Friday, December 14, 2018

Islam di negara-negara ASEAN

Islam di negara-negara ASEAN

1. Perkembangan Islam di Singapura

Singapura ialah suatu negara berbentuk republik sejak 9 Agustus 1965. Sebelum menjadi republik, singapura merupakan bagian dari kerajaan Malaya. Singapura merupakan pulau yang terdiri dari 54 pulau yang dipisahkan oleh Selat Johor dari Malaysia. Ibukota Singapura adalah Singapura. Penduduknya terdiri dari bangsa Cina (80%) dan yang lain bangsa Melayu, Yahudi, Pakistan, Arab, Bengali dan peranakan Eropa. Agama yang dipeluk penduduk Singapura ialah agama Budha, Tao, Islam, Hindu dan Kristen. Jumlah penduduk yang beragama Islam di Singapura menempati rangking ketiga sekitar 20% dari keseluruhan penduduknya.

Di Singapura terdapat suatu Mahkamah Islam yang disebut dengan Mahkamah Syariah Singapura. Mahkamah Syariah ini bertugas untuk mengurusi dan memutuskan segala sesuatau yang berkaitan dengan kegiatan Islam, antara lain tentang Zakat, Wakaf, nikah, perceraian, harta warisan dan lain-lain.

Selain Mahkamah Islam juga terdapat beberapa oraganisasi Islam antara lain seperti PERDAUS (Persatuan Pelajar-Pelajar Agama Dewasa). Organisasi ini menyelenggarakan luar sekolah seperti kursus-kursus keterampilan atau semacam kursus-kursus dakwah. Organisasi ini pernah menyelenggarakan kursus bagi umat Islam yang akan menjalani perkawinan. Kursus ini diselenggarakan karena menurut catatan dari Mahkamah Islam Singapura, tingkat perceraian di kalangan umat Islam menujukkan angka yang tinggi. Kursus ini mula-mula didikuti beberapa orang saja, tetapi lama-lama pesertanya makin bertambah. Usaha ini dianggap cukup berhasil karena sejak diselenggarakan kursus ini dari tahun ke tahun angka perceraian menujukkan penurunan.

Organisasi Islam yang lain dapat dikemukakan misalnya MENDAKI. Organisasi didirikan pada tahun 1981 oleh sembilan orang anggota Parlemen muslim Melayu di negeri itu. Tujuan utamanya ialah meningkatkan status sosial ekonomi masyarakat muslim Singapura yang lemah dan kurang terdidik. Organisasi ini mendapatkan bantuan dari pemerintah. Pada awal tahun 1984 MENDAKI membuka sekolah dengan Kurikulum yang mengacu kepada pendidikan umum yang kurang mengutamakan pendidikan agama. Hal ini agaknya mendapat tantangan dari beberapa kalangan yang menginginkan agar kurikulum yamg ditetapkan dalam sekolah itu tetap mengutamakan pendidikan agama. Ketika itu MENDAKI sudah mempunyai 3000 pelajar.

2. Perkembangan Islam di Thailand

Thailand merupakan negara yang berbentuk kerajaan konstitusional dengan ibukotanya Bangkok. Agama penduduk negeri ini ialah Budhisme, Islam dan Kristen. Penduduk yang beragama Islam diperkirakan lebih kurang 10 %. Thailand terdiri dari 73 propinsi dan umat Islam mendiami wilayah bagian selatan yaitu Pattani, Yala, Marathiwat dan satu. Pada empat daerah ini, umat Islam berjumlah sekitar 80 % . daerah-daerah ini merupakan daerah yang subur dan banyak menghasilkan tambang.

