Wednesday, August 15, 2018

Masa Bani Umayyah



Masa Bani Umayyah
Setelah Ali bin Abi Tahlib meniggal, diangkatlah Hasan putra beliau sebagai khalifah. Muawiyah beranggapan setelah adanya Tahkim, jabatan khalifah sepenuhnya berada di tanganya. Dengan adanya pengangkatan Hasan sebagai khalifah, dianggap sebagai tantangan baru yang harus diperangi. Untuk keperluan itu, Muawiyah menyiapkan tentaranya guna menghancurkan kekuatan Hasan dan pengikutnya di Kufah.

Pengaruh Hasan terhadap tentara dan rakyatnya sudah sangat berkurang. Ia tidak mampu lagi menghadapi kekuatan tentara Muawiyah. Oleh karena itu, diadakan perundingan perdamaian untuk menghindari pertimpahan darah. Di antara persetujuan yang dicapai adalah sebagai berikut.

1.       Hasan bersedia meletakkan jabatan khalifah dan menyerahkan kepada Muawiyah dengan syarat setelah itu persoalan khalifah tersebut diserahkan kepada musyawarah kaum muslimin.
2.       Muawiyah dan pengikut-pengikut tidak akan menjelek-jelekkan nama Ali bin Abi Thalib lagi diatas mimbar.

Khalifah-Khalifah Bani Umayyah

a.       Muawiyah Ibnu Abu Sufyan (40-60 H/660-680 M)

Muawiyah adalah pendiri Daulah Bani Umayyah terkenal sebagai diplomat ulung. Ia adalah putra Abu Sufyan, pemimpin Quraisy yang memeluk agama Islam sebelum penaklukkan Mekah. Ia diangkat oleh Khalifah Umar bin Khattab menjadi gubernur (wali) di daerah Siria. Dengan demikian, ia berkesempatan untuk meluaskan pengaruhnya di kalangan tentara dan rakyat Siria.

Pada waktu Khalifah Usman mati terbunuh dan diangkatlah Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah. Muawiyah tidak mengakuinya, bahkan ia menyatakan dirinya menjadi khalifah. Setelah adanya Tahkim, pengaruh Muawiyah bertambah luas di kalangan kaum muslimin. Lebih-lebih setelah banyak sahabat-sahabat terkemuka menyatakan baiat kepadanya. Pengaruhnya itu lebih mantap lagi setelah Hasan bersedia meletakkan diri dari jabatanya. Berkat kegigihan dan ketabahanya, ia dapat mengatasi perlawanan golongan Khawarij dan Syiah sehingga secara berangsur-angsur menghilangkan kebencian umat Islam.

Dalam hal pengaturan dan penyusunan istana, ia mengikuti adat istiadat Romawi yang penuh dengan kesenangan duniawi sehingga berlainan dengan contoh teladan yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah saw. Dan Khulafaurrasyidin.

Pada tahun 56 H/676 M, Muawiyah telah mengakhiri sistem demokrasi dalam pengangkatan Khalifah dan menggantinya sistem Monarki dengan mengangkat anaknya Yazid sebagai putra mahkota. Sekaligus ia juga telah melanggar janji yang telah sama-sama disetujui dengan Hasan bahwa soal jabatan Khalifah akan diserahkan nanti pada musyawarah kaum muslimin.

b.      Yazid Ibnu Muawiyah (60-63 H/680-683 M)

Yasid diangkat menjadi khalifah berdasarkan wasiat bapaknya, Muawiyah. Pengangkatan ini mendapat tantangan dari pemuka-pemuka sahabat karena bertentanagan dengan persetujuan yang tercapai antara Hasan dan Muawiyah.

Husein bin Ali merasa lebih berhak untuk memegang jabatan khalifah. Untuk itu ia berusaha mengumpulkan dukungan dari berbagai pihak. Datang pernyataan dukungan dari Irak dengan disertai permintaan agar Husein datang ke Kufah. Tanpa curiga Husein berangkat ke Kufah dengan pasukan beserta keluarganya sebanyak 90 orang. Sesampainya dipadang Karbela yang ditemui bukan dukungan, melainkan tentara Yazid yang jumlahnya lebih besar dari tentaranya. Tentara Husein dengan mudah dapat dikalahkan oleh tentara Yazid. Husein mati terbunuh. Kejadian itu amat menggemparkan umat Islam dan menimbulkan kebencian terhadap terhadap Yazid sehingga timbul pemberontakan dan perlawanan di mana-mana, antara lain di Madinah dan Mekah.

c.       Muawiyah ibnu Yazid

Setelah Yazid meniggal diganti oleh putranya, Muawiyah ibnu Yazid. Ia disebut juga Muawiyah II. Berhubung keadaan kesehatanya tidak begitu baik dan sulit mepertanggungjawabkan perbuatan ayahnya, masa jabatannya hanya berumur 40 hari. Setelah itu, ia meletakkan jabatan.

d.      Marwan Ibnu Hakam

Melalui musyawarah diantara Bani Umayyah, diangkatlah Marwan ibnu Hakam menjadi khalifah, menggantikan Muawiyah ibnu Yazid. Ia hanya berkesempatan memangku jabatan 9 bulan. Sebelum mangkat, ia menetapkan dua orang putranya menjadi putra mahkota, yaitu Abdul Malik dan Abdul Aziz.

e.      Abdul Malik Ibnu Marwan (65-86 H/685-705 M)

Abdul Malik terkenal sebagai seorang khalifah yang cerdas dan bijaksana. Ia dianggap sebagai pembangun Daulah Bani Umayyah kedua sesudah Muawiyah Ibnu Abu Sufyan.

