungguh-sungguh.

h.      Muhammad Al Mutasim (218- 227 H/833-842 M)

Al Mutasim lebih banyak emberi kepercayaan terhadap pengawal-pengawal istana yang berasal dari Turki dari pada tentaranya berasal dari Arab dan Persia. Siasatnya itu mengakibatakan timbulnya kebencian dari pihak Arab dan Persia sehingga membawa kelemahan terhadap pengaruh Khalifah.

i.        Harun Al Watsiq (227-232 H/842-847 M)

Di zaman Harun Al Wastiq perpecahan dikalangan kerajaan Islam bertambah para sebagai akibat dari politik yang dijalankan oleh Al Mutasim. Banyak propinsi yang memberontak dan tidak lagi mengakui pemerintah pusat, seperti Hijaz, Siria, Mosul, dan Bagdad sendiri.

Kesempatan itu digunakan dengan baik oleh bekas-bekas budak dari Turki yang diangkat menjadi tentara. Mereka melakukan tindakan sewenag-wenag terhadap penduduk.

Sepeniggal Harun Al Watsiq, makin bertambahlah kesempatan bagi pembesar-pembesar tentara Turki untuk menanamkan pengaruhnya. Begitu pula raja-raja (amir-amir) di daerah merasa lebih berkuasa dari pemerintah pusat. Oleh karena itu, kedudukan khalifah-khalifah Bani Abbas semakin lemah dan mengalami masa kemunduran. Kekuasaan sesungguhnya bukan lagi berada ditangan khalifah, tetapi sudah barada di tangan pembantu-pembantu atau gubernur-gubernur.

Disamping keadaan dalam negeri yang semakin tidak terkendalikan oleh pemerintah pusat, datang pula bahaya yang mengancam dari luar, yaitu dari tentara Mongol yang melakukan penyerangan dari barat, termasuk daerah-daerah kekuasaan kerajaan Abbasiyah. Pada tahun 656 H/ 1258 M, tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan menyerbu kota Bagdad. Mereka melakukan pengepungan selama 50 hari. Akhirnya, tentara Bani Abbas tidak dapat bertahan lagi. Mereka melakukan penyerangan, pembunuhan, dan penghancuran terhadap kota Bagdad dengan segala isinya sehingga mayat bergelimpangan dimana-mana. Sungai Tigris dan Eufrat berubah menjadi merah karena darah penduduk Bagdad yang dibunuh oleh tentara Hulagu Khan. Bangunan-bangunan megah, masjid-masjid, dan pusat-pusat ilmu pengetahuan hancurkan, buku-buku di perpustakaan dibakar atau dibuang ke sungai. Berubahlah Bagdad yang semula disebut kota seribu satu malam menjadi puing-puing. Dengan demikian, berakhiralah kekuasaan Daulah Bani Abbas.   



Drs H Soepardjo, S.Ag. 2003. Pendidikan Agama Islam 2 untuk SLTP kelas 2. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Hal 116-119. Hal 116-119.

No comments:

Post a Comment

Islam di Benua Afrika

Islam di Afrika Sejak pada masa Rasulullah SAW, sebenarnya telah ada hubungan baik dengan salah satu raja yang terdapat di benua Af...