Masyarakat Islam di Pattani pada umumnya adalah keturunan bangsa Melayu, yang taat beragama. Sayangnya pemerintah Thailand yang Budhisme sejak dahulu sampai sekarang kurang meperhatikan nasib umat Islam ini. Mereka dituduh sebagai separatis muslim sehingga pemerintah Thailand selalu memburuh mereka. Separatisme ialah gerakan yang memisahkan diri dari golongan besar, untuk membentuk golongan yang berdiri sendiri. Umat Islam Thailand dibawah pemerintahan Budhisme benar-benar mengalami nasib yang meprihatinkan. Dari segi pendidikan mereka sangat terbelakang, karena mereka hanya diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan sampai ke tingkat SLTA saja. Selebihnya jika mereka ingin meneruskan pelajaran agama, harus berusaha sendiri keluar negri, misalnya ke negara-negara Timur Tengah. Hampir selama dua abad nasib masyarakat muslim Pattani benar-benar terlantar, oleh sebab itu mereka ingin menentukan nasib mereka sendiri. Masyarakat muslim Pattani ingin memisahkan diri dari pemerintah Thailand, tetapi pemerintah Thailand selalu menghalanginya karena daerah – daerah muslim adalah merupakan daerah yang strategis dan tanahnya subur. Masyarakat muslim Pattani yang mengolah tanah dan menghasilkan bahan makanan justru tidak dapat menikmati hasil karyanya, karena yang menikmatinya adalah orang lain.

Pendidikan agama pada umumnya diselenggarakan di pondok-pondok. Orang-orang muslim Pattani yang belajar agama di Timur Tengah setelah kembali ke daerahnya, mereka mendirikan pondok-pondok. Keadaan pondok-pondok yang ada di daerah Pattani bermacam-macam. Ada yang kelihatan masih kuno,baik sistem pendidikan maupun keadaan pondoknya, dan ada yang sudah modrn yaitu dengan sistem pendidikan berjenjang seperti ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Dalam hal ini yang berkaitan dengan kegiatan umat Islam, mereka mempunyai 26 majlis ulama Islam. Majlis ini bertugas untuk mengurus segala sesuatu tentang umat Islam Pattani ialah soal kelangsungan hidup bangsa Melayu. Kelihatanya bahasa Melayu makin hari makin terdesak dengan bahasa resmi pemerintah yaitu bahasa Thai. Namun demikian akhir-akhir ini ada perguruan tinggi yang membuka jurusan pengkajian bahasa Melayu dan pengkajian Islam.

3. Perkembangan Islam di Filipina

Filipina ialah negara di Asia Tenggara berbentuk republik dengan ibukota Manila. Wilayahnya terdiri dari kepulauan yang meliputi lebih dari 7000 pulau di lautan Teduh. Penduduknya beragama Kristen (Katolik Roma) dan Islam. Bahasa resmi negara ini ialah Filipina (Tagalok) dan Inggris. Diantara kepulauan di Filipina, pulau-pulau yang terbesar ialah Luzon dan Mindanao.

Islam masuk di Filipina sejak tahun 1360 melalui Malaysia dan Indonesia. Sejak itu Islam mulai menyebar tidak hanya di Filipina Selatan tetapi juga di bagian tengah dan utara Filipina. Pada permulaan abad ke 15 telah terdapat beberapa kesultanan seperti Mindanau, Bastilan Sulu dan Pahlawan. Kesultanan-kesultanan tersebut merupakan suatu kesatuan seperti sekarang sebagai negara Filipina. Pada tahun 1565 Spanyol sampai di Filipina sebagai penjajah. Orang-orang Spanyol menyebut orang-orang Islam di Filipina dengan sebutan Moro. Sebutan ini berasal dari istilah Moor yaitu sebutan orang-orang Islam di Spanyol oleh orang-orang Katolik. Sampai sekarang orang-orang Islam di Filipina tetap disebut Moro. Kedatangan orang-orang Spanyol ke Filipina selain ingin menguasai Filipina masuk Katolik. Terjadilah pertempuran yang hebat antara Spanyol dan Moro, dan Luzon dapat direbut oleh Spanyol. Dari Luzon Spanyol ingin menghabiskan Islam disebelah Selatan tetapi ternyata muslim disebelah Selatan cukup kuat. Sampai akhir kekuasaan Spanyol di Filipina pada tahun 1898, Spanyol tidak berhasil menguasai Mindanao.

Pada tahun 1891 Filipina dikuasai oleh Amerika Serikat. Kedatangan orang-orang Amerika di Filipina ini sangat merugikan Islam. Amerika pernah memaksa orang-orang Islam di Filipina Selatan supaya membuka tanah mereka untuk kepentingan orang-orang Katolik. Hal ini ditentang oleh orang-orang Islam dan mereka berjuang mempertahankan tanah mereka.

