Tuesday, December 4, 2018

Islam di Tiongkok



Islam di RRC
Menurut hasil penelitian, bahwa sebelum abad ke 5 Masehi sudah ada jalinan hubungan perdagangan antara orang-orang Arab dengan Tiongkok. Bahkan sebagian orang-orang Arab pada waktu itu sudah ada yang menetap di Tiongkok. Ketika itu Tiongkok dipandang sebagai salah satu negri yang maju di dunia dan barang-barang hasil produksinya telah diperdagangkan oleh orang-orang asing, seperti orang Arab, Persia, dan Yahudi.

1.      Masuknya Islam di RRC

Tentang permulaan masuknya Islam di RRC terdapat beberapa penaggalan yang berbeda, tetapi menurut catatan resmi dari Dinasti Tang (618-905) dan catata-catatan lain mengatakan bahwa permulaan masuk Islam di Tiongkok terjadi pada tahun kedua dari pemeritahan Kaisar Yong Hui, yaitu sekitar tahun 30 H atau 651 M. Dinyatakan didalam catatan resmi itu bahwa pada tahun itulah kedatangan delegasi yang pertama kali yang dikirimkan oleh Khalifah Usman bin Affan ke Tiongkok.

Dinasti Tang di Tiongkok dibangun oleh Li Yuan dengan gelar Kaisar Tai Tsu (618-626 M), kemudian digantikan oleh putranya Li Shi Min dengan gelar Kaisar Tai Tsung (627-649 M). Masa pemerintahan kaisar Tai Tsung ini perkembangan kebudayaan dan kesusatraan di Tiongkok mengalami kemajuan. Pada masa kaisar ini bertepatan dengan masa kehidupan Rasulullah SAW.

Ketika Nabi Muhammad SAW masih berada di Makkah dan mengadakan dakwah mendapat tekanan yang dahsyat dari kaum kafir Quraisy, maka beliaupun mengizinkan kepada beberapa orang sahabat untuk hijrah ke Etthiopia. Maka berangkatlah orang-orang sudah masuk Islam sejumlah 101 orang terdiri dari orang laki-laki dan perempuan yang di pimpin oleh Ja’far bin Abu Thalib. Di dalam rombongan itu terdapat Sa’ad bin Lubaid yang mempunyai darah petualang. Sa’ad tidak cocok dengan kehidupan di Ethiopia itu, kemudian berlayar dengan menumpang sebuah kapal dari teluk Aden dengan harapan akan memperoleh kehidupan yang lebih serasi di tempat perantauan. Armada dagang orang-orang Arab dari teluk Persi maupun dari teluk Aden biasanya berlayar pada bulan Mei dan Juni ke arah timur dan pulang kembali pada bulan Oktober dan bulan November karena mengikuti arah musim angin. Mereka telah mengenal cara mempergunakan kompas yang ditemukan untuk pertama kalinya di negeri Cina. Kapal yang membawa Sa’ad bin Lubaid setelah beberapa bulan tiba di bandar Kanton sebuah bandar dagang yang paling modrn saat itu. Disitu ia menjumpai orang-orang senegrinya, yang kebanyakan berasal dari Hadramaut dan Teluk Persi, dan belum masuk Islam. Sa’ad mulai meyebarkan agama Islam, dari tahun 9 H sampai dengan 14 H. Nama lengkap Sa’ad ialah Sa’ad bin Lubaid Al Habsy, mempunyai seorang teman bernama Yusuf. Tidak diketahui pasti, apakah Yusuf itu temanya ketika bersama-sama berlayar dari Ethiopia atau orang Arab yang sudah ada terlebih dahulu di Kanton karena berdagang.

Kedua orang itu giat sekali dalam penyiaran agama Islam. Sa’ad berdakwah di daerah Chuan Chow dan Chang Chow, sedangkan Yusuf di daerah Kanton. Hal ini dapat dibuktikan dengan kehadiran masjid dengan menara cemerlang dan masjid dengan tanduk satu. Dua buah masjid ini merupakan masjid tertua di Cina. Masjid dengan cemerlang yang terdapat di Kanton itu kecuali dipergunakan untuk kepentingan Adzan juga dijadikan semacam mercusuar oleh kapal-kapal yang berlayar memasuki bandar kanton itu.

Orang-orang Arab yang berada di negeri Cina mudah menerima ajaran Islam yang disampaikan oleh Sa’ad dan Yusuf, karena pada saat sebelum wafat Nabi Muhammad SAW seluruh orang Arab di semenajung Arabia sudah masuk Islam. Berita ini terdengar sampai ditelinga mereka. Selain itu ajaran Islam memang dirasa cocok dan menggairahkan bagi siapapun. Faktor lain juga Sa’ad dan Yusuf meperhatikan sebagai pribadi muslim yang patut diteladani dikalangan mereka. Orang-orang Arab yang tinggal dinegeri Cina ini sebenarnya sudah cukup lama dan mereka telah sempat melangsungkan perkawinan campur (assimilasi) secara meluas. Dengan demikian, agama Islam yang tersebar di daerah Cina ini tidak hanya terjadi pada orang-orang Arab saja tetapi juga berkembang dalam lingkungan orang-orang Cina sendiri.

Dari data sejarah ini dapat diketahui bahwa agama Islam berkembang di negara Cina lebih dahulu dibanding dengan di negara lain yang berada diluar Arabia. Agama Islam berkembang di negeri Cina bukan melalui peperangan dan pertumpahan darah tetapi melalui jalur perdagangan yang dilakukan oleh para pedagang Arab. Mereka selain berdagang juga mengadakan hubungan yang akrab dengan penduduk setempat sambil berdakwah kepada mereka.

