Islam di RRC
Menurut
hasil penelitian, bahwa sebelum abad ke 5 Masehi sudah ada jalinan hubungan
perdagangan antara orang-orang Arab dengan Tiongkok. Bahkan sebagian
orang-orang Arab pada waktu itu sudah ada yang menetap di Tiongkok. Ketika itu
Tiongkok dipandang sebagai salah satu negri yang maju di dunia dan
barang-barang hasil produksinya telah diperdagangkan oleh orang-orang asing,
seperti orang Arab, Persia, dan Yahudi.
1.
Masuknya
Islam di RRC
Tentang
permulaan masuknya Islam di RRC terdapat beberapa penaggalan yang berbeda,
tetapi menurut catatan resmi dari Dinasti Tang (618-905) dan catata-catatan
lain mengatakan bahwa permulaan masuk Islam di Tiongkok terjadi pada tahun
kedua dari pemeritahan Kaisar Yong Hui, yaitu sekitar tahun 30 H atau 651 M. Dinyatakan
didalam catatan resmi itu bahwa pada tahun itulah kedatangan delegasi yang
pertama kali yang dikirimkan oleh Khalifah Usman bin Affan ke Tiongkok.
Dinasti Tang
di Tiongkok dibangun oleh Li Yuan dengan gelar Kaisar Tai Tsu (618-626 M),
kemudian digantikan oleh putranya Li Shi Min dengan gelar Kaisar Tai Tsung
(627-649 M). Masa pemerintahan kaisar Tai Tsung ini perkembangan kebudayaan dan
kesusatraan di Tiongkok mengalami kemajuan. Pada masa kaisar ini bertepatan
dengan masa kehidupan Rasulullah SAW.
Ketika Nabi
Muhammad SAW masih berada di Makkah dan mengadakan dakwah mendapat tekanan yang
dahsyat dari kaum kafir Quraisy, maka beliaupun mengizinkan kepada beberapa
orang sahabat untuk hijrah ke Etthiopia. Maka berangkatlah orang-orang sudah
masuk Islam sejumlah 101 orang terdiri dari orang laki-laki dan perempuan yang
di pimpin oleh Ja’far bin Abu Thalib. Di dalam rombongan itu terdapat Sa’ad bin
Lubaid yang mempunyai darah petualang. Sa’ad tidak cocok dengan kehidupan di
Ethiopia itu, kemudian berlayar dengan menumpang sebuah kapal dari teluk Aden
dengan harapan akan memperoleh kehidupan yang lebih serasi di tempat
perantauan. Armada dagang orang-orang Arab dari teluk Persi maupun dari teluk
Aden biasanya berlayar pada bulan Mei dan Juni ke arah timur dan pulang kembali
pada bulan Oktober dan bulan November karena mengikuti arah musim angin. Mereka
telah mengenal cara mempergunakan kompas yang ditemukan untuk pertama kalinya
di negeri Cina. Kapal yang membawa Sa’ad bin Lubaid setelah beberapa bulan tiba
di bandar Kanton sebuah bandar dagang yang paling modrn saat itu. Disitu ia
menjumpai orang-orang senegrinya, yang kebanyakan berasal dari Hadramaut dan
Teluk Persi, dan belum masuk Islam. Sa’ad mulai meyebarkan agama Islam, dari
tahun 9 H sampai dengan 14 H. Nama lengkap Sa’ad ialah Sa’ad bin Lubaid Al
Habsy, mempunyai seorang teman bernama Yusuf. Tidak diketahui pasti, apakah
Yusuf itu temanya ketika bersama-sama berlayar dari Ethiopia atau orang Arab
yang sudah ada terlebih dahulu di Kanton karena berdagang.
Kedua orang
itu giat sekali dalam penyiaran agama Islam. Sa’ad berdakwah di daerah Chuan
Chow dan Chang Chow, sedangkan Yusuf di daerah Kanton. Hal ini dapat dibuktikan
dengan kehadiran masjid dengan menara cemerlang dan masjid dengan tanduk satu.
Dua buah masjid ini merupakan masjid tertua di Cina. Masjid dengan cemerlang
yang terdapat di Kanton itu kecuali dipergunakan untuk kepentingan Adzan juga
dijadikan semacam mercusuar oleh kapal-kapal yang berlayar memasuki bandar
kanton itu.
Orang-orang
Arab yang berada di negeri Cina mudah menerima ajaran Islam yang disampaikan
oleh Sa’ad dan Yusuf, karena pada saat sebelum wafat Nabi Muhammad SAW seluruh
orang Arab di semenajung Arabia sudah masuk Islam. Berita ini terdengar sampai ditelinga
mereka. Selain itu ajaran Islam memang dirasa cocok dan menggairahkan bagi
siapapun. Faktor lain juga Sa’ad dan Yusuf meperhatikan sebagai pribadi muslim
yang patut diteladani dikalangan mereka. Orang-orang Arab yang tinggal dinegeri
Cina ini sebenarnya sudah cukup lama dan mereka telah sempat melangsungkan
perkawinan campur (assimilasi) secara meluas. Dengan demikian, agama Islam yang
tersebar di daerah Cina ini tidak hanya terjadi pada orang-orang Arab saja
tetapi juga berkembang dalam lingkungan orang-orang Cina sendiri.
Dari data
sejarah ini dapat diketahui bahwa agama Islam berkembang di negara Cina lebih
dahulu dibanding dengan di negara lain yang berada diluar Arabia. Agama Islam
berkembang di negeri Cina bukan melalui peperangan dan pertumpahan darah tetapi
melalui jalur perdagangan yang dilakukan oleh para pedagang Arab. Mereka selain
berdagang juga mengadakan hubungan yang akrab dengan penduduk setempat sambil
berdakwah kepada mereka.