Setelah Filipina merdeka, pemerintah Filipina meneruskan perjuangan Spanyol yaitu ingin menghapuskan Islam dari bumi Filipina sehingga Filipina menjadi 100% Katolik. Orang Islam dianggap sebagai warga negara kelas dua dan orang Islam mendapat perlakuan deskriminasi dalam segala bidang. Dalam bidang pendidikan daerah-daerah Islam sengaja dibuat terbelakang supaya mereka tetap bodoh. Kalaulah pemerintah Filipina mendirikan sekolah-sekolah atau perguruan tinggi Filipina selatan itupun diproritaskan untuk orang-orang Katolik. Anak-anak orang Islam yang ingin masuk ke sekolah atau perguruan tinggi sengaja dipersulit dengan bermacam-macam alasan. Di Filipina dikenal adanya pasukan Ilaga yang dibentuk oleh orang-orang Katolik. Pasukan ini secara terus-menerus menteror umat Islam, membunuhnya, merusak masjid rumah-rumah dan harta benda umat Islam. Aparat keamanan pemerintah Filipina kelihatanya tidak berusaha untuk mencegah perbuatan-perbuatan keji ini. Wilayah yang ditempati muslim ini merupakan daerah subur, sehingga walaupun masyrakat muslim ingin melepaskan diri dari pemerintah Filipina, pemerintah tetap tidak akan melepasnya.

Dalam hal yang berkaitan dengan kepentingan umat Islam di Filipina terdapat mentri urusan agama Islam. Selain itu di Filipina juga terdapat beberapa organisasi Islam antara lain Jamiatut Dakwah Al Islamiyah organisasi ini pernah menyelenggarakan komprensi dakwah Internasional pada tahun 1984 yang dihadiri oleh 1500 delegasi dari mancanegara.

4. Perkembangan Islam di Malaysia

Malaysia ialah suatu negara di Asia Tenggara  terletak di semenajung Malaka dan Kalimantan utara yaitu sabah dan Serawak yang sering disebut Malaysia timur. Malaysia mempunyai 11 negara bagian dengan ibukota Kuala Lumpur. Bahasa resmi Malaysia (Melayu) penduduknya sebagian besar suku Melayu (53%), Cina (35%), India dan Pakistan (10%). Agama mereka Islam, Budhisme, Konghucu, dan Animisme.

Kedudukan agama Islam di Malaysia sebagaimana tercamtum dalam konstitusi Malaysia ialah bahwa agama Islam adalah agama negara atau agama resmi di Malaysia. Namun, demikian konstitusi menjamin agama-agama lain dapat diamalkan dengan aman dan damai diseluruh Malaysia. Tiap-tiap warga negara berhak memeluk dan mengamalkan agamanya masing-masing. Menurut Konstitusi Malaysia, pemerintah melindungi orang-orang Islam pada propaganda agama-agama atau kepercayaan di luar Islam. Anak-anak orang Islam yang bersekolah di sekolah mana pun di seluruh Malaysia tidak boleh diajar agama selain agama Islam. Kalau jumlah anak-anak yang beragama Islam di suatu sekolah lebih dari 15 orang, maka kepada mereka harus diajarkan agama Islam dan disediakan guru untuk mengajarkan agama Islam.

Menurut konstitusi Malaysia juga disebutkan bahwa yang dimaksud dengan orang Melayu ialah orang yang beragama Islam, berbahasa Melayu dan beradat istiadat Melayu. Dalam kenyataan semua orang Melayu beragama Islam. Oleh sebab itu jika ada orang Melayu yang kawin dengan orang yang tidak beragama Islam maka orang itu harus memeluk agama Islam terlebih dahulu. Orang-orang Melayu di Malaysia mempunyai posisi istimewa, antara lain seperti pelayanan umum, beasiswa, dalam pendidikan dan latihan-latihan dan dalam perizinan di bidang perdagangan dan perizinan yang lain.

