Kerajaan samudra pasai
Kerajaan samudra pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia
kerajaan ini didirikan oleh Malik as
Saleh. Sebelum menganut agama Islam, ia bernama Marah Sile atau Marah selu,
putra Marah Gajah, bangsawan dari Persia. (Marah merupakan gelar para bangsawan
di Pasai).
Kerjaan Samudra Pasai terletak di muara sungai Peusangan di pesisir tmur
Aceh. Pada masa pemerintahan Malik as Saleh, kerajaan Samudra Pasai berkembang
menjadi bandar-bandar besar dan penting artinya bagi perdagangan mancanegara.
Kerajaan Samudra Pasai dapat berkembang menjadi besar karena terletak dijalur
lalu lintas pelayaran dan perdagangan dunia, yakni perairan selat Malaka. Oleh
karena itu banyak pedagang-pedagang dari India, Gujarat, Arab dan Cina datang
ke Samudra Pasai.
Berkat kemajuan perdangangan Samudra Pasai akhirnya menjadi kerajaan yang
makmur dan memiliki pertahanan yang kuat. Untuk memperluas pengaruhnya, Sultan
Malik As Saleh brusaha menguasai daerah-daerah pedalaman. Daerah-daerah yang
berhasil dikuasai antara lain : Tamiang, Balek Bimba, Samer Langga, Simpang
Bulah Telang, Perlak, dan Takus. Daerah-daerah tersebut akhirnya menganut agama
Islam. Setelah Sultan Malik as Saleh wafat, ia di makamkan di Samudra. Diatas
makamnya dibangun batu nisan yang berciri agama Islam. Batu nisan tersebut
berangka tahun 635 Hijriah atau 1297 Masehi. Batu nisan inilah yang menjadi
petunjuk bagi kita bahwa Samudra Pasai merupakan kerjaan Islam pertama di
Indonesia.
Pengganti Sultan Malik As Saleh adalah putranya yang bernama Sultan Muhammad Malik at Thahir. Pada
masa pemerintahanya, singgah seorang musafir dari Maroko bernama Ibn Batuta,
dalam perjalananya dari Delhi ke Cina. Sultan Malik at-Thahir kemudian
digantikan oleh Sultan Mahmud Malik az-Zahir. Tetapi pada masa pemerintahanya,
kerajaan Samudra Pasai mengalami kemunduran. Adiknya bernama Malik az-Zahir
memisahkan diri sehingga kerajaan terpecah.
Pada tahun 1521, kerajaan Samudra Pasai dikuasai oleh Portugis selama
tiga tahun, kemudian tahaun 1524, dikuasai oleh Ali Mughayat Syah dari Aceh.
Selanjutnya Samudra Pasai berada dibawah kekuasaan Aceh.
Sebagai kerajaan maritim, perekonomian kerajaan Samudra Pasai
mengandalkan pelayaran dan perdagangan. Letaknya yang strategis di gerbang
Selat Malaka membuat kerajaan ini menjadi penghubung antara pusat-pusat
perdagangan kepulauan Indonesia dengan Asia Barat, India, dan Cina. Kerajaan
ini, misalnya, mengenakan pajak pada kapal dagang asing yang melewati perairan
di wilayah kekuasaanya.
Sumber:Matroji, Sejarah untuk SMP
kelas VII, Erlangga, 2004.
No comments:
Post a Comment