2.
Perkembangan
Islam di RRC
Pada masa
Khalifah Umar bin Khattab (634-644 M) pasukan Islam, dibawah pimpinan panglima
yang terkenal yaitu Sa’ad bin Abi Waqash, telah dapat menghancurkan
pasukan-pasukan Persia. Pasukan Islam dapat menguasai wilayah Khurasan hingga
sampai ke wilayah suku Turki yang terletak diantara sungai Amu Darya dengan Sir
Darya yang mengakui kekuasaan Cina. Dengan demikian semenjak itu antara Arab
dengan Cina menjadi saling berbatasan dan bertetangga yang tadinya di pisahkan
oleh Imperium Parsi. Kaisar Persi dengan bantuan Kaisar Yong Hui berusaha
merebut kembali daerah-daerah yang telah dikuasai oleh pasukan Islam. Namun
usaha itu gagal karena pasukan Kisrah dapat dihancurkan oleh Panglima Ahnaf bin
Kais at Tamimi dan Kisra Persi sendiri mati terbunuh.terhadap Cina yang telah
membantu Persi Khalifah Utsman bin Affan mengirimkan nota keras yang dibawah
oleh suatu delegasi oleh mantan Panglima Sa’ad bin Abi Waqash. Akhirnya sejak
itu terjalin hubungan yang baik antara Cina dengan pemerintah Islam. Pada masa
Daulat Umayyah (661-705 M) di buka hubungan diplomatik secara resmi antara
pemerintah Islam dengan Dinasty Tong (618-905 M). Pada masa daulat Abbasiyah
pernah terjadi konflik sengait antara Khalifah Abul Abbas As Safah dengan Cina,
tetapi akhirnya kedua pemerintahan itu saling menghormati perjanjian perbatasan
yang telah mereka sepakati. Pada masa Khalifah Al Mansur (754-775 M) di dalam
negeri Cina terjadi gerakan pemberontakan dari salah seorang gubernur yang
tidak puas dengan kebijaksanaan perdana mentri Yang Kuo Chung pada masa kaisar
Hsuan Chung. Pihak pemerintah Cina minta bantuan kepada Khalifah Al Manshur
untuk mengatasi pemberontakan itu dengan pemberontakan berhasil di tumpas.
Waktu
berjalan terus dan gelombang pasang surut pun dialami juga oleh Islam di negeri
Cina. Semenjak tahun 1908 M dan seterusnya pihak Muslim di Cina menjadi lebih
modern da bijaksana dalam mengembangkan ajaran Islam. Pengajian-pengajian yang
tadinya diselenggarakan secara tradisional dalam bentuk kelompok-kelompok
(halaqah) diubah menjadi perguruan tinggi yang modern. Al Imam Wan Kuon telah
membangun perguruan Tinggi yang modern di Peking yang menggairahkan para
pelajar dan mahasiswa untuk mendalami kebudayaan Tiongkok disamping mendalami
Al-Quran. Semenjak pemerintahan republik terbentuk, pihak muslim di Cina
memasuki era baru memperoleh kedudukan yang baik dan bersikap progresif.
Pemerintah republik dan juga pihak-pihak non muslim mulai memperlihatkan
penghargaanya terhadap peranan muslim di dalam membangun republik. Pihak muslim
sudah diakui sebagai salah satu diantara lima suku bangsa di Cina. Bendera
republik yang terdiri atas lima garis horizontal itu mewakili lima suku bangsa
yaitu Merah untuk Han, kuning untuk turunan manchu, biru untuk Mongol, putih
untuk turunan Muslim dan hitam untuk turunan Tibet.
Dewasa ini
pemerintah komunis Cina menamakan seluruh muslim di Cina dengan sebutan suku
bangsa Hui. Konstitusi nasional dengan jelas menjamin kebebasan Agama. Islam
diakui secara resmi sehingga memberikan hak kepada wakil-wakil muslim untuk
duduk di dalam majlis nasional yang dipilih oleh muslim yang berada diseluruh
wilayah Cina.
Sejumlah
besar perguruan Islam didirikan di daerah-daerah yang berpenduduk Islam,
semenjak pembentukan republik. Demikian juga sekolah lanjutan seperti Nort west
College di Peking Ming Teh Secondary School di Yunan, Mu Sing Secondary School
di Hancow, Kun Lung Middle School di Chiang Hai dan Cheng Ta Islamic Normal
School di Tsianan, dan Peking. Buku-buku tentang Islam dan buku-buku lainya
yang mempunyai kaitan dengan Islam berangsur-angsur di revisi dengan melakukan
peninjauan kembali. Sistem pengajaran-pengajaran yang bersifat modrn
diperkenalkan diseluruh perguruan itu. Semua lembaga pendidikan Islam berstatus
swasta, dibiayayai sendiri oleh sumber-sumber yang didapat dari pihak muslim
tanpa bantuan pemerintah. Dalam waktu 32 tahun menjelang tahun 1944 media massa
dipergunakan sebaik-baiknya oleh pihak muslim. Pada waktu itu banyak sekali
buku-buku tentang Islam diterbitkan diantaranya tafsir Al Quran dan kamus Arab
Tiongkok diterbitkan tahun 1950. Selain buku-buku yang diterbitkan di dalam
negri, juga banyak buku-buku impor yang dipasarkan di Cina. Menurut catatan
Cina year book of 1930 jumlah muslim di Cina sebesar 48 juta. Diperkirakan
sekarang mencapai 110 juta jiwa.
Sumber: Departemen Agama RI. 1994. Pendidikan Agama Islam untuk SMA kelas II
No comments:
Post a Comment