Langkah pertama yang dilaksanakanya adalah mematahkan kekuatan musuh, baik musuh yang berada didalam maupun diluar. Musuh-musuh itu ialah kekuatan Syiah di Irak, Abdullah bin Zubeir di Hijaz, dan golongan Khawarij yang menyusun kekuatan di Irak dan Parsi. Semua musuhnya dapat dipatahkan dan ditundukkanya.

Setelah menghabiskan waktu lebuh kurang 8 tahun memadamkan pemberontakan, ia mulai mengadakan pembangunan, antara lain menukar uang Parsi dan Romawi dengan mata uang sendiri, mengganti bahasa Parsi dan Romawi dengan bahasa Arab dalam urusan Administrasi, pengembangan seni dan sastra, perbaikan sistem pos, peradilan untuk mengadili pejabat-pejabat yang melanggar hukum, pembangunan perindustrian, pembangunan pertanian, pembangunan pabrik senjata, dan galangan kapal di Tunis, dan lain-lain. Sebelum wafat, Abdul Malik mengangkat dua orang putranya, Walid dan Sulaiman menjadi putra mahkota.

f.        Walid Ibnu Abdul Malik (86-96 H/705-715 M)

Masa pemerintahan Walid adalah masa gemilang bagi Daulah Bani Umayyah. Walid berhasil memperluas kekuasaanya dengan penaklukan, baik ketimur maupun kebarat, yaitu ke daerah Magribi dan Spanyol. Kedua daerah itu dikirim tentara di bawah pimpinan Musa Bin Nuseir dan Tariq bin Ziad sehingga ia dapat menguasai seluruh daerah Spanyol, Afrika Utara, dan Prancis Selatan. Ke timur dikirimnya tentara dibawah pimpinan Qutaibah bin Muslim sehingga dapat menguasai daerah India, Asia tengah sampai perbatasan Tiongkok.

Penaklukkan ini disertai dengan pembangunan di segala bidang, seperti masjid, rumah sakit, jalan, dan lain-lain.

g.       Sulaiman bin Abdul Malik (96-99 H/715-717 M)

Sulaiman sebagai putra mahkota ke-2 menggantikan Walid bin Abdul Malik. Ia kurang bijaksana dalam mengatur siasat pemerintahan dan terlalu memperturutkan nafsu dendamnya terhadap panglima-panglima yang sudah banyak berjasa. Misalnya, panglima Musa bin Nuseir dan Tariq bin Ziad yang telah berjasa menaklukkan Afrika Utara dan Spanyol dipecat oleh Sulaiman karena kedua panglima itu tidak segera menyerahkan harta rampasan dari Spanyol karena masih dalam keadaan sakit.

h.      Umar bin Abdul Aziz (99-101 H/717-720 M)

Umar bin Abdul Aziz terkenal sebagai seorang khalifah yang adil, bijaksana, saleh, penuh tanggung jawab sehingga diberi gelar Farouk II (Farouk I adalah Umar bin Khattab).

Tindakan yang diambil setelah ia memangku jabatan khalifah ialah memperbaiki tindakan-tindakan yang kurang bijaksana dari Sulaiman. Misalnya, mengganti pejabat-pejabat yang diangkat oleh Sulaiman dengan pejabat-pejabat yang cakap dan berwibawa, menghentikan caci makian terhadap golongan Syiah dan sebagainya.

Umar bin Abdul Aziz hidup dengan cara sederhana dan menjauhkan pemborosan uang negara. Jasa-jasa Umar bin Abdul Aziz antara lain :

1.       Membukukan hadis
2.       Mengutamakan dakwah danpenyiaran Islam dari pada perluasan wilayah
3.       Melenyapkan kezaliman dan menegakkan keadilan
4.       Memperkukuh persatuan sesama kaum muslimin
5.       Menigkatkan kesejahtraan rakyat.
Dia berhasil meluruskan kembali tujuan dari suatu negara Islam.

i.        Yazid bin Abdul Malik (101-105 H/720-724 M)

Setelah Yazid menduduki jabatan khalifah, ia cepat terpengaruh untuk untuk mengikuti panggilan hawa nafsu, kemewahan, perbuatan sewenang-wenang dan kezaliman. Hal itu menimbulkan banyak pemberontakan dan memberi peluang kepada lawanya Bani Abbasiyah untuk menyiapkan pemberontakan yang dimulai dari daerah Khurasan.

j.        Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H/724-743 M)

Hisyam adalah seorang khalifah yang bijaksana dan perkasa. Dia masih sempat melanjutkan pembangunan. Akan tetapi, keadaan diseluruh penjuru negara Islam berada dalam kegoncangan sebagai akibat banyaknya pemberontakan, terutama dari golongan Syiah, Khawarij, dan Bani Abbasiyah.

Akhirnya, Daulah Bani Umayyah jatuh pada masa pemerintahan Marwan bin Muhammad (132 H/750 M). Setelah Abu Muslim Al Khursany, panglima perang Bani Abbasiyah berhasil menguasai daerah Khurasan, ia terus melakukan gerakan ke Irak dan menduduki Kufah. Disanalah Abdul Abbas As Saffah diangkat sebagai khalifah pertama dari Daulah Abbasiyah  (132 H/750 M). Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Daulah Bani Umayyah dan digantikan oleh kekuasaan Daulah Abbasiyah yang berlangsunglebih kurang selama 500 tahun.



Sumber:
Drs H Soepardjo, S.Ag. 2003. Pendidikan Agama Islam 2 untuk SLTP kelas 2. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Hal 112-115

No comments:

Post a Comment

Islam di Benua Afrika

Islam di Afrika Sejak pada masa Rasulullah SAW, sebenarnya telah ada hubungan baik dengan salah satu raja yang terdapat di benua Af...