2.      Perkembangan Islam di RRC

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab (634-644 M) pasukan Islam, dibawah pimpinan panglima yang terkenal yaitu Sa’ad bin Abi Waqash, telah dapat menghancurkan pasukan-pasukan Persia. Pasukan Islam dapat menguasai wilayah Khurasan hingga sampai ke wilayah suku Turki yang terletak diantara sungai Amu Darya dengan Sir Darya yang mengakui kekuasaan Cina. Dengan demikian semenjak itu antara Arab dengan Cina menjadi saling berbatasan dan bertetangga yang tadinya di pisahkan oleh Imperium Parsi. Kaisar Persi dengan bantuan Kaisar Yong Hui berusaha merebut kembali daerah-daerah yang telah dikuasai oleh pasukan Islam. Namun usaha itu gagal karena pasukan Kisrah dapat dihancurkan oleh Panglima Ahnaf bin Kais at Tamimi dan Kisra Persi sendiri mati terbunuh.terhadap Cina yang telah membantu Persi Khalifah Utsman bin Affan mengirimkan nota keras yang dibawah oleh suatu delegasi oleh mantan Panglima Sa’ad bin Abi Waqash. Akhirnya sejak itu terjalin hubungan yang baik antara Cina dengan pemerintah Islam. Pada masa Daulat Umayyah (661-705 M) di buka hubungan diplomatik secara resmi antara pemerintah Islam dengan Dinasty Tong (618-905 M). Pada masa daulat Abbasiyah pernah terjadi konflik sengait antara Khalifah Abul Abbas As Safah dengan Cina, tetapi akhirnya kedua pemerintahan itu saling menghormati perjanjian perbatasan yang telah mereka sepakati. Pada masa Khalifah Al Mansur (754-775 M) di dalam negeri Cina terjadi gerakan pemberontakan dari salah seorang gubernur yang tidak puas dengan kebijaksanaan perdana mentri Yang Kuo Chung pada masa kaisar Hsuan Chung. Pihak pemerintah Cina minta bantuan kepada Khalifah Al Manshur untuk mengatasi pemberontakan itu dengan pemberontakan berhasil di tumpas.

Waktu berjalan terus dan gelombang pasang surut pun dialami juga oleh Islam di negeri Cina. Semenjak tahun 1908 M dan seterusnya pihak Muslim di Cina menjadi lebih modern da bijaksana dalam mengembangkan ajaran Islam. Pengajian-pengajian yang tadinya diselenggarakan secara tradisional dalam bentuk kelompok-kelompok (halaqah) diubah menjadi perguruan tinggi yang modern. Al Imam Wan Kuon telah membangun perguruan Tinggi yang modern di Peking yang menggairahkan para pelajar dan mahasiswa untuk mendalami kebudayaan Tiongkok disamping mendalami Al-Quran. Semenjak pemerintahan republik terbentuk, pihak muslim di Cina memasuki era baru memperoleh kedudukan yang baik dan bersikap progresif. Pemerintah republik dan juga pihak-pihak non muslim mulai memperlihatkan penghargaanya terhadap peranan muslim di dalam membangun republik. Pihak muslim sudah diakui sebagai salah satu diantara lima suku bangsa di Cina. Bendera republik yang terdiri atas lima garis horizontal itu mewakili lima suku bangsa yaitu Merah untuk Han, kuning untuk turunan manchu, biru untuk Mongol, putih untuk turunan Muslim dan hitam untuk turunan Tibet. 

Dewasa ini pemerintah komunis Cina menamakan seluruh muslim di Cina dengan sebutan suku bangsa Hui. Konstitusi nasional dengan jelas menjamin kebebasan Agama. Islam diakui secara resmi sehingga memberikan hak kepada wakil-wakil muslim untuk duduk di dalam majlis nasional yang dipilih oleh muslim yang berada diseluruh wilayah Cina.

Sejumlah besar perguruan Islam didirikan di daerah-daerah yang berpenduduk Islam, semenjak pembentukan republik. Demikian juga sekolah lanjutan seperti Nort west College di Peking Ming Teh Secondary School di Yunan, Mu Sing Secondary School di Hancow, Kun Lung Middle School di Chiang Hai dan Cheng Ta Islamic Normal School di Tsianan, dan Peking. Buku-buku tentang Islam dan buku-buku lainya yang mempunyai kaitan dengan Islam berangsur-angsur di revisi dengan melakukan peninjauan kembali. Sistem pengajaran-pengajaran yang bersifat modrn diperkenalkan diseluruh perguruan itu. Semua lembaga pendidikan Islam berstatus swasta, dibiayayai sendiri oleh sumber-sumber yang didapat dari pihak muslim tanpa bantuan pemerintah. Dalam waktu 32 tahun menjelang tahun 1944 media massa dipergunakan sebaik-baiknya oleh pihak muslim. Pada waktu itu banyak sekali buku-buku tentang Islam diterbitkan diantaranya tafsir Al Quran dan kamus Arab Tiongkok diterbitkan tahun 1950. Selain buku-buku yang diterbitkan di dalam negri, juga banyak buku-buku impor yang dipasarkan di Cina. Menurut catatan Cina year book of 1930 jumlah muslim di Cina sebesar 48 juta. Diperkirakan sekarang mencapai 110 juta jiwa.

 Sumber: Departemen Agama RI. 1994. Pendidikan Agama Islam untuk SMA kelas II


    


No comments:

Post a Comment

Islam di Benua Afrika

Islam di Afrika Sejak pada masa Rasulullah SAW, sebenarnya telah ada hubungan baik dengan salah satu raja yang terdapat di benua Af...