Dalam melaksanakan dakwah Islam di Malaysia, pemerintah Malaysia pernah minta bantuan kepada pemerintah Indonesia untuk mengirimkan para mubaligh Indonesia memberikan dakwah Islam di Malaysia. Sebagaimana di Indonesia, di Malaysia juga pada setiap departemen atau kantor-kantor pemerintah diadakan Shalat Jum’at dan shalat-shalat lima waktu. Para pejabat tinggi bersama-sama dengan karyawanya menyelenggarakan salat di Musholla kantor yang sudah disediakan. Di dalam usaha penerapan ajaran Islam, di Malaysia sudah didirikan Bank Islam yang diresmikan sendiri oleh perdana Mentri Dr Mahathir Muhammad. Mengngat bahwa penduduk Malaysia selain terdiri dari bahasa Melayu, juga Cina dan India, maka pemerintah Malaysia dalam mencetuskan bank Islam ini sangat hati-hati. Hal ini membuktikan bahwa bank secara Islami pun dapat memerankan peranan dalam dunia perekonomian yang juga dapat menyangga perekonomian negara. Bank Islam ini juga dimaksudkan untuk membela kepantingan umat Islam yang merupakan golongan mayoritasa di Malaysia.

5. Perkembangan Islam di Brunei Darussalam

Negara Brunei terletak di Barat daya Kalimantan, mempunyai wilayah seluas 5.765 Km dengan jumlah penduduk lebih kurang 20.000 orang (sensus tahun 1984). Ibukota negara ini Bandar Sri Bengawan. Penduduknya terdiri dari 60 % orang Melayu dan 23% Cina, agama resminya ialah Islam dan bahasa resminya Melayu. Dahulu kesultanan Brunei memperluas daerah kekuasaanya sampai seluruh Kalimantan dan kepulauan yang sekarang termasuk Fiipina. Pada tahun 1888 Brunei menjadi wilayah Proteksi Inggris, pada tahun 1971 ditetapkan suatu Undang-undang bahwa Brunei mendapatkan pemerintahan sendiri, tetapi dalam beberapa hal masih mempertanggungjawabkan kepada Inggris. Baru pada tanggal 31 Desember 1983 negara Brunai yang kecil itu mendapatkan kemerdekaan penuh dari Inggris. Brunei walaupun negara kecil tetapi termasuk negara paling kaya di dunia. Produksi minyaknya dapat mencapai lebih dari 60 Barrel dan gas alamnya 5 juta ton setahun. Dengan demikian negara ini mengalami pendapatan surplus setiap tahun. Kekayaan minyak yang melimpah ini digunakan untuk membiayai negeri ini.

Untuk melaksanakan kegiatan keagamaan di Brunei ada mentri yang mengurus tentang hal ini sebagaimana yang terdapat di Indonesia yaitu mentri agama. Dalam melaksanakan dakwah Islamiyah, Brunei sering mendatangkan mubaligh-mubalingh dari Indonesia. Selain mubaligh-mubaligh, Brunei juga mendatangkan banyak tenaga pengajar dari Indonesia dalam berbagai disiplin ilmu, terutama ilmu agama dan bahasa Arab. Ada juga mahasiswa dari Brunei yang diberi tugas belajar untuk menuntut ilmu di Indonesia, antara lain seperti di IAIN Jakarta.

Kerjasama dibidang pendidikan agama antara Indonesia dan Brunei pernah juga terjadi yaitu kerjasama antara PTIQ dan IQRA. PTIQ ialah suatu pendidikan tinggi yang mendalami ilmu-ilmu Al Quran terdapat di Jakarta, sedangkan IQRA ialah suatu organisasi yang bergerak dibidang ilmu Al Quran. Kerjasama ini ditandai dengan kunjungan beberapa tokoh muslim Brunai ke PTIQ dan kunjungan beberapa orang PTIQ dan IQRA disertai dengan para Qari terkenal. Dalam naskah kerjasama lain disepakati PTIQ bersedia untuk menyediakan tenaga pengajar ilmu Al Quran,tafsir dan para Mubaligh, sementara dari yayasan IQRA akan mengirimkan beberapa mahasiswa Brunai untuk belajar di PTIQ.



Sumber: Departemen Agama RI. 1994. Pendidikan Agama Islam untuk SMA kelas II

No comments:

Post a Comment

Islam di Benua Afrika

Islam di Afrika Sejak pada masa Rasulullah SAW, sebenarnya telah ada hubungan baik dengan salah satu raja yang terdapat di